
Kamar Alisha di kediaman keluarga McGregor.
Alisha memeriksa semua CCTV mini yang sudah dipasangnya kemarin bersama dengan Angelie. Gadis itu sampai harus menyamar agar tidak ketahuan kalau dia adalah Alisha, princess Belgia.
Semua pergerakan Billy dilihatnya dari delapan camera yang dipasang dan gadis itu hanya menunggu. Alisha sudah mengatakan pada Angelie kalau dirinya menunggu seminggu untuk melihat bagaimana nenek Billy bersikap.
"Mbak Alisha, makan dulu" sebuah suara feminin dan imut khas anak kecil membuat Alisha menoleh. Tampak Eléonore mengintip dari balik pintu kamarnya.
"Sebentar lagi Elle, mbak Sha..."
"Billy! Dasar anak bodoh! Ayo bantu nenek bawa tas ini!"
Alisha dan Eléonore menatap layar monitor dengan wajah terkejut.
"Mbak, itu siapa kok dimarahi?" tanya balita cerdas itu sambil mendekat ke kakak sepupunya.
"Elle, kamu jangan lihat karena ini nggak baik..."
Tapi mana Eléonore mau mendengarkan ucapan kakak sepupunya. Dirinya jauh lebih penasaran melihat anak kecil seumuran Edward dimarahi sedemikian rupa.
"Kok kakak itu dimarahi mbak? Salah apa?" tanya gadis cilik itu sambil berdiri di dekat meja kerja Alisha.
"Mbak juga nggak tahu..." jawab Alisha yang semakin kesal melihat si nenek.
"Itu neneknya?" tanya Eléonore lagi.
"Iya..."
"Kasihan kakak itu. Namanya siapa mbak?"
"Billy Gallagher."
"Mbak, mbak Alisha pasang cctv disana?" tanya Eléonore membuat Alisha tersenyum karena tidak menduga adik sepupunya sangat cerdas.
"Iya. Mbak ingin menolong Billy tapi harus ada bukti kan?" senyum Alisha sambil mengambil kursi untuk Eléonore duduk.
Keduanya pun asyik menonton layar monitor iMac dan melihat bagaimana kata-kata menyakitkan keluar dari seorang wanita paruh baya dengan dandanan menyolok.
"Astaghfirullah! Siapa itu Sha?"
Alisha dan Eléonore terkejut mendengar sebuah suara di belakang mereka dan tampak Raine berdiri sambil menatap layar monitor.
"Mommy, nenek ini jahat! Kakak ini dari tadi dimarahi terus!" adu Eléonore.
"Klien kamu Sha?" tanya Raine.
"Iya Tante. Neneknya menyalahgunakan dana pendidikan dan hidup Billy untuk foya-foya. Dia juga melakukan kekerasan verbal dan psikis. Jadi aku cari buktinya deh..."
"Sha, jangan bilang kamu memasang CCTV milik Giordano disana..." Raine menatap tajam keponakannya.
"Sha nggak minta tolong dengan Oom Gio."
"Lalu sama siapa?"
"Opa Benji."
Raine menepuk jidatnya. "Ya Allah, malah sama suhunya?"
"Mommy, lihat. Nenek itu menghitung uang banyak..." seru Eléonore.
"Besok uang cucu sial@n itu datang lagi. Lumayan tambahan £2,000 dan uang asuransi mereka tahap kedua akan cair. Kira-kira liburan kemana lagi? Belanja perhiasan apa lagi ya?" gumam nenek Billy itu membuat ketiga perempuan di kamar Alisha hanya bisa melongo.
"Astaghfirullah! Uang asuransi ? Uang asuransi apa Sha?" tanya Raine bingung.
"Uang asuransi kecelakaan kedua orangtuanya Billy. Rupanya semuanya ditahan oleh neneknya..."
"Itu kan haknya Billy!" protes Raine yang ikutan emosi.
"Tapi karena Billy dianggap masih di bawah umur jadi neneknya yang bersikap menjadi wali..."
"Billy! BILLY! Dasar anak tidak tahu diuntung! Ini apa ada biaya rumah sakit? Ngapain kamu ke rumah sakit! Kenapa tidak m@mpus saja sekalian!"
Raine sampai harus menutup telinga Eléonore agar tidak mendengar kata-kata cacian kasar yang nyaris tidak pernah terdengar di rumah mereka. "Astaghfirullah! Itu mulut! Rasanya Tante ingin jahit pakai jarum buat kasur kapuk!"
Alisha terbahak. "Tante, jaman sekarang sudah tidak ada kasur kapuk. Kok Tante tahu soal itu?"
"Nonton YouTube lah, melihat yang jadul-jadul!" jawab Raine cuek.
