
London Inggris
Richard menyetir mobil Range Rover yang tadi dipakai untuk menjemput Alisha tapi kali ini, dia menyetir sendiri. Meskipun tahu di belakangnya ada mobil pengawal yang mengikutinya, tapi pria itu seolah-olah tidak mengetahuinya. Bagaimana pun juga dia adalah calon raja Inggris dan walaupun negara itu aman-aman saja, apapun bisa terjadi.
"Rich, kita tidak jadi ke rumah Oom Eagle" ucap Alisha sambil membaca pesan ponselnya.
"Kenapa Sha?" tanya Richard bingung.
"Oom Eagle harus ke New York, Opa Jendra masuk rumah sakit gara-gara kecelakaan di dapur. Kata mommy, kita ke rumah Oom Charlie dan Tante Raine."
Richard mengangguk. Siapa yang tidak tahu rumah mantan pembalap F1 yang terkenal dengan perseteruannya dengan Radhi Blair. Konyolnya mereka malah menjadi ipar sekarang.
"Opa Jendra kenapa?" tanya Richard.
"Terkena panci berisikan kaldu panas dan tangannya kena jadi Oom Eagle harus mengurus RR's Meal Soho."
"Astagaaa terus dimana sekarang?"
Alisha tersenyum. "Di rumah sakit lah Rich. Kamu kok lucu."
"Pertanyaan aku konyol ya?" kekeh Richard.
"Sangat!" gelak Alisha.
Tak lama mereka pun tiba di sebuah rumah yang berada di daerah Chelsea London. Rumah dengan desain old British style, memakai bata bewarna coklat alih-alih merah seperti rumah McCloud, dari luar tampak sederhana tidak menunjukkan rumah dari mantan pembalap F1 dan putri Emir Blair.
Tapi janganlah melihat penampilan depan karena rumah itu berada di daerah mahal London dan halaman belakang mereka sangatlah luas dan ada kolam renang disana. Charlie dan Raine memilih daerah ini karena penjagaan yang ketat karena komplek itu memiliki sistem satu pintu.
Sebelumnya Penjaga pintu masuk komplek langsung membungkuk hormat begitu tahu siapa yang datang apalagi Charlie McGregor sudah memberikan informasi bahwa keponakannya yang putri Belgia akan datang diantar oleh pangeran Inggris.
Penjaga itu lalu membukakan pintu gerbang dan mobil itu segera menuju rumah keluarga McGregor. Richard dan Alisha pun turun dari mobil di depan halaman rumah.
Charlie McGregor dan Raine Blair McGregor sudah keluar dari pintu utama rumah membuat Richard dan Alisha tersenyum.
"Your highness" sapa Charlie sambil mengangguk hormat.
"Oh come on Oom Charlie, disini aku hanya Richard" senyum Pangeran itu.
"Tapi kita masih di London kan?" kekeh Charlie. "Apa kabar yang mulia?"
"Baik. Aku mengantar Alisha saja" jawab Richard sambil melihat gadis itu berpelukan dengan Raine Blair.
"Yuk masuk" ajak Raine. Tak lama terdengar suara anak kecil.
"Mommy! Mbak Alisha sudah datang?" Tampak seorang anak berusia sekitar enam atau tujuh tahun keluar rumah.
"Hai Edward" sapa Alisha ke sepupunya. Bocah berambut pirang dan bermata biru seperti sang ayah, langsung memeluk Alisha.
"Kayaknya mommy curiga kenapa kamu lebay seperti itu. Pasti berharap dibantuin buat homework kamu kan?" pendelik Raine yang gemas dengan putra sulungnya yang diambil namanya dari opa buyutnya, Edward Blair.
"Ah, mommy kok tahu?" kerling Edward dengan wajah jahil.
Raine hanya memicingkan matanya sebal.
"Eh sudah, yuk masuk. Edward, kasih hormat dulu ke yang mulia" perintah Charlie.
Edward melepaskan pelukan dari Alisha, lalu membungkuk hormat. "Hai mas Richard" ucapnya membuat Charlie dan Raine melotot.
"Nggak gitu Edwaaarrddd!" tegur Raine gemas.
