
Silverstone Circuit Inggris
Charles 'Charlie' McGregor akhirnya memenangkan perlombaan balap mobil. Mantan pembalap F1 yang juga saingan berat Radhi Blair itu, tampak sumringah bisa mengalahkan Richard dan Henry. Meskipun sudah pensiun, tapi jiwa kompetitif Charlie pun masih tersisa.
Raine Blair McGregor yang juga saudara kembar Radhi, tampak antusias menyambut suaminya seperti saat-saat dulu masih berkecimpung di dunia F1. Begitu juga dengan putra sulung mereka, Edward dan Eléonore.
Charlie dan Radhi adalah rival dari dua tim F1 yang memang selalu bersaing. Charlie dari tim McLaren bersaing dengan Radhi yang berasal dari tim Ferrari. Tanpa mereka ingat, dua keluarga mereka saling berkaitan bahkan bersaudara.
Charlie yang jatuh cinta dengan Raine yang saat itu datang mensupport kembarannya, berusaha menjatuhkan konsentrasi Radhi dengan mengajak adiknya Charlotte McGregor. Tanpa diduga akhirnya mereka berempat menjadi ipar. ( Kisah mereka akan muncul di Love In Race , on March 2023 ).
"Kalah ya?" goda Alisha ke Richard yang sedang mengacak - acak rambutnya karena kena helm jadi sedikit lepek.
"Untung Oom Radhi nggak ikut, bisa terjadi gegeran macam dulu" senyum Richard. "Yakin bakalan saling bertabrakan!"
Alisha tertawa. "Oh, Daddy ngamuk..."
"Hah?" Mata biru Richard mendelik. "Kenapa Oom Sean ngamuk?"
"Kamu menciumku."
"Lha, wajar dong aku mencium kamu, karena kamu kan wanita yang aku cintai. Bilang sama Oom Sean, sesama mata biru tidak boleh saling judes ke wanita pemilik mata coklat" cengir Richard mengingat mata Zinnia hitam kecoklatan.
"Hampir perang tahu antara Belgia dan Inggris..." kekeh Alisha.
Richard kali ini melongo. "Segitunya?"
***
Usai acara balapan, para teman-teman raja Henry yang ikut dalam acara balapan tersebut, menikmati makan siang bersama. Rania tampak asyik mengobrol dengan salah satu Lord yang juga kakak kelasnya di kampus.
Eléonore langsung mengompeni Richard meskipun dirinya sudah dikasih tahu oleh Rania bahwa dirinya masih kecil untuk urusan cinta-cintaan dan Richard tidak mungkin menunggu Eléonore dewasa, tapi gadis cilik itu tetap mengeyel.
"Dasar keturunan Blair dan McGregor! Tukang ngeyel!" umpat Rania tadi sampai harus adu argumentasi dengan sepupu ciliknya dan Raine pun mengambil jalan tengah untuk menengahi keributan keduanya.
"Elle, yang diucapkan mbak Rania itu benar. Mas Richard tidak mungkin menunggu sampai Elle dewasa. Lagipula mas Richard cintanya cuma pada mbak Alisha" ucap Richard sambil memangku Eléonore.
"Tapi kan..."
"Elle, mas Richard yakin, nanti akan ada datang seorang pangeran untuk Elle, yang lebih cakep dari mas Richard dan lebih sayang ke Elle dari mas Richard... Yakin deh! Elle kan masih kecil dan pangeran jodohnya Elle juga masih kecil jadi belum ditemukan sekarang. Sama seperti mas Richard dan mbak Alisha, ketemunya sudah besar" senyum Richard. Bohong dikit tidak apa kan?
Eléonore memeluk leher Richard dan hanya gadis cilik itu saja yang diijinkan sang pangeran untuk memeluknya selain Alisha.
"Elle itu seperti adiknya mas Richard yang masih imut. Kan mas Richard tidak punya adik perempuan jadi Elle lah adik perempuan mas" sambung Richard lagi guna memberikan pengertian ke bungsu Charlie dan Raine McGregor itu.
"Kalau nanti pangerannya Elle datang, mas Richard cemburu nggak?" Mata biru Eléonore menatap cemas ke mata biru Richard.
"Hah?" Richard terkejut dengan ucapan adik sepupu Alisha itu. "Kamu itu umur berapa sih! Kok mikirnya kejauhan?"
"Mas Richard cemburu nggak?"
