
Present Day London Inggris
Richard mengajak Alisha ke istana Kensington membuat gadis itu terkejut.
"Lho? Kok kemari? Bukannya diantar pulang ke rumah Oom Charlie?" tanya Alisha bingung.
"Kamu belum makan siang kan? Ini sudah jam berapa Sha?" senyum Richard. "Aku ajak kemari saja lah."
Alisha hanya bisa menghela nafas panjang. Percuma juga menolak karena Richard pasti akan tetap terus memaksanya.
***
Westminster Palace, Gedung Parlemen Inggris
Raja Henry mendapatkan banyak protes dan serangan dari para anggota kerajaan dan para menterinya. Perdana Menteri Inggris, Rupert Majors sampai kewalahan menahan protes para anggota parlemen hingga harus menggebrak meja saking emosinya.
"For God's sake! Apa kalian sudah tidak bisa menghormati Yang Mulia? Kalian macam anak-anak middle school yang tidak punya manner!" bentak Rupert, pria berusia 50 tahun dengan rambut merah, bertubuh gemuk dan wajah berbintik-bintik. Banyak orang mengingat dirinya mirip dengan Winston Churchill, mantan perdana menteri Inggris jaman perang dunia kedua.
Banyak rakyat Inggris suka perdana menteri Majors karena dikenal tegas dan bermulut tajam. Hanya ada dua di mulutnya, kebenaran atau kenyataan. Rupert Majors adalah orang yang lurus hidupnya.
"Tuanku Perdana Menteri, kami tidak setuju jika yang mulia pangeran Richard berhubungan dengan putri Alisha of Belgium. Apa anda lupa, raja atau ratu Inggris berkewajiban untuk melindungi gereja dan semua penganutnya!" ucap salah satu anggota parlemen yang juga masih ada hubungan kekerabatan dengan kerajaan.
"Apa anda lupa bagaimana dengan Belanda dan Belgia? Raja Sean Léopold, ayah putri Alisha dan Raja Hans Van Bummel, ayah putri Violet juga berbeda keyakinan tapi mereka tetap melindungi semua agama disana tidak hanya satu!" balas Rupert tegas. "Belgia dan Belanda nyaris tidak ada gejolak agama dan rasisme !"
"Tapi Inggris berbeda dengan Belgia dan Belanda ! Ada banyak negara yang harus kita pikirkan, Wales, Skotlandia, Irlandia dan Irlandia Utara. Kenapa tidak princess Alisha yang pindah?"
Rupert menoleh ke arah raja Henry.
"Karena Richard yang akan pindah!" jawab Raja Henry dingin. "Apa kalian melihat apakah putraku religius? No. Putra sulungku adalah orang yang paling tidak religius! Jika dia menemukan kedamaian di keyakinan Alisha, kenapa tidak? Setidaknya dia beragama bukan atheis!"
"Tapi yang mulia, jika pangeran Richard masih tetap ingin bersama dengan putri Alisha, dia harus turun dari ahli waris kerajaan Inggris!" jawab anggota parlemen lainnya.
"Siapa kamu yang berhak mengatur?" bentak Raja Henry geram.
"Saya adalah perwakilan rakyat Inggris yang mendukung konstitusi dan saya keberatan jika pangeran Richard seperti Raja Sean Léopold atau Raja Hans Van Bummel!"
Raja Henry hanya menatap tajam ke semua anggota parlemen.
***
Istana Kensington London
Richard tersenyum melihat Alisha menyantap makan siangnya dengan semangat. Dia sangat tahu selera gadisnya itu.
"Ini enak, Rich." Alisha menoleh ke arah Head butler istana. "Tolong sampaikan pada chef dan timnya, this is so delicious. Thank you."
"Akan saya sampaikan, my lady" jawab Head butler sambil mengangguk hormat.
Alisha, Avaro dan Arsyanendra selalu diajarkan oleh Zinnia untuk memuji masakan para chef istana yang memasak secara spesial. Apalagi sekarang dirinya menjadi tamu Richard, dan pria itu sudah meminta agar chef istana membuat masakan kesukaannya, membuat Alisha wajib memberikan apresiasi.
Di kalangan para pelayan istana, keluarga kerajaan Belgia dan Belanda adalah tamu favorit mereka. Bahkan mereka sendiri banyak yang tidak terlalu menyukai anggota keluarga kerajaan Inggris sendiri diluar keluarga inti.
"Kamu acara besok weekend kemana?" tanya Richard.
