
Kediaman Keluarga McGregor Chelsea London
Alisah menatap Richard bingung. "Bawa tas saja?" cicitnya.
"Iya tas selempang kamu, Louis Vuitton kamu. Yang isinya dompet, ponsel, charger... Ayo, Sha, cepetan..." Richard menarik tangan Alisha membuat gadis itu bangkit dari duduknya lalu mengandeng nya menuju kamarnya. "Dah, ambil sana. Aku tunggu!"
Alisha masuk ke dalam kamarnya dan memasukkan semua barang pentingnya, ponsel, charger, iPad dan mukena traveling. Setelahnya Alisha keluar kamar melihat Richard bersandar di tembok dekat pintu sambil bersedekap.
"Sudah semua?" tanya Richard melihat Alisha keluar dan menutup pintu kamarnya.
"Sudah" jawab Alisha.
"Yuk, pamitan dulu." Richard lalu menggandeng tangan Alisha menuju ruang tengah.
"Kalian sudah mau ke Kensington?" tanya Raine yang melihat bagaimana keduanya bergandengan.
"Sudah Tante. Kami ke Kensington dulu. Alisha dipinjam... mummy dulu" senyum Richard. Hampir saja aku bilang dipinjam aku.
"Jangan sampai lecet, lho Rich. Awas!" ancam Charlie dengan wajah judes. "Tanggung jawab kamu besar. Tahu sendiri bagaimana Sean kalau tahu putri kesayangannya sampai terluka! Bisa perang nanti Belgia dan Inggris!"
Richard tersenyum simpul. "Nggak lah Oom. Tidak mungkin aku membuat Alisha lecet. Sebelum Oom Sean ngamuk, mummy sudah mencincang aku kalau sampai Alisha kenapa-kenapa... Mummy kan sayang sama Alisha. Sampai anaknya sendiri dianggap anak tiri..."
Alisha cekikikan sedangkan Raine tertawa. "Kasihan kamu Rich" kekeh Raine.
"Beneran itu Tante. Kalau ada Alisha, anaknya kasat mata" adu Richard yang membuat Alisha semakin geli.
"Kalian tidak makan malam dulu?" tanya Charlie.
"Tidak usah, Oom. Mummy sudah menunggu. Kami pergi dulu." Richard membungkuk ke kedua Oom dan Tante Alisha. Meskipun dia seorang pangeran, tapi ini adalah rumah milik Charlie McGregor dan mereka lebih tua darinya. Medeline selalu mengajari untuk tahu adab dan aturan dimana dia dan Louis berada.
Keduanya pun keluar menuju Range Rover Richard yang lagi-lagi disetirnya sendiri.
"Silahkan masuk tuan putri" goda Richard sambil membukakan pintu tempat penumpang.
"Terima kasih, your highness, my prince" senyum Alisha teringat waktu kecil saat ada acara di Inggris, Richard selalu membukakan pintu kereta kencana untuknya dengan kata-kata yang sama. Dan Alisha pun membalas seperti kalimat tadi.
My prince. Richard tersenyum lebar saat mendengar Alisha mengucapkan itu lalu menutup pintu mobil. Wajah pangeran itu masih tampak senang saat memutar menuju kursi pengemudi.
"Sudah seatbelt nya?" tanya Richard sambil memasang sabuknya.
"Sudah" jawab Alisha.
"Yuk ke Kensington."
Mobil mewah itu keluar dari halaman rumah keluarga McGregor.
***
Istana Kensington London
Richard dan Alisha pun berjalan sambil bergandengan masuk ke dalam istana Kensington, tempat tinggal Henry dan Medeline sejak mereka menikah. Medeline tidak pernah nyaman tinggal di Buckingham Palace meskipun dulu pernah ada pembunuh bayaran datang kesana untuk mencari Zinnia yang bersembunyi di Kensington. ( Baca The Prince and I ).
"Apakah Louis sudah berangkat?" tanya Alisha ke Richard.
"Sudah. Tadi pagi dia berangkat" jawab Richard. "Tadi kamu ngapain saja?"
"Aku tadi menghapalkan ruang kelas kuliahku besok..."
Richard menatap gemas ke Alisha. "Penyakit dari kecil kamu kok nggak hilang-hilang sih Sha?"
Alisha hanya nyengir.