Richard tersenyum. "Ya nggak lah. Malah senang Elle sudah mendapatkan pangerannya."
Gadis cilik itu meletakkan kepalanya di dada Richard dan tak lama mata birunya terpejam. Richard hanya menggelengkan kepalanya. Ya ampun Elle, Elle. Yang bakalan jadi calon suami kamu, harus punya kesabaran tingkat dewa!
***
Charlie yang melihat putrinya tertidur di pangkuan putra mahkota kerajaan Inggris, tampak sangat tidak enak. Pria bermata biru itu pun bergegas menghampiri Richard.
"I'm so sorry, Rich. Elle memang manja sama kamu..." bisik Charlie sambil menggendong tubuh mungil putrinya.
"It's okay Oom Charlie. Bukankah biasa Elle seperti ini?" senyum Richard.
"Tapi tetap saja tidak enak. Maaf ya Your Highness..." senyum Charlie sambil membawa putrinya pergi.
"Alisha!" panggil Richard ke gadisnya yang sedang mengobrol dengan beberapa putra dan putri pembalap yang ikut.
"Temani aku makan..." pinta Richard sambil tersenyum.
"Astagaaa... aku kira ada apa" kekeh Alisha yang sedang membawa piring berisikan lasagna.
Richard yang sedang memakan Mac and cheese meminta Alisha untuk menyuapinya lasagna yang sedang dipegangnya.
"Hah? Memang kamu nggak kapok bikin Daddy kebakaran brewok?" tolak Alisha yang tahu Daddynya selalu memelihara brewok dan jarang klimis.
"Ke Oom Sean kan? Nggak takut!" Richard membuka mulutnya. "Aaaakkk.."
Alisha pun memotong lasagna nya dan memasukkan ke dalam mulut Richard.
"Hhhhmmm...yummy..."
Gadis itu hanya berharap Daddynya tidak langsung terbang ke London untuk menjewer Richard lalu memproklamirkan untuk perang antara Belgia dan Inggris.
***
Brussels Belgia
"Ini apa-apaan pakai acara suap-menyuap?! Memangnya Richard tidak bisa makan sendiri apa!" omel Sean melihat live video dari pengawal Alisha.
Arsya yang sedang menelpon Violet hanya melengos mendengar gerutuan daddynya.
"Oom Sean kenapa Sya?" tanya Violet dari seberang.
"Richard proklamir dengan Alisha dan Daddy langsung kebakaran brewok" jawab Arsyanendra malas.
"Richard akhirnya proklamir juga?! Astaghfirullah... baru berani sekarang ya?" gelak gadis bermata ungu itu yang sekarang bekerja di sebuah perusahaan finance kota London.
"Kamu memangnya nggak diundang Richard ke Silverstone?" tanya Arsya bingung kenapa gadisnya yang juga sahabat Richard, tidak diajak.
"Diajak, Sya tapi akunya yang menolak. Libur weekend begini kan lebih baik aku istirahat di apartemen. Yang berangkat tadi Rania sih katanya barengan sama Alisha."
"ZEEEE! Lihat ini!" rengek Sean ke Zinnia yang sedang membuat adonan roti bersama Avaro. Entah kenapa, putra keduanya sangat mencintai bidang culinary seperti Oom Eaglenya. Ibu dan anak itu sedang berada di dapur kediaman pribadi keluarga kerajaan itu.
"Apa sih Sean? Dari tadi kamu muring-muring saja. Memangnya kamu tidak ingat main datang ke apartemen aku di Geneva terus minta makan, diusir pulang nggak mau, alasan macam-macam biar bisa tidur di tempat aku!" hardik Zinnia gemas membuat Sean terdiam.
"Apa?! Daddy lebih parah dari mas Arsya?" goda Avaro.
"Apa bawa-bawa mas Arsya?" tanya Arsyanendra setelah menelpon Violet.
"Tahu nggak mas, Daddy parah ngejar mommy."
"Itu mas tahu. Sampai nangis diusir mommy di Indramayu" ejek Arsyanendra.
"Bukan itu mas! Tapi waktu belum nikah, Daddy main kejar mommy pakai acara modus yang sangat haqiqi" gelak Avaro durjana.
Sean pun cemberut dan menatap kesal ke Zinnia yang hanya memasang wajah datar sambil mengadon adonan roti.
"Memang Daddy ngapain mom?" pancing Arsyanendra sambil melirik licik ke Sean.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️