Kings And Queens

Kings And Queens
Dipasangkan Saja



Kensington Palace London Inggris


Richard memegang tengkuknya, pertanda dia gugup ketahuan perhatian yang sedikit berlebihan ke Alisha. Tapi dorongan hatinya tidak bisa ditahannya setiap berdekatan dengan Alisha.


"Tapi memang ada tepung di hidung Alisha..." ucap Richard dengan wajah sok cool berusaha menutup rasa gugupnya. Pelatihan di istana yang tidak boleh menunjukkan emosi, membuat Richard bisa merubah wajahnya menjadi dingin di hadapan semua orang.


Damn it! Aku selalu receh di depan Alisha.


"Thanks Rich. Setidaknya bedak aku tidak putih di hidung" senyum Alisha berusaha menetralisir keadaan. "Richard itu seperti kakak aku, prince Arsya, yang suka usil dengan adiknya."


Richard menoleh ke arah Alisha meskipun hanya dua detik, tapi gadis itu melihat ada raut kecewa disana.


Kamu tuh gimana sih Rich! Aku mencoba supaya tidak ada gosip heboh! Mata coklat Alisha menatap dingin ke arah Richard.


"Yuk, kita lanjutkan acaranya. Richard dan Alisha memang seperti itu kalau bertemu. Maklum ingin punya adik perempuan tidak kesampaian dan mereka juga sudah mengenal dari kecil" potong Medeline agar menghilangkan rasa canggung dua anak manusia disana.


Semua Oma hanya tersenyum simpul karena bisa melihat bagaimana Richard menyukai putri Belgia itu. Sang pangeran itu pun memilih bergabung dengan para dokter dan perawat yang mendampingi para lansia. Sekuat tenaga Richard berusaha untuk tidak menoleh saat mendengar tawa Alisha bersama dengan para Oma.


Duh! Kapan acara ini selesainya?


***


Acara makan siang pun diadakan oleh pihak istana sedangkan dessert adalah kue - kue yang dibuat tadi oleh para Oma bersama dengan Medeline dan Alisha.


Seperti biasa Henry dan Medeline duduk berdampingan sedangkan Alisha bersebelahan dengan Richard. Seharusnya secara protokoler, Alisha duduk di sebelah Medeline tapi tadi dirinya meminta sekretaris istana mengganti posisi duduknya.


Alisha yang tidak tahu perubahan tempat, hanya menatap datar ke arah Richard yang hanya tersenyum tipis saat tahu dirinya pindah posisi duduknya.


"Kok aku dipindah sini? Bukannya aku harusnya duduk sebelah Tante Medeline ya?" bisik Alisha ke Richard yang berdiri sambil menunggu gadis itu duduk.


"Pindah sini kan tak apa Sha" bisik Richard.


"Dasar!" sungut Alisha sambil manyun.


Duh, Sha! Itu bibir jangan maju dong! Gemes tahu nggak!


Acara makan siang tampak meriah apalagi para Oma tampak senang menikmati hidangan yang disajikan koki istana. Medeline tahu kalau Alisha hanya bisa makanan halal, dan gadis itu sangat menghargai kebijakan tantenya itu.


Richard sendiri hanya menanggapi seperlunya percakapan disana, berbanding terbalik dengan Alisha yang mirip dengan mummynya, Medeline, yang dikenal sebagai ratu Inggris yang humble.


Richard melihat kesempatan saat Alisha mengobrol dengan kedua tangannya di bawah meja, pria itu langsung menggenggam tangan gadis itu.


Alisha sempat terkejut sekian detik tapi menjadi seorang princess yang terbiasa menjaga emosi, dirinya bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


Wajah Alisha sedikit memerah ketika jempol Richard mengelus pelan tangannya sedangkan pelakunya hanya menatap lurus seolah tidak terjadi apa-apa.


"Nah, sekarang dessert." Raja Henry tampak tidak sabar untuk mencicipi banyaknya kue-kue yang dibuat para Oma, istrinya Medeline dan Alisha.


"Aku mau brownies mu" pinta Richard saat dessert disajikan di meja.


"Tadi kan sudah!"


"Shaaa... pleeaaassseeee" pinta Richard yang mirip dengan sang kakak Arsyanendra jika meminta sesuatu.


"Aku curiga kamu belajar dari mas Arsya" gerutu Alisha sambil mengambil kan satu potong brownies dan satu potong pie daging.


