Kings And Queens

Kings And Queens
Keputusan Richard



Istana Kensington London Inggris


Richard masuk ke dalam istana yang menjadi tempat tinggalnya sejak dirinya lahir dan sangat hapal dengan seluk beluk istana itu. Bukan berarti dirinya tidak memiliki apartemen, dia punya dekat apartemen Rania tapi Richard memilih untuk tinggal bersama orangtuanya apalagi sejak masuk militer, dia sangat jarang pulang jadi sebisa mungkin banyak menghabiskan waktunya bersama mommy dan daddynya sebelum dirinya menikah dengan Alisha nanti.


Memikirkan untuk menikah dengan Alisha saja sudah membuat pangeran itu tersenyum sendiri macam orang tidak waras. Entah kenapa tadi dirinya yakin kalau gadis itu sebenarnya ada perasaan padanya tapi sesuatu yang besar seperti menahan semuanya.


Richard berjalan menuju halaman belakang dimana biasanya kedua orangtuanya menikmati acara makan siang di gazebo bersama dengan anjing corgi dan golden retriever kesayangan Henry dan Medeline.


Tunggu! Sebenarnya apa yang membuat Alisha bersikukuh untuk ingin menikah dengan pria kalangan biasa dan bukannya bangsawan? Richard tampak menggaruk kepalanya, bingung memikirkan gadis itu.


"Ah, sudah pulang boy?" sapa Henry saat melihat putranya datang. Barney, anjing golden retriever kesayangan Henry langsung menyambut Richard.


"Sudah. Hai mom" sapa Richard sambil mencium pipi ayah ibunya.


"Alisha sudah kamu antarkan ke Charlie?" tanya Henry sambil menikmati makan siangnya.


Seorang pelayan membawakan satu nampan makan siang untuk Richard berisikan satu pirinb steak daging dengan gravy plus kacang polong, kentang dan wortel ditambah dengan satu mangkuk buah strawberry, salad, satu gelas es teh dan air putih.



"Alisha aku taruh di apartemen Rania karena sepupunya Biana datang untuk pertukaran mahasiswa PhD antara Harvard dengan Oxford" jawab Richard sambil memakan steaknya.


"Biana itu anaknya siapa Rich?" tanya Medeline.


"Anaknya Pedro Pascal, chief BAU FBI dan Nadira McCloud, dosen filsafat di Maryland University."


"Hebat, sudah ambil PhD saja. Jurusan apa?" tanya Henry.


"Matematika."


Pasangan raja dan ratu itu melongo. "Cewek tapi suka matematika? Jarang lho" gumam Medeline. Saat ini hanya ada mereka bertiga di gazebo dengan ketiga anjing mereka yang tiduran di bawah kaki ketiganya.


"Tapi kalau tahu aslinya... ampun bar-barnya. Jangan dikira Biana itu macam cewek kutu buku kacamata tebal, no... Dia cantik dan bermulut pedas!" kekeh Richard. "Dan mantan dosenku dulu..."


"Aappaaa? Jadi Biana adalah dosen yang kamu maki-maki gara-gara memberikan kamu hukuman tugas berjibun?" gelak Henry mengingat putranya dulu mengumpati Biana.


"Iya! Ironisnya dia kakak sepupunya Alisha! Kan double kill!" sungut Richard membuat kedua orangtuanya terbahak.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Alisha?" tanya Medeline usai tawa mereka mereda.


"Masih stagnan. Dan Alisha masih bersikukuh untuk memilih memiliki pasangan dari kalangan orang biasa..." jawab Richard sendu.


"Sayang, apa kamu tidak berpikir kalau Alisha banyak pertimbangan jika memilih kamu? Terlepas dari mommy suka dan sayang dengan anaknya Zee itu, tapi kalian memiliki jurang pemisah yang sangat lebar... sangat lebar! Dan kamu tidak bisa untuk bersikap egois kali ini." Medeline menatap putranya serius.


"Mom... apakah tidak bisa dibuat aturan baru bahwa meskipun aku nantinya berbeda tapi aku tetap bersikap menjadi raja yang adil?" pinta Richard memelas. "Macam Oom Sean di Belgia hingga membuat negara itu menjadi negara bertoleransi tinggi. Aku tidak bilang Inggris tidak bertoleransi tapi ... "


"Rich, aturan di Inggris sangat baku turun temurun dan itu tidak bisa dirubah karena langit akan menimpa kita..."


