
British Royal Hospital London
"Kak Billy, enak nggak rotinya?" tanya Eléonore.
"Enak. Siapa yang buat?" tanya Billy.
"Elle lah!" jawab gadis cilik itu sambil mendongak gaya angkuhnya yang membuat Billy tertawa.
"Kecil-kecil jangan suka bohong..." tegur Alisha. "Mana pernah kamu mau masuk ke dapur, Elle? Tahunya cuma terima jadi makan saja."
Eléonore cemberut karena kakaknya membuka kejelekannya. "Mbak Alisha tuh!"
"Yang buat rotinya itu Tante kami yang bernama Tante Elane. Elle hanya memesan saja." Alisha menatap Billy lembut. "Bagaimana kepala kamu, Billy? Apakah masih pusing?"
"Sudah mendingan. Kata dokter Rania, Minggu depan bisa pulang..."
"Eh! Jangan dulu!" potong Eléonore.
"Kenapa?" tanya Alisha bingung.
"Elle kan mau ulang tahun besok Sabtu. Elle maunya dirayain disini, sama kak Billy, mbak Alisha, mbak Rania dan mbak Biana."
"Edward nggak kamu ajak?" goda Alisha.
"Sama mas Edward juga. Dan mas Richard."
"Kalau Richard kan harus menyesuaikan jadwal, Elle."
"Kalau Elle yang minta, pasti mas Richard mau!" ucap Eléonore yakin.
Billy tersenyum. "Ternyata punya saudara perempuan itu ramai ya my Lady."
"Dia saja sih yang cerewet" kekeh Alisha membuat Eléonore manyun kembali.
"My Lady, apakah di Dubai kotanya indah?"
"Dubai itu memang indah tapi sama dengan kota - kota besar lainnya, ada yang indah ada yang gelap. Jadi kamu nurut dengan Oom Gabriel dan Tante Garvita serta Galena ya. Insyaallah, jalan kamu akan baik-baik saja." Alisha mengelus kepala Billy sayang.
"Terimakasih my lady."
Alisha mengangguk. "Yuk Elle, kita pulang. Sudah selesai jam besuknya. Kamu besok sekolah lho."
Eléonore mengangguk. "Kak Billy, Elle pulang dulu. Besok Elle kemari lagi."
"Terimakasih Elle, terimakasih my lady."
"Cepat sembuh dan bisa segera ke Dubai" balas Alisha.
***
Sejak itu setiap sore pulang sekolah, Eléonore selalu datang ke rumah sakit untuk menemui Billy sampai Rania dan Alisha menggelengkan kepalanya karena biasanya Eléonore paling tidak suka berhandai-handai dengan orang asing. Gadis cilik itu dikenal paling pilih - pilih teman.
Entah kenapa dengan Billy, keduanya bisa cocok bahkan Eléonore bisa bercerita apa saja tanpa ada gaya angkuh yang biasa diperlihatkan.
"Sha, apa si Elle naksir Billy?" tanya Rania saat melihat Billy membantu Eléonore membuat pekerjaan rumahnya. Kedua kakak balita cantik itu memang sedang menemani di kamar Billy.
"Kalau suka kan berarti Elle normal lah... Addduuuhhh!" Alisha mengaduh saat lengannya dicubit oleh Rania.
"Si centil itu normal, Cumiiii! Wong dia ngejar-ngejar si pangeran satu itu!" geram Rania kesal.
Alisha tertawa mendengar Omelan kakaknya. "Bagaimana kabar Chris?"
"Embuh ( Entah ). Emang harus aku perduli gitu?"
"Ya Allah mbak, kok gitu banget sih sama Chris?" Alisha merasa gemas dengan kakaknya. Kata Arsyanendra, baik Chris Armstrong maupun Leonardo Rossi, semua sudah lolos screening Oom Giordano Smith. Tapi memang mbak Ranianya saja yang masih sok gengsi.
"Kok jadi kamu yang ribut sih? Oh, ngomong-ngomong Arsya kapan resmi sama Violet?"
"Insyaallah tahun ini sih, soalnya mbak Vio sudah dapat penggantinya di tempatnya bekerja."
"Iya tapi memilih menjadi dokter militer angkatan bersenjata Spanyol. Sekarang sedang ditugaskan ke perbatasan antara India dan Pakistan membantu tim perdamaian disana. Mas Arsya yang bilang."