"Hei, aku besar bersama Arsya jadi aku tahu tiga phase ajaran Oom kamu" kekeh Richard.


"What? Kok tahu? Siapa yang kasih tahu? Mas Arsya?" cecar Alisha.


"Nope. Alvaro yang bilang."


Alisha semakin cemberut. "Itu kan rahasia keluarga aku..."


"Ya ampun Sha, bukankah kami bagian dari keluarga kamu seperti kamu bagian dari keluarga kami?" senyum Richard. Setelahnya wajah pangeran itu menjadi dingin lagi setelah banyaknya pasang mata yang menatap kepo ke dirinya dan Alisha.


"My Prince, kenapa tidak segera diresmikan saja hubungan kalian? Kami melihatnya merasa gemas..." celetuk salah satu Oma.


"Lagian kalian berdua tampak serasi" timpal yang lain.


"Your Majesty, kami setuju jika suatu saat ada royal wedding antara prince Richard dan princess Alisha" sahut yang lain.


"Semuanya saya serahkan ke Richard dan Alisha" jawab Raja Henry. "Mereka memang sudah mengenal dari kecil jadi kami sudah terbiasa melihat interaksi keduanya seperti itu. Lagipula, Alisha selalu menganggap Richard seperti kakaknya Arsyanendra."


"Sudah, dengan Princess Violeta from Holland" jawab Alisha sambil tersenyum.


"Wah, akhirnya dengan putri bermata ungu itu?"


"Iya. Prince Arsya berpacaran dengan princess Violeta" timpal Medeline.


"Belgia dan Belanda sudah, tinggal Inggris dan Belgia" ujar salah satu Opa.


Alisha hanya tersenyum manis tapi Richard tahu kalau gadis itu tidak nyaman dirinya dijodohkan dengannya.


Kamu memang harus bersabar mengganti pemikiran Alisha yang menganggap dirimu seperti Arsya, Rich.


***


Hari Minggu adalah hari santai bagi semua orang termasuk Alisha yang sedang sarapan bersama dengan keluarga Carrington. Tiba-tiba salah satu pelayan mendatangi ruang makan dengan membawa ponsel Alisha.


"Maafkan saya my lady, tapi ponsel anda berdering tanpa henti. Saya takut kalau ada hal penting" ucap pelayan itu takut-takut karena dia yang bagian membersihkan kamar Alisha.


"Tidak apa, Mary. Mungkin memang penting" ucap Medeline.


Pelayan bernama Mary itu menyerahkan ponsel Alisha dan gadis itu mengernyitkan dahinya melihat siapa yang menelpon.


"Excuse me." Alisha pun berdiri sambil mengangguk hormat dan pergi meninggalkan meja makan.


Richard menatap cemas ke arah Alisha yang tampak serius lalu menoleh ke arah Henry dan Medeline.


"Apakah ada sesuatu terjadi di Belgia? Tapi aku tidak mendengar berita apapun" gumam Medeline.


"Coba nanti kamu telepon Zee." Henry mengelus lengan Medeline.


"Yes darling."


***


"Assalamualaikum..." sapa Alisha.


"Wa'alaikum salam. Kamu dimana dik? Aku telpon dari tadi nggak diangkat - angkat!" omel suara di seberang.


"Lagi sarapan di Kensington" jawab Alisha apa adanya.


"Kensington? Kensington? Rumahnya Raja Henry dan Ratu Medeline? Shut up!" seru suara itu.


"Lho beneran mbak. Aku di Kensington. Mbak Bia dimana?" tanya Alisha yang pusing mendengar celotehan kakaknya yang merupakan putri agen FBI Pedro Pascal dan Nadira McCloud.


"Aku di apartemen Rania. Ngumpet!"


"Hah? Kenapa? Dikejar mahasiswa berondong?" kekeh Alisha ke kakaknya yang menjadi dosen seperti sang mommy .


"Iya! Duh, ampun deh! Kenapa sih aku dan Rania dikejar-kejar cowok nggak jelas !" gerutu gadis cantik yang sama bar-bar nya dengan Rania apalagi usia mereka sebaya karena orang tua mereka menikah di tahun yang sama hanya beda bulan. ( Baca The Bianchis ).


"Siapa mbak? Si singa gurun?" gelak Alisha.


"Siapa lagi!" cebiknya kesal.



Kisah Mereka akan muncul di The Cowboy Who Loves Me



***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️