Kings And Queens

Kings And Queens
Skincare



Kediaman Keluarga McGregor London


"Elle, memang uangnya mommymu banyak?" goda Biana ke sepupu cilik nya yang sudah menunjukkan sifat kacaunya.


"Banyak mbak. Makanya Elle hitung buat beli skincare..."


Sontak semua wanita disana terbahak. "Ya Allah Elle, kamu itu masih bayi kok sudah mikir skincare?" gelak Alisha.


"Lha kan mommy panik kalau skincare nya habis. Jadi sejak kecil, Elle harus tahu berapa harganya."


"Sayang, kulit kamu itu masih kulit anak-anak jadi belum perlu pakai skincare macam mommy" senyum Raine gemas dengan putrinya yang entah meniru siapa kacaunya.


"Tapi mommy..."


"Harusnya kamu itu menghitung uang mommy buat beli rumah-rumahan Barbie, bukan skincare" ejek Biana.


"Aku nggak suka Barbie" jawab Eléonore judes. "Cewek centil!"


"Elle, kamu tuh seperti Barbie lho. Rambut kamu blonde, mata kamu biru." Rania ikut menimpali.


"I am Eléonore Blair McGregor dan tidak ada ceritanya aku jadi cewek centil!" balas Eléonore galak.


"Astaghfirullah, Tante Raine. Dulu ngidam apa sih sampai aku bisa punya sepupu judesnya seperti ini?" gumam Rania. "Dan apa benar dia masih balita?"


"Tante juga tidak tahu dulu ngidam apa... Tunggu Rania, apa ngidam sambal itu pengaruh?" tanya Raine bingung.


"Sambal apa?" tanya Biana.


"Sambal... semua sambal lah. Mau matah, tomat, terasi, hijau... pokoknya kalau makan harus ada sambal..."


Rania dan Biana pun melengos. "Nggak heran kalau bentukannya muncul begini! Cukup tahu dan maklumlah..." ucap Rania.


"Oh? Ngaruh ya?" kekeh Raine.


"Sebenarnya yang ngaruh itu gen, lingkungan dan keluarga" ucap Alisha ke kakaknya.


"Yeeee, kamu nuduh aku?" pendelik Rania judes.


"Lha kan mbak Rani yang di London dari jaman Elle masih belum lahir. Jadi bisa saja ketularan kamu mbak" kekeh Alisha.


"Kamu nyebelin deh Sha!" protes Rania.


***


Senin pun datang, Alisha mulai kuliah begitu juga dengan Biana yang sudah pergi ke Oxford setelah mendapatkan kamar di sebuah flat dekat kampus itu. Karena hanya satu semester disana, Biana memilih untuk menyewa bulanan agar lebih mudah jika dia bosan dan bisa pindah lagi.


Alisha pun semakin semangat untuk kuliah apalagi disini menggunakan bahasa Inggris yang lebih mudah dibandingkan dengan saat di Jerman. Meskipun Alisha sama fasihnya dengan bahasa sang Daddy, tapi dia lebih suka menggunakan bahasa Inggris.


Tak terasa sudah dua bulan Alisha kuliah dengan tugas yang semakin padat karena di program magister jauh lebih padat dan banyak prakteknya. Seperti hari ini, Alisha mendapatkan tugas untuk menerapi anak yang menderita tuna rungu. Self esteem anak itu sangat rendah karena merasa dirinya tidak sempurna. Tentu saja gadis itu bersemangat menemui kliennya yang berada di bangsal anak-anak.


Alisha baru mengetahui kalau Stephanie harus diopname karena jatuh dari tangga akibat kesandung tali sepatunya. Gadis itu pun tanpa membuang waktu langsung menghampiri Stephanie setelah mendapatkan ijin dari kedua orangtuanya.


Stephanie tidak menyangka akan kedatangan seorang princess, tampak terkejut dan sedikit malu. Memang kedua orangtuanya mengatakan akan ada konselor yang datang tapi tidak bilang kalau ternyata Alisha.


Alisha pun duduk di sebelah tempat tidur Stephanie dan melihat kaki kanannya harus digips, membuat gadis cilik itu diwajibkan berisitirahat minimal 1,5 bulan.