Para pelayan istana tampak saling berpandangan melihat Richard yang selalu lembut ke putri Belgia itu sedangkan dengan orang lain sangat kaku.
"Terus acara kamu?" tanya Richard.
"Well, tadi ketemu sama cowok yang ngejar mbak Rani di kampus. Rupanya mbak Rani ngerjain bilangnya di kampus sama aku tapi ngumpet di rumah sakit. Marah deh cowoknya itu tapi marah gemas sama mbak Rania..." kekeh Alisha.
"Cowoknya itu siapa Sha? Yang pemain American football itu?"
"Iya Chris Armstrong."
"Terus?"
"Aku tadi dikasih pesan ke rumah sakit sama mbak Rani jadi aku kesana lah. Rumah sakit British Royal yang kemarin itu Rich. Terus pas kita lagi makan siang, Chris datang marah-marah ke mbak Rania tapi kamu tahu sendiri mbak Rani cuek bebek. Terus pas Mbak Rani dipanggil, Chris minta sama aku buat bantu dia sama mbak Rani tapi aku bilang semua tergantung mbak Rani lah mau terima dia atau tidak."
"Iya benar lah! Tahu sendiri Rania anaknya brutal gitu apalagi katanya dia playboy ya? Makin malas lah Rania" ucap Richard.
"Apakah kamu juga playboy Rich?" tanya Alisha sambil tersenyum.
"What?! Nggak lah! Bagi aku kalau sudah suka ya harus dikejar dan aku pantang menyakiti perempuan karena aku lahir dari seorang perempuan." Richard menatap serius ke Alisha.
"Kamu mirip mas Arsya. Kata mommy, mas Arsya juga tidak mau sembarangan tebar pesona karena ingat dulu mommy bagaimana saat kena fitnah dan mas Arsya baru ketemu Daddy saat usianya tiga tahunan."
"Padahal Arsya ada bakat cowok playboy lho tapi ternyata tidak..."
"Aliissshhhaaaa!" seru Medeline membuat percakapan keduanya terhenti saat masuk ke ruang makan yang luas. "Lama banget! Richard! Kamu bawa kemana dulu anak cantik ini? Kamu nggak dinakali Richard pangeran satu itu kan?" cerocos Medeline sambil memindai Alisha. "Ini ngapain pakai acara digandeng? Memangnya Alisha nggak hapal Kensington?" Medeline lalu menarik tangan Alisha dan menggandengnya menuju meja makan.
"Mum!" protes Richard.
"Sudah kamu duduk! Kasihan Alisha sudah kelaparan!" balas Medeline cuek membuat Richard melengos dan Alisha menatap kasihan ke pria itu.
Richard pun duduk sambil cemberut berhadapan dengan Alisha karena sang mummy mengompeni gadis itu. Tak lama Henry pun masuk sambil memegang ponselnya.
"Iya Sean, Alisha menginap disini karena Medeline ingin gosip ala emak-emak" kekeh Henry. "Oke Sean. Terimakasih sudah mengijinkan Alisha menginap disini. Salam buat Zee dan dobel A. Bye."
Henry mematikan panggilannya dan meletakkan ponselnya Di atas meja makan lalu menoleh ke Richard. "Lama banget kamu jemput Alisha! Bawa kemana saja tadi?" tanya sang Daddy judes membuat Richard melongo.
"Seriously!" umpatnya gemas.
***
Usai makan malam, Medeline benar-benar tidak membiarkan Alisha jauh darinya. Kedua wanita itu tampak asyik memilih kue - kue yang akan dibuat besok untuk acara amal.
"Sha, kata mommymu, kamu ingin ke bangsal anak-anak di setiap rumah sakit London? Untuk acara menemani mereka?" tanya Medeline setelah mereka memutuskan membuat kue apa besok.
"Iya Tante. Alisha mau kalau senggang, mendatangi bangsal anak-anak untuk memberi support dan menemani mereka, seperti yang biasa Alisha lakukan di Brussels. Boleh kah Tante? Informal saja jadi tidak harus banyak protokoler..." tanya Alisha penuh harap.
"Boleh saja" jawab Henry. "Tidak ada masalah, Sha."
Alisha tersenyum senang. "Terimakasih Oom, terimakasih Tante."
Richard menatap Alisha dengan tatapan lembut. Meskipun kamu tidak mau menjadi princess tapi sikap kamu sangatlah princess.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️