Suara ketukan di pintu membuat ketiga perempuan itu menoleh. Charlie McGregor berdiri disana dengan wajah manyun.
"Kalian bertiga, kalau mau nonton Netflix, nanti lah! Kita makan malam dulu."
"Ini bukan Netflix, Daddy!" protes Eléonore.
***
Charlie dan Edward mendengarkan penjelasan Alisha dan alasannya menempelkan banyak CCTV disana agar mendapatkan bukti yang memberatkan si nenek.
"Lalu rencana kamu?" tanya Charlie yang ikutan gemas mendengar seorang nenek memanfaatkan cucunya demi keegoisan nya sendiri.
"Mengumpulkan bukti, melaporkan ke pihak child service dan Scotland Yard lalu membawa Billy keluar dari Inggris."
"Mau kamu kirim ke Belgia?" tanya Raine.
"Nggak Tante, Oom Gabriel mau mengangkat anak Billy buat adik Galena."
Gabriel adalah suami dari Garvita, adik Zinnia. ( Baca My Bodyguard is My Boyfriend ). Keduanya hanya dikaruniai seorang putri bernama Galena yang usianya dua tahun di bawah Alisha. Galena atau biasa dipanggil Lena sekarang sedang menempuh pendidikan kedokteran di Mohammed bin Rashid University of Medical.
"Bagus lah kalau Gabriel mau angkat anak. Billy butuh sosok yang bisa membuatnya kuat dan bisa ceria lagi" ucap Charlie.
"Lagian bisa mengurangi rusuhnya Lena. Ampun deh anak itu, kiblatnya ke Rania dan Biana jadi ikutan brutal!" gerutu Raine yang sering mendapatkan curhat Garvita soal putri tunggalnya yang tidak ada anggun-anggunnya.
"Lena kan memang sudah lama ingin punya adik dan anaknya Radhi malas kumpul dengan kakak brutalnya" kekeh Charlie. "Pokoknya jangan satukan Rania, Biana dan Lena di Dubai. Kacau!"
Alisha dan Raine hanya tersenyum.
"Apa Richard tahu kamu melakukan ini?" tanya Charlie serius.
"Tidak Oom. Aku tidak memberitahukan Richard karena selama aku masih bisa menghandle sendiri, Richard tidak perlu ikutan."
"Kamu berhati-hati, Sha. Meskipun kamu seorang princess tapi ini Inggris, bukan Belgia."
"Iya Oom. Alisha melakukan sesuai dengan prosedur meskipun sedikit melanggar dengan memasang CCTV ... Tapi kan demi bukti" alibi Alisha sambil tersenyum.
Charlie hanya menggelengkan kepalanya.
***
British Royal Hospital London keesokan harinya
Rania mendatangi ruang konseling Alisha usai melakukan visite dan harus menunggu karena adiknya masih ada klien. Setengah jam kemudian, sesi konseling itu berakhir dan Alisha keluar dari ruangannya. Gadis itu tampak terkejut melihat kakaknya tampak cemas.
"Sha, kamu sudah lihat CCTV yang kamu pasang hari ini?" tanya Rania dengan nada mendesak.
"Belum mbak, aku kan tadi kuliah, terus aku langsung konseling. Buka ponsel pun tak sempat. Ada apa mbak?" Mata coklat Alisha menatap kakaknya bingung.
Rania tidak menjawab tapi langsung menarik tangan adiknya. Salah satu pengawalnya, Jossie mengikuti kedua gadis itu sedangkan Mary tetap berjaga di ruang konseling Alisha.
"Mbak, kita mau kemana?" tanya Alisha merasa kakaknya aneh siang ini.
Rania tidak menjawab tapi langsung membawa adiknya ke sebuah ruang rawat dan Alisha terkejut melihat Billy tergeletak diatas brankar.
"Bi...billy? Apa yang terjadi mbak?" Alisha bergegas menghampiri bocah malang itu. Ada gips di kaki kanannya, begitu juga di tangan kirinya. Wajah bocah tampan itu tampak pucat.
"Jatuh dari tangga apartemen. Diagnosa, gegar otak ringan, dislokasi pergelangan tangan, kaki kanan retak."
"Siapa yang membawanya kemari?" tanya Alisha sembari mengelus rambut Billy.
"Angelie."
"Dimana si nenek?"
"Sedang memberikan keterangan ke Scotland Yard."
"Keterangan awal?"
"Katanya Billy tersandung tali sepatunya hingga jatuh dari tangga. Si nenek tidak sempat menangkap nya dengan alasan kalah cepat."
Alisha menatap Billy sedih. "Akan aku cari buktinya. Billy jatuh atau didorong."
Rania terkejut. "You've got be kidding me!"
"Karena semalam, si nenek menyumpahi Billy agar mati."
Rania melongo.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️