"Hai. Namaku Alisha. Siapa namamu?" tanya Alisha ramah namun Stephanie tampak bungkam. Alisha pun melihat gelang pasien di pergelangan tangan gadis cilik itu.


Stephanie? Panggil Alisha dengan bahasa isyarat membuat Stephanie melongo.


Bisa bahasa isyarat?


Apakah kamu seorang princess?


Alisha mengangguk lagi. Aku adalah princess bagi Daddyku tapi disini aku adalah Alisha yang akan menjadi temanmu.


Stephanie tampak tertarik. Bagaimana princess bisa bahasa isyarat?


"Karena aku punya Oma dan Tante yang juga tuna rungu. Omaku bahkan punya sekolah khusus kaum tuna rungu di Jakarta dan Tanteku seorang konselor sama seperti aku ini. Jadi, bukan sesuatu yang membuat kamu merasa kekurangan jika kamu memiliki kelebihan. Kata Oom ku saat menikahi tanteku yang tuna rungu, kekuranganmu adalah kelebihan dimataku..."


It's so romantic, Princess.


"Jadi, apa yang membuat kamu merasa tidak nyaman dengan kondisimu?"


Banyak anak laki-laki yang menghina aku budek, kupingnya rusak... Aku tidak mau seperti ini princess. Bukan mau aku kan dilahirkan seperti ini? Mata coklat Stephanie tampak berkaca-kaca. Gadis berusia sepuluh tahun itu tampak jatuh mentalnya.


Alisha menggenggam tangan Stephanie. "Dengar kan aku. Setiap bangun pagi, selalu kamu ucapkan terima kasih Tuhan sudah memberikan aku usia hari ini. Aku tahu aku hadir di dunia ini karena aku berharga, aku cantik, aku cerdas dan aku siap menghadapi hari ini. Berikan aku hari yang indah agar aku bisa tersenyum bahagia."


Stephanie menatap Alisha. Apakah seorang princess tidak pernah memiliki hari yang jelek?


Alisha tersenyum. "Princess itu juga manusia biasa, sayang. Tugas aku jauh lebih berat apalagi harus pakai Tiara yang membuat kepalaku sakit, gaun panjang yang ingin aku ganti dengan celana jeans..."


Stephanie cekikikan.


"Makan harus manner. Bayangkan Kamu makan Burger dan harus pakai pisau serta garpu. Padahal kan makan burger jauh lebih enak pakai tangan. Di istana itu Big Nonono..."


Stephanie langsung menggelengkan kepalanya tidak suka makan burger pakai alat makan. Burger itu enaknya pakai tangan.


"Itu dia. Sebenarnya tidak boleh mengeluh tapi tetap saja tidak nyaman makan burger pakai pisau garpu." Alisha memasang wajah manyun membuat Stephanie tertawa.


Kedua orangtua Stephanie tampak bersyukur melihat putrinya mulai bisa tertawa bersama dengan princess Alisha.


Ternyata Princess asal Belgia yang katanya humble, ternyata memang benar.


***


Istana Buckingham Inggris


Sudah dua bulan ini Richard tidak bertemu dengan Alisha akibat sibuknya pekerjaan. Bahkan pangeran itu harus ikut kedua orangtuanya pergi untuk urusan kerajaan ke berbagai negara di dunia.


Hari ini sehari setelah Richard tiba dari Malaysia, pangeran itu ingin menemui Alisha yang sedang berada di sebuah rumah sakit anak-anak untuk menjadi konselor.


Richard sendiri merasa kehilangan untuk bisa mengobrol dengan Alisha karena perbedaan waktu disaat dirinya berada di luar negeri. Terkadang negara yang Richard kunjungi masih siang, London sudah malam dan Alisha sudah tidur. Begitu juga sebaliknya hingga mereka sama-sama tidak jenak komunikasinya.


Richard juga mendengar bahwa kuliah gadis itu semakin padat dengan tugas yang membuat waktu Alisha habis untuk menyelesaikan sebab dia ingin tidak ada mata kuliah yang harus diulang.


Dengan santainya pria itu masuk ke dalam mobil Range Rover nya menuju rumah sakit tempat Alisha tugas disana. Para pengawalnya pun langsung bergegas mengikuti pangeran mereka.


Tunggu aku, Sha. Aku jemput kamu.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️