"Kalian berempat itu ya, Arsya, Richard, Violet dan Adonia itu empat pangeran dan putri yang memilih bekerja di bidang sipil. Apa kalian bosan dengan kehidupan di istana? Padahal banyak orang yang ingin menjadi putri atau pangeran macam kalian."
"Padahal kalau tahu aslinya... Pasti ogah. Banyak aturan dan manner serta etiquette... Haaaaahhh, capek. Tapi mommy juga sama. Pernah aku sama mommy buat nasi ayam goreng kremes plus sambal lalapan. Dan kita, aku, mommy, Daddy, mas Arsya dan Avaro, duduk diatas karpet gelar makanan itu dan kita makan pakai tangan! Tahu nggak, kepala pelayan seperti mau pingsan melihat kita yang no manner at all. Malah mas Arsya makan dengan jegang kaki macam di warteg..."
Rania melongo. "What? Ya wajar kalau kepala pelayan hampir pingsan! Mana ada bule makan model begitu, Sha!"
"Hanya keluarga kita saja deh mbak yang bodo amat sama aturan ya?"
"Tapi memang sudah mendarah daging sih..." gumam Rania. Ya Allah, leluhur aku kok ya gini amat ya nurunin kelakuan dan gen. Positif nya membuat kita jadi pribadi yang kuat dan tangguh, negatifnya... kebablasan brutalnya.
***
Sabtu, Hari Ulang Tahun Eléonore
Gadis cilik itu sudah tidak sabar untuk pergi ke rumah sakit untuk merayakan hari ulang tahunnya yang kelima. Eléonore tampak cantik dengan gaun dari Burberry, salah satu brand favorit nya dan sekarang merasa kesal karena kedua orangtuanya dan kakaknya tampak ogah-ogahan.
"Ayo berangkat!" teriaknya ke anggota keluarganya.
"Ya Allah Elle, jangan teriak - teriak! Anak gadis kok kelakuannya bar - bar sih!" tegur Charles sebal. Akhirnya mereka semua berangkat ke rumah sakit dengan membawa banyak makanan. Alisha sudah berangkat bersama Rania dan Biana karena malam sebelumnya menginap di apartemen kakaknya itu.
"Apa Elle yakin cuma dirayain di rumah sakit?" tanya Raine sekali lagi.
"Iya mommy. Kan habis ini Elle nggak ketemu kak Billy. Kata mbak Rania, besok sudah boleh pulang ke rumah Oom Eagle terus Senin berangkat ke Dubai."
"Gabriel bilang kalau proses adopsinya sudah selesai dan berjalan lancar. Jadi Senin mereka semua sudah kembali ke Dubai" sahut Charles ke istrinya.
"Oh pantas anak centil satu ini heboh. Mau kehilangan teman, rupanya" kekeh Raine.
"Tumben dia bisa punya teman. Biasanya paling songong di sekolah" ejek Edward.
"Karena Elle ulang tahun hari ini, Elle nggak mau marah-marah. Nanti dandanan Elle rusak."
Charles menatap wajah putrinya yang cantik dari kaca spion sedang mendongakkan dagunya dengan gaya angkuhnya. Ya ampun, nurun siapa sih?
***
Sesampainya di rumah sakit, Eléonore langsung menuju kamar Billy dan disana sudah ada ketiga kakaknya bersama dengan Angelie Jha. Eléonore langsung Salim ke Angelie. Meskipun balita itu sering seenaknya sendiri, tapi soal manner dia sangat patuh terutama dengan orang tua.
"Duh yang ulang tahun langsung centil" goda Biana.
"Iya dong!" balas Eléonore.
Ketiga kakaknya langsung memberikan peluk cium ke sepupu cilik mereka. Suasana semakin ramai ketika keluarga Dubai datang sambil membawa hadiah untuk Eléonore.
Gadis cilik itu tampak senang merayakan ulangtahun bersama dengan keluarganya dan Billy yang sudah dianggap sebagai kakaknya macam Edward.
Billy yang selama setahun ini tidak merasakan kebahagiaan, hari ini seolah mendapatkan sesuatu yang hilang. Diam - diam bocah berusia sepuluh tahun itu menitikkan air mata melihat bagaimana keluarga barunya sangat hangat satu sama lainnya.
"Kak Billy jangan nangis... Jelek tahu!" celetuk Eléonore membuat Billy tertawa kecil.
"Selamat ulangtahun Elle. Mau minta hadiah apa? Tapi jangan mahal-mahal."
"Gampang. Nanti Elle tagih lima belas tahun lagi."
Billy melongo.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️