Kings And Queens

Kings And Queens
Kenapa Richard Tua?



Kediaman Keluarga McGregor


"Appaaaaaa? Richard punya Elle?" pendelik Charlie McGregor dengan mata terbelalak.


"Elle akan menikah sama mas Richard nanti kalau sudah besar!" jawab gadis cilik itu.


"Elle, kamu besar, mas Richard sudah ubanan!" gelak Edward.


"Biarin! Tetap ganteng!" eyel Eléonore yang membuat Alisha terbahak sedangkan Charlie dan Raine hanya bisa melongo melihat bucinnya putri bungsu mereka ke pangeran Inggris itu.


"Astagaaa... Elle, mas Richard pasti sudah punya calonnya... Kalau nunggu kamu, kelamaan. Sekarang mas Richard umur 26 sedangkan kamu baru empat tahun. Bedanya 22 tahun sendiri..." terang Raine ke putrinya yang super ngeyel.


"Banyak ya 22 tahun?" tanya Eléonore polos dengan mata birunya yang belok.


"Kamu hitung saja pakai jarimu" cebik Edward sebal melihat adiknya seperti itu.


Eléonore menghitung dengan jari-jari mungilnya dan menatap Richard. "Banyak ya mas?"


Richard tertawa. "Banyak, Elle."


"Kenapa sih mas Richard sudah tua!" sungut Eléonore sambil bersedekap dan memajukan bibirnya.


"Hah?" Richard yang gantian melongo.


Charlie dan Raine menatap tajam ke putrinya yang tampak cemberut.


"Ampun deh Elle nih!" sungut Edward.


***


Eléonore baru mau tidur setelah didongengi oleh Richard yang membuat pria itu harus pulang agak malam dan para pengawalnya sudah gelisah saja di halaman rumah Charlie McGregor.


"Elle sudah tidur, Rich?" tanya Charlie yang merasa tidak enak ke putra mahkota kerajaan Inggris itu.


"Sudah, Oom" senyum Richard saat keluar dari kamar Eléonore.


"Maaf ya Rich. Tante jadi tidak enak sama kamu" ucap Raine yang kini berada di ruang tengah bersama dengan suaminya dan Alisha. Edward sendiri sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Tidak apa-apa, Tante. Kan Elle biasa seperti itu lagipula dia seperti adik saya sendiri." Richard tersenyum ke semua orang di ruang tengah.


"Kamu sepertinya harus pulang deh! Para pengawal kamu sudah gelisah saja dari tadi" kekeh Charlie yang melihat empat orang pengawal di mobil Range Rover sudah menghabiskan banyak cangkir kopi dan camilan yang disediakan oleh Raine.


"Iya Oom. Apalagi besok harus ke Nottingham."


Alisha berdiri. "Aku antar keluar."


Richard pun berpamitan dengan Charlie dan Raine McGregor lalu berjalan bersama dengan Alisha ke pintu utama.


"Ada kabar dari Opa Rajendra?" tanya Richard ke Alisha.


"Kata mbak Bia sudah baikan. Ada Tante Bee dan Oom Sammy juga kok."


"Syukurlah. Lagian Oom dan Tantemu kan dokter bedah disana."


"Richard, ini Opa Jendra hanya terkena air panas yang tidak parah jadi besok pagi pun sudah pulang kok" kekeh Alisha. "Don't worry."


"Kamu ikut kan ke acara balapan di Silverstone?" tanya Richard sambil menatap lekat gadis berambut hitam di sebelahnya.


"Insyaallah bisa ikut" senyum Alisha.


"Aku jemput nanti."


Alisha tertawa. "Really, Rich? Kamu, jemput aku?"


"Wajar kan? Pangeran menjemput putrinya" kekeh Richard dengan nada ambigu.


"Nanti princess Eléonore cemburu" gelak Alisha yang memang tidak salah karena Eléonore adalah keturunan Emir Al Azzam.


"Ah, dia masih bayi. Aku suka yang sudah besar."


"Apakah kamu sudah punya pacar, Rich? Kalau sudah, jangan sampai dia cemburu."


Richard melongo. Kamu itu memang nggak peka atau memang polos sih Sha? "Well, belum jadi pacar sih tapi aku sudah suka sama cewek yang pintar, lucu, pemberani dan cantik tapi sayangnya aku belum berani mendekati nya."


