Kings And Queens

Kings And Queens
Kita Jalani Saja Dulu



Ruang Resident British Royal Hospital London


Alisha masih cekikikan melihat wajah kesal kakaknya yang dikoreksi tentang warna darah kadal. Richard tersenyum melihat wajah cantik itu tampak bahagia bisa menggoda kakaknya yang dikenal dokter bar-bar.


"Sudah dong Sha, mbak Rani lagi Googling nih warna darah kadal" sungut Rania sambil membuka ponselnya. "Huweeee beneran darahnya hijau! Kamu tahu dari siapa Sha?"


"Dikasih lihat Tante Mintang. Kan Tante kapan tuh liburan ke Brussels terus Alvaro nemuin kadal yang terluka terus diobati Tante Mintang dan ternyata warna darahnya hijau..." jawab Alisha. "Rata-rata memang kadal darahnya bewarna gelap. Kata Tante Mintang  'Warna hijau pada kadal ini diakibatkan oleh jumlah zat biliverdin atau pigmen empedu hijau yang tinggi' jadi begitulah... Macam Avatar lah."


"Owalaahhh pantas kamu tahu wong diajari sama ahlinya..." Rania menatap ke arah Richard yang tidak lepas menatap Alisha. "Your Highness, matanya dikondisikan ya, tolong."


Richard menoleh ke arah Rania yang sedang duduk santai sambil menenggak minuman nya. Mata birunya menatap tajam ke arah sepupu Arsyanendra itu.


"Kamu itu cerewet, Rania."


"Hei, kalau aku tidak cerewet, berarti aku sedang tidak enak badan, belum makan, dompet menangis dan sedang masa periode. Kalau aku cerewet seperti ini, berarti aku sehat wal Afiat" balas Rania cuek. Gadis itu tidak ada takutnya ke Richard. karena baginya meskipun dia pangeran tetap saja manusia.


"Alisha, yuk kita pulang. Kamu aku antar ke rumah Oom Charlie" ucap Richard sambil mengulurkan tangannya ke Alisha.


Kali ini Alisha tidak menolak dan menerima tangan Richard. "Mbak, aku tinggal nggak papa?"


"Tinggal saja, daripada pangeran satu ini semakin bikin rusuh di rumah sakit!" jawab Rania.


"Rania, jangan kamu marahi Louis. Dia benar-benar sakit waktu kena hamstringnya" tegur Richard sambil tersenyum.


"Hei, dia menangis saat mau kusuntik! Apa salah kalau aku marahi?"


"Louis takut jarum suntik, Rania" kekeh Richard yang membuat gadis itu melongo.


"No way!" seru Rania tidak percaya pangeran cool itu takut jarum suntik.


"Way, jadi kalau dia harus disuntik, biasanya dilakukan private agar hanya dia dan dokter yang tahu kalau dia nangis lihat jarum suntik. Aku cerita seperti ini hanya kalian yang tahu." Richard menatap Rania. "Rahasia pasien, Rania. Jangan macam-macam kamu."


"Iya tuanku yang mulia pangeran Richard of England" jawab Rania sambil menekuk sebelah kakinya untuk memberi hormat.


"Sudah barang bawaannya?" tanya Richard ke Alisha.


"Sudah Richard."


"Kami pulang dulu, Rania."


"Hati - hati, langsung ke Chelsea jangan mampir ke Kensington ya" goda Rania.


Richard tersenyum smirk sedangkan Alisha melambaikan tangannya ke kakaknya. Kedua pangeran dan putri itu pun keluar dari ruang resident sambil bergandengan tangan. Asisten dan pengawal mereka pun mengikuti dari belakang sedangkan para pegawai rumah sakit mengangguk hormat tidak berani berkomentar apapun.


"Reden sie schlecht über dich ( apakah mereka berghibah tentangmu )?" tanya Richard dengan bahasa Jerman agar tidak ada yang tahu.


"Ich bin daran gewöhnt. Ist das Risiko, eine Prinzessin zu sein, nicht immer wieder Gegenstand von Diskussionen ( Aku sudah terbiasa. Bukankah resiko menjadi putri raja menjadi obyek pembicaraan )?" jawab Alisha tenang.


Richard merangkul bahu Alisha sayang. "Du bist stark Schatz ( kamu kuat sayang )" bisik Richard.


