Kings And Queens

Kings And Queens
Richard Datang



British Royal Hospital London Inggris


Alex Darling lalu mengkopi semua rekaman CCTV dari MacBook Alisha ke flashdisk miliknya. Setelahnya chief Superintendent itu undur diri dan Rania akan mengantarkan pria berambut blonde itu usai memeriksa kondisi Billy.


"Aku antar Alex dulu ya Sha. Billy, kamu bersama Princess Alisha ya. Dokter Rania hendak mengurus semuanya dulu" ucap Rania lembut ke Billy.


"I..ya dokter" jawab Billy pelan sambil menahan sakit.


Rania menepuk bahu adiknya dan keluar dari ruang rawat Billy. Setelahnya Alisha menatap bocah malang itu. "Ceritakan bagaimana kamu bisa jatuh, Billy?"


"Aku... hendak ... turun tangga... tapi sepertinya ada yang mendorong aku... Setelahnya...aku tidak ingat apa-apa lagi..." jawab Billy.


"Billy, apa kamu ingat saat aku hendak memasang CCTV?" tanya Alisha pelan yang dijawab anggukan bocah itu. "Dari rekaman itu, terlihat apa yang sebenarnya terjadi..."


Mata Billy terbelalak. "Siapa, my lady..."


Alisha menghela nafas panjang. "Nenekmu."


Billy tampak lemas dan setelahnya menangis. "My lady... aku ingin pergi... Pergi menjauh dari nenek itu..."


Alisha menggenggam tangan Billy. "Maukah kamu ikut dengan adikku di Dubai? Dia ingin seorang adik laki-laki."


Billy mengangguk antusias. "Bawa aku pergi dari sini my lady..."


Alisha mengangguk. "Kamu tenang saja. Aku akan usahakan yang terbaik untukmu."


***


Rania mengantarkan Alex ke pintu keluar rumah sakit dan sepanjang perjalanan keduanya saling diam.


"Ran, apa kamu masih lama tinggal di London?" tanya Alex yang tidak tahan keduanya diam.


"Kenapa? Kamu mau usir aku dari London?" balas Rania judes.


"Nggak, hanya bertanya. Ampun deh!" kekeh Alex.


"Aku masih terikat kontrak disini lagipula studiku di bedah kurang sedikit lagi." Rania terdiam ketika suara ponselnya berbunyi. "Tunggu bentar, aku terima dulu. Halo?"


"Rania! Kamu dimana?"


"Ya ampun Demit! Aku di rumah sakit lah!" balas Rania judes.


"Aku tidak bisa tidur..." ucap Chris.


"Minum obat tidur."


"Nanti tidak lolos tes doping."


"Ya sudah, valium."


"Sama saja Raniaaaa!" ucap Chris gemas.


"Ran, aku pulang dulu. Harus menginterogasi si nenek sihir" ucap Alex sambil tersenyum saat mereka sudah tiba di pintu keluar rumah sakit.


"Thanks Darling! Aku tunggu gajimu masuk ke rekening aku" seringai Rania.


"Darling? Darling?! Kamu berani memanggil pria lain Darling sedangkan kamu manggil aku Demit?! Dan apa itu gaji masuk ke rekening kamu?" protes Chris kesal dan cemburu.


"Iiissshh diam dulu Armstrong! Alex Darling, aku tunggu perkembangannya ya. Alisha ingin segera nenek gayung itu mendapatkan hukumannya yang setimpal!" ucap Rania saat Alex hendak masuk ke dalam mobil.


"Absolutely. Bye Rania." Alex melambaikan tangannya.


"Raniaaaa! Siapa pria yang bernama Alex dan kamu panggil Darling! Kamu benar-benar membuat aku tidak bisa tidur! Kalau kamu tidak memberi penjelasan..."


"Shut up Chris! Diam dulu! Dia namanya Alex Darling. Iya nama belakangnya Darling jadi sering salah tanggap. Dia Chief Superintendent di Scotland Yard dan sedang mengurus kasus yang melibatkan Alisha" jawab Rania gemas.


"Princess kenapa lagi?" suara Chris terdengar lebih melunak.


"Salah satu anak yang menjadi kliennya jatuh dari tangga dan Alisha menemukan bukti bahwa anak itu didorong oleh seseorang. Dan Alex datang mengambil bukti karena saksi dan tersangka saling adu mulut."