"Dad, itu kan slogannya Abraracourcix nya Asterix" potong Richard sambil tersenyum.


"Well, Albert Uderzo dan René Goscinny mengambil dari kita. Dengar Richard, hukum di Inggris berbeda dengan di Belgia. Kami jauh lebih kaku dan Alisha paham itu jadi dia menahan perasaannya. Dia tidak mau kamu seperti buyutmu Edward VIII yang lebih memilih turun tahta karena seorang janda Amerika Serikat." Henry menatap lekat ke putra sulungnya. "Daddy juga tidak mau kamu seperti Edward! Itu adalah perbuatan egois!"


"Tapi Dad, aku tidak akan bahagia jika tidak ada Alisha di sisi aku... Aku...aku sudah memilihnya untuk menjadi pasangan aku, pengantin aku... Dan aku sudah siap melakukan apa saja demi Alisha" ucap Richard tegas.


"Sayang..."


"Mom, aku sudah 26 tahun, sudah memikirkan untuk berumah tangga dan kalian tahu kenapa aku tidak pernah mau berdekatan dengan gadis-gadis lain kecuali Vio dan Adonia karena hatiku sudah untuk Alisha!"


"Atau Alisha yang pindah?" usul Medeline.


"Mom, Oom Sean bisa menghajar aku jika meminta Alisha pindah! Dad, kan Daddy tahu aku bukan orang yang religius tapi aku diam-diam sudah mempelajari agama Alisha sejak lima tahun lalu. Kalau ditanya apa aku sudah pindah, belum, karena aku sendiri masih menunggu apakah parlemen Inggris dan semua petinggi kerajaan mengijinkan perubahan banyak aturan!"


"Dan jika tidak?" tanya Henry dengan dada berdebar.


"Maka aku akan mundur dari urutan pertama pengganti mu Dad!" jawab Richard tegas.


Henry dan Medeline saling berpandangan. Apakah akan terjadi skandal lagi?


***


Kediaman Keluarga McGregor


Eléonore menatap sebal ke kedua kakak perempuannya yang tampak cantik-cantik, berbeda dengan dirinya yang ada bintik-bintik di wajahnya.


"Kalian kenapa pada kemari? Elle kan jadi inspektur" gerutu balita berambut pirang seperti sang Daddy.


"Insecure, Elle bukan inspektur" ralat Rania.


"Kan yang penting kalian pada maksud!" ucapnya judes.


"Astaghfirullah! Kamu habis makan apa sih Elle? Sambal dabu-dabu ya?" ejek Biana.


"Sambal dabu-dabu itu apa? Makanan?" balas Eléonore menatap dengan mata birunya yang bulat.


"Bukan! Itu bedak pedas!" sahut Edward cuek membuat Rania dan Biana terbahak.


"Mukanya langsung panas dong Ed!" gelak Alisha. "Sambal dabu-dabu itu makanan pedas khas Manado, Elle."


"Mas Edward nakal! Bohongi anak imut dan cantik ini!" rengek Eléonore kesal.


"Apa sih kalian tuh, ribuuuttt saja" omel Raine Blair McGregor saat keluar dari ruang kerja setelah melakukan panggilan video dengan saudara kembarnya Radhi Blair yang tinggal di Dubai soal pemeriksaan kesehatan Direndra yang sempat mengalami sesak nafas saat Alaric berada di London.


"Mommy, dabu-dabu itu apa?" tanya Eléonore.


"Dabu-dabu? Sambal dabu-dabu? Enak itu..." jawab Raine. "Biana, apa kabar? Ada apa kamu ke London?"


Biana Salim ke tantenya dan mencium pipi Raine. "Biasaaaa, Harvard dan Oxford lagi kompak main tukar mahasiswa PhD dan aku yang kena" kekeh Biana.


"Tuh, Elle, mbak Bia jago matematika lho" goda Raine yang tahu putri bungsunya paling sebal pelajaran matematika.


"Elle hanya tahu hitung uang mommy" jawab Eléonore cuek membuat ketiga kakak sepupunya tertawa.


"Dasar matre!" gerutu Edward.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️