***
Di ruang makan kediaman keluarga McGregor sudah duduk semua anggota keluarga termasuk adik Edward, Eléonore yang berusia empat tahun. Elle panggilan Eléonore, memiliki rambut coklat seperti Raine tapi mata birunya menurun dari Charlie.
"So Richard, kamu sudah tidak berlayar lagi ini?" tanya Charlie sambil mengambil satu porsi mashed potatoes karena malam ini menunya beef stew slow cooking.
"Sudah tidak Oom Charlie, sebab aku sudah mulai mengambil alih beberapa tugas Daddy. Louis yang masih ikut angkatan laut dan rencananya bulan depan akan berlayar ke negara - negara persemakmuran untuk tour tahunan menggantikan aku."
"Louis memilih angkatan laut juga ya? Kalau Arsya ambil apa Sha?" tanya Charlie ke keponakannya.
"Kamu kan sukanya seenaknya sendiri" kekeh Raine.
"Lha gimana Tante, aku suka sekolah" jawab Alisha.
"Tuh dengar Ed, mbak Alisha suka sekolah, nggak macam kamu! Di sekolah malah tidur!" tegur Charlie gemas yang berapa kali dipanggil kepala sekolah karena putranya sering tidur di kelas.
"Habis pelajarannya membosankan" jawab Edward.
"Nilai kamu gimana Ed?" tanya Richard.
"Perfect lah!" jawab Edward sombong.
"Serius?!" Richard menatap Charlie dan Raine. "Apakah benar?"
"Iya. Makanya Tante bingung, kok bisa nilainya bagus-bagus padahal dia sering tidak memperhatikan" jawab Raine.
"Ed, apa kamu punya fotografi memori?" Alisha menatap Edward dengan tatapan menyelidik.
Wajah Edward langsung sumringah. "Bingo! Hanya mbak Alisha yang tahu! Hebat!"
"Haaaaahhh?" seru tiga orang dewasa disana.
"Oom, Tante, aku punya teman waktu kuliah di Jerman seperti Edward. Kuliah hanya mendengarkan sambil melamun tapi nilai ujiannya straight A. Ketika aku tanya, ternyata dia punya kelebihan itu jadi sekali informasi itu nyantol di otaknya, ya sudah tidak kemana-mana. Makanya ujian Edward perfect karena tinggal merecall informasi yang sudah didapat" papar Alisha.
"Ya ampun! Baru ketahuan sekarang! Edward, kamu mempunyai gift seperti itu jangan dipakai sembarangan ya. Kalau kamu melihat sesuatu yang menurut kamu tidak baik, jangan segan bilang sama mommy dan Daddy ya." Charlie menatap serius ke putranya yang masih elementary school.
"Iya Daddy."
Richard memperhatikan hangatnya keluarga Alisha yang tidak jauh berbeda dengan keluarganya maupun keluarga di Dubai.
"Mas Richard ... " panggil Eléonore atau Elle sambil menarik lengan baju Richard.
"Yes Elle?"
"Mas Richard nginap sini nggak?" tanya gadis imut itu.
"Sayangnya mas Richard nggak bisa, Elle. Besok mas Richard harus pergi bersama Daddy ke Nottingham."
Eléonore memajukan bibirnya. Richard gemas dengan adik sepupu Alisha itu dan mengacak rambutnya.
"Kalau mas Richard libur, nanti mas Richard main kesini deh!"
Wajah Eléonore berbinar. "Benar?"
"Iya beneran. Kapan mas Richard bohong?" senyum Richard.
"Rich, tolong bilang sama Daddymu, ditunggu balapan dua Minggu lagi di Silverstone" pesan Charlie.
"Oh my God. Daddy masih balapan lagi?" kekeh Richard yang tahu kalau Henry adalah penggemar kecepatan mobil tapi karena dia seorang raja jadi hanya bisa melakukan di sirkuit.
"Macam kamu tidak hapal hobinya Daddymu selain polo dan menembak" kekeh Charlie.
"Kamu ikut balapan nggak Rich?" tanya Alisha.
"Kalau kamu datang, aku ikut balapan" jawab Richard lembut membuat Eléonore manyun.
"Mbak Alisha, mas Richard itu punya Elle!" ucap bocah perempuan itu sambil memeluk lengan Richard dengan posesif.
"Astagaaa!"
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️