"I have too. Tapi mau gimana lagi, Rich" senyum Alisha.


Keduanya pun masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan lampu Blitz dari para paparazzi yang tahu putri Belgia dijemput oleh pangeran Inggris.


***


"Tadi di rumah sakit kamu ngapain saja?" tanya Richard sambil memegang tangan Alisha. Gadis itu seperti bersama Arsyanendra karena kakaknya itu juga melakukan hal yang sama jika datang menjemput dirinya pulang sekolah dulu.


"Well, tadi aku ke bangsal anak-anak karena di Belgia, mommy selalu mengajak aku kesana kalau ada acara kerajaan ke rumah sakit. Jadi tadi aku bilang sama mbak Rania untuk ke bangsal anak-anak."


"Hah?! Bagaimana..."


"Bangsal anak-anak itu memang membuat kita sedih, Alisha. Aku merasakan hal yang sama saat dulu bersama mummy kesana." Richard mengusap pipi Alisha. "Lagipula, mata kamu sedikit bengkak."


Alisha melongo. "Richard, kamu kok seperti mas Arsya sih?! Tahu saja apa yang terjadi padaku."


"Well, mungkin aku sudah mengenal mu sama dengan Arsya. Dengar Alisha, aku sudah bersama kamu sejak kamu bayi. Bahkan aku main bersama mu saat acara akikah." Richard tersenyum lembut. "Jadi aku mempunyai kebiasaan yang mirip dengan Arsya tapi bedanya aku bukan Arsya, bukan kakak kandung kamu."


"Richard, apakah... Yang semalam..." Mata coklat Alisha menatap bingung ke arah Richard.


"Pikirkan sendiri Alisha. Kamu kan anak psikologi, masa tidak bisa membaca tanda-tanda."


"Tapi Rich..."


"Alisha, aku tidak meminta kamu menjawab sekarang tapi aku minta kamu menerima perubahan rasa yang selama ini selalu kamu bandingkan dengan Arsyanendra. Kalau kamu masih tidak yakin, kita berjalan bersama-sama, saling menyelami perasaan masing-masing." Richard menyelipkan sejumput rambut Alisha ke belakang telinga gadis itu.


Alisha memalingkan wajahnya yang tampak bingung. Dirinya tidak menyangka Richard memiliki perasaan yang lebih dari sekedar kakak ke dirinya.


Ya Allah, aku tidak mau menjadi ratu Inggris karena suatu saat nanti, pasti Richard menggantikan Oom Henry dan jika Daddy menerima keluarga Inggris... Kami memiliki kekuatan di Eropa tapi aku ... Alisha menghela nafas panjang.


Richard melirik ke arah Alisha yang tampak mencerna segala sesuatunya. Richard tahu ini terlalu cepat dan membuat gadis itu panik tapi baginya dia harus mengatakan isi hatinya.


Tangan Richard mere*mas lembut tangan Alisha yang masih dalam genggamannya membuat gadis itu menoleh. "Everything is gonna be alright."


***


Kamar Alisha di kediaman McGregor


"Kamu dijemput Richard di rumah sakit?" tanya Zinnia melalui panggilan video setelah Alisha selesai membersihkan diri.


"Iya mommy. Padahal aku sudah berpikir akan diantar mbak Rani..."


"Pantas semua media pada heboh melihat kamu digandeng Richard keluar dari rumah sakit..."


"Padahal aku dan Richard itu seperti aku dan mas Arsya. Apa mommy tahu, Richard itu mirip mas Arsya..." senyum Alisha.


"Sayang, wajar karena Arsya dan Richard sudah bersahabat dari kecil jadi sudah terbiasa melihat bagaimana kakakmu memperlakukan kamu. Tanpa sadar, Richard melakukan hal yang sama untuk membuat kamu nyaman dulu..." ucap Zinnia. "Kamu kan susah didekati waktu kecil dan hanya Richard dan Louis yang bisa mendekati kamu."


Alisha mengangguk.


"Alisha sayang, apakah Richard menyatakan kalau dia sayang sama kamu, dengan sayang yang berbeda?" tanya Zinnia hati-hati.


"Kenapa mommy?"


"Karena mata Richard sama dengan mata Daddymu kalau menatap mommy mesra."


Alisha terdiam dengan wajah memerah.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️