"Rania, apakah kamu sangat mengenal pria bernama Barking itu?" tanya Chris.


Rania tersenyum mendengar nama belakang Alex diganti oleh Chris. "Dia kakak kelasku di Tim debat kampus. Kenapa? Apakah kamu cemburu Demit?"


"Sangat!"


Rania terbahak. "You're not my boyfriend. Kita tidak memiliki hubungan spesial, Demit."


"Astagaaa! Kamu kepedean!" sungut Rania.


"Aku kan memang selalu pede!" balas Chris jumawa. "Sekarang bagaimana aku bisa tidur ini?"


"Dzikir!" jawab Rania tegas.


"Hah?"


***


Alisha menemani Billy hingga terlelap bahkan dengan telaten dirinya menyuapi makan siang anak itu. Jossie tampak salut dengan putri Belgia itu yang tidak memikirkan bahwa sebenarnya ini bukan tugasnya tapi tugas perawat.


"Your Highness... Ponsel anda bergetar terus." Jossie menyerahkan ponsel itu ke Alisha yang menerimanya.


"Terima kasih Jossie." Alisha melihat siapa yang menelpon lalu menjawabnya. "Halo, Richard."


"Kamu dimana sayang?"


"Di rumah sakit" jawab Alisha sambil berbisik.


"Kamu kenapa?" terdengar suara Richard sangat khawatir.


"Tidak apa-apa..." jawab Alisha pelan.


"Aku kesana!" Richard lalu menutup panggilan teleponnya.


Alisha hanya bisa menghembuskan nafasnya. Dirinya benar-benar sangat lelah.


***


Jossie menunggu kedatangan Pangeran Richard di lobby rumah sakit dan benar pangeran tampan itu langsung datang dengan pengawal di belakang nya. Jossie membungkuk hormat ke Richard yang mengenali gadis itu sebagai pengawal Alisha.


"Dimana Alisha?" tanya Richard tidak sabar. Mendengar suara gadisnya tadi, Richard tahu ada sesuatu yang tidak beres. Alisha tidak pernah seperti ini sebelumnya dan membuat dirinya sangat khawatir. Jika Sean tahu putrinya ada yang menyakitinya, bisa perang antara Inggris dan Belgia.


"Mari your highness, saya antar" ajak Jossie yang berjalan lebih dahulu menuju lift.


Richard merasa bingung usai keluar lift menuju ruang rawat inap VIP dan mata birunya melihat Alisha duduk di sebelah seorang anak laki-laki yang terbalut perban dan gips. Siapa anak laki-laki itu?


"Alisha..." panggil Richard pelan.


Gadis itu menoleh dan tersenyum sendu ke Richard.


"Ini siapa?" bisik pangeran Inggris itu.


"Kita bicara di ruangan aku saja ya." Alisha bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Richard lalu menggamit lengan pria itu. "Jossie, tolong kamu jaga Billy ya. Aku tidak akan lama."


"Yes your highness." Jossie lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu sedangkan Richard memberikan kode ke salah satu pengawalnya untuk berjaga di depan kamar VIP itu sedangkan satunya tetap mengawal dirinya dan Alisha.


Tak lama mereka pun tiba di ruangan Alisha. Mary yang berjaga disana pun memilih keluar, memberikan privacy ke pasangan pangeran dan putri itu.


***


"Sekarang, ceritakan padaku. Ada apa?" tanya Richard yang duduk berhadapan dengan Alisha. Pria itu menggenggam kedua tangan gadisnya.


Alisha mulai bercerita secara urut dan terperinci kronologis kenapa dia sangat concern dengan kasus Billy Gallagher hingga dia memasang CCTV di flat nenek Billy.


Mata Richard berkilat marah ketika Alisha menceritakan bagaimana nenek nya mendorong Billy hingga dalam kondisi sekarang. Dan tadi dirinya serta Rania sudah menyerahkan bukti dari CCTV yang dipasangnya.


"Lalu sekarang Chief Superintendent Alex Darling sedang mengurus semuanya?" tanya Richard lembut.


Alisha mengangguk. "Aku hanya tidak mau menjadi polemik karena aku memasang CCTV itu secara diam-diam."


"Sayang, tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Percaya padaku." Richard lalu memeluk Alisha. "Kamu sudah berbuat banyak dan aku yakin Billy sangat berterimakasih padamu."


Alisha hanya mengangguk dalam pelukan Richard.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️