"Menginap di apartemen mbak Rania. Mbak Biana datang soalnya dari Oxford. Katanya pusing dengar British accent."
Richard tertawa. "Bia memang random, sama dengan Rania. Oh, kakak sepupu mu yang sebaya Arsya siapa namanya?"
"Mas Vic, mas Hyde dan mas Rase. Kenapa?"
"Ah tidak, hanya bertanya."
"Mas Vic sekarang memegang bisnis anggur Oom Dante, kalau mas Hyde kuliah di Todai jurusan IT sambil magang jadi anak buahnya Oom Luke, kalau mas Rase, sedang ambil spesialis neurologis di Harvard Medical School. Mbak Rania yang banting setir ke bedah ikutan Oom Sammy dan Tante Blaze."
"Apa Hyde akan menjadi Yakuza? Vic akan jadi Mafioso?" tanya Richard.
"Sepertinya..." senyum Alisha.
"Keluarga kamu memang deh..." kekeh Richard.
"Kamu ada acara ke luar negeri lagi?" tanya Alisha.
"Yup. Jumat besok aku harus terbang ke India bersama Daddy."
"Makanya, aku sengaja menjemput kamu sebab aku akan pergi lagi" ucap Richard sambil mengelus kepala Alisha.
"I see."
***
Kamar Raja Henry dan Ratu Medeline Malam harinya...
"Mereka menyuruh Richard melepaskan gelarnya?" teriak Medeline dengan nada tertahan karena tembok istana itu memiliki telinga.
"Richard malah bahagia jika harus lepas beban menjadi raja" gumam Henry. "Macam Edward VIII atau Harry dulu, memilih menjadi rakyat biasa."
"Apa mereka tidak bisa menggantikan aturan? Apa tidak melihat bagaimana Belanda dan Belgia?!" Medeline tampak uring-uringan sambil berjalan mondar mandir di kamarnya. "Apa Richard sudah tahu?"
"Belum. Kami kan harus terbang ke India dulu besok Jumat jadi aku tidak mau anak itu terpecah konsentrasi nya."
Medeline mengusap pelipisnya berulang kali, pertanda dia kesal luar biasa.
"FU***!!!!" teriaknya marah.
***
Apartemen Rania Daerah Soho Weekend
"Jadi kamu merasa terganggu dengan British accent? Hello, apa kabar kami, Cumiiii!" omel Rania ke Biana yang tampak cuek sambil memakan kimbab buatan mereka tadi.
"Makanya aku kemarin mengajukan bisa tidak balik ke Harvard" sahut Biana.
"Terus?"
"Ditolak mentah-mentah! Mending dapat mentahan $50,000. Ini kagak! Omelan iya!" balas Biana.
Ketiga gadis cantik itu duduk di sofa sambil menikmati acara pertandingan American Football yang direlay semalam oleh Rania gara-gara Chris Armstrong ngomel gadis itu tidak melihat saat dirinya melakukan touchdown.
"Ini kita harus nonton acara NFL mbak?" tanya Alisha yang tidak terlalu paham aturan permainan American Football. Gadis itu lebih baik diajak nonton pertandingan sepakbola, lomba ice skating atau makan kerupuk sekalian.
"Nanti ada yang ngereog dan ngeroweng, malas Mbak!" jawab Rania.
"Sebenarnya aku bingung, kamu sama Chris tidak suka tapi kenapa menonton pertandingan nya?" tanya Biana.
"Karena dia ikutan nonton!" sungut Rania yang memperlihatkan wajah Chris di MacBook yang diletakkan di atas meja makan ke arah ruang nonton TV.
"Tutup saja MacBook mu!" balas Biana judes.
"Bia! Jangan lah! Aku ingin ikut gabung dengan kalian" teriak Chris memelas.
"Dih ! Menyebalkan!" cebik Biana yang menggeser duduknya membuat suara yang mirip dengan suara kentut karena sofa Rania terbuat dari kulit.
"Bia! Kamu kentut?" protes Rania sambil memencet hidungnya.
"Eh? Siapa yang kentut? Tunggu, karena kamu mengingatkan, aku baru ngeh kalau aku sepagi ini belum kentut!" ucap Biana cuek membuat Rania dan Alisha melongo.
Tiba-tiba terdengar suara kentut dan kedua gadis disana langsung terlonjak.
"BIA JOROK!" jerit Rania sedangkan Alisha menutup hidungnya.
"Alhamdulillah legaaaa" cengir Biana.
Chris yang melihat kehebohan ketiga gadis disana, hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Oh boy... casing bagus, aslinya bobrok!"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️