"Kenapa?" mata coklat Alisha menatap Richard dengan tatapan polos.


"Jangan lama-lama, Rich. Nanti keburu cewek itu diambil orang" senyum Alisha.


What?! Diambil siapa? No way José!


"Ya... kamu benar. Aku harus berani macam Arsya ya?" kekeh Richard.


"Semangat Rich!" ucap Alisha sambil menepuk bahu pria itu memberikan support. Keduanya sudah tiba di mobil Richard dan para pengawalnya sudah bersiap masuk mobil mereka.


"Selalu semangat, Sha. Aku pulang dulu." Richard memeluk Alisha lalu mencium kening gadis itu.


"Kamu mirip mas Arsya kalau begini" kekeh Alisha usai Richard melerai pelukannya.


"Tapi aku bukan Arsya, Sha. Coba sekali-kali kamu melihat aku berbeda dari Arsyanendra" senyum Richard yang membuat Alisha tertegun. Pria itu pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai menstaternya.


"Rich... Jangan bilang..." Alisha membelalakan matanya yang indah.


"Good night, Alisha. Have a nice dream" senyum Richard sambil memundurkan mobilnya dan tak lama dua mobil itu keluar melewati gerbang rumah keluarga McGregor.


Alisha masih berdiri di tempatnya dan hanya menggelengkan kepalanya. Nggak ah! Mana mungkin Richard suka padaku?! Lagian aku menganggap dia sebagai kakak aku. Alisha pun berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah.


***


Alisha bersiap untuk berangkat ke kampus dan sedang sarapan bersama dengan keluarga McGregor.


"Kamu nanti berangkat sama Tantemu dulu, Sha sambil menghapal jalan daripada kamu bingung lihat google map. Lebih enak begitu kan?" ucap Charlie.


"Iya Oom. Lagipula aku belum hapal jalan London."


"Apa kamu mau pakai sopir?" tanya Raine.


"Tidak usah Tante. Aku lebih suka nyetir sendiri nanti seperti jaman di Jerman."


"Ya sudah. Nanti kamu pakai mobil yang di garasi Oom."


Alisha mengangguk. Edward dan Eléonore hanya melihat kedua orangtuanya dan kakaknya membahas soal Alisha.


***


University College London


Alisha turun dari mobil Raine yang mengantarkan keponakannya ke kampus yang jaraknya menempuh sekitar dua puluh menit.


Tadi di dalam mobil Raine bertanya mengapa Alisha tidak satu apartemen dengan Rania, putri Blaze Bianchi dan Samuel Prasetyo.


"Tante, apa Tante lupa aku anaknya siapa?" kekeh Alisha.


"Ah iya! Mana gosip soal kamu dan Richard kemarin juga heboh! Kasihan Rania nanti, bawa suntikan bius kemana-mana" gelak Raine.


"Louis saja sampai sebal pas kena hamstringnya sewaktu main sepakbola dan dirawat mbak Rania. Isinya dimarahi melulu" gelak Alisha.


"Rania tuh ngawur! Louis kan pangeran Inggris, calon raja garis kedua setelah Richard, malah dimarahi!" Raine hanya terkekeh karena tidak heran mengingat siapa kedua orangtuanya Rania.


Dan kini Alisha berjalan menuju kampusnya dan mata coklatnya melihat kakak perempuannya sedang bertengkar dengan seorang pria tampan berbadan besar.


Entah kenapa, pria itu santai saja diomeli oleh kakak perempuannya yang dikenal galak, brutal dan tukang berkelahi di sekolah.


"Mbak Rani!" panggil Alisha membuat dua orang itu menoleh.


"Alisha! Astaghfirullah aku sampai lupa gara-gara ada penampakan makhluk jadi-jadian! Duh maaf ya harusnya mbak jemput kamu di rumah Oom Eagle tapi tadi pagi ada pasien urgent terus mau jemput, ketemu demit itu!" cerocos Rania Blair Prasetyo sambil memeluk adiknya.


"Mbak, kalau ngomong dijeda kenapa? Lagian aku nggak di Oom Eagle tapi Oom Charlie" kekeh Alisha.


"Ah iya, Oom Eagle harus ke New York ya?" Rania melerai pelukannya. "Yuk mbak antar ke bagian administrasi." Gadis berambut coklat tua itu lalu menggandeng Alisha meninggalkan pria bermata biru yang terbengong-bengong.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️