Kings And Queens

Kings And Queens
Support Alisha



New Delhi India


Henry menatap wajah Richard yang seperti senang dan sesekali terkekeh geli membaca pesan dari ponselnya. Keduanya sedang menikmati sarapan di Hotel Radison Blu New Delhi bersama dengan para staff dan asisten mereka.


"Ada apa Rich?" tanya Henry ke arah putranya yang tidak biasanya melanggar aturan. "Apakah itu Alisha?"


Richard mendongak dan tersenyum. "Bukan Dad."


"Lalu siapa? Arsya? Vio? Adonia?" Henry menyebutkan ketiga sahabat Richard.


"Bukan Dad, ini Chris Armstrong dan Leonardo Rossi membuat grup chat."


"Siapa mereka?" tanya Henry yang baru mendengar dua nama asing itu.


"Chris Armstrong adalah pemain American Football dari klub Dallas Cowboys. Dia ngejar Rania. Kalau Leonardo Rossi, atlet Rodeo dan pemilik Ranch di Texas dan ngejar Biana."


"Bagaimana kalian bisa saling kenal?" tanya Henry mengingat saat ke Amerika tahun kemarin, Richard tidak berkenalan dengan siapapun.


"Kemarin mereka mengganggu Rania dan Biana lalu aku ikut bergabung untuk ngobrol dengan Alisha. Jadi kami saling berkenalan meskipun dengan Leonardo sudah bertemu langsung" jawab Richard.


"Ini kalian membuat grup chat?" tanya Raja Henry bingung.


"Membicarakan para gadis-gadis kami" kekeh Richard. "Mereka berdua itu pria-pria tangguh dan tahan banting menghadapi Rania dan Biana yang bobrok dan brutal kelakuannya."


"Tapi Daddy tidak heran kalau menyangkut keluarganya Quinn Reeves dan Bimasena Baskara. Mereka itu tidak ada takut-takutnya waktu ada pembunuh bayaran mendatangi istana Kensington mencari Zee yang bersembunyi padahal saat itu, Zee sudah pergi meninggalkan London."


"Opa Quinn dan Opa Bima?"


"Ditambah Opa Aji dan Oom Eagle" sambung Henry. "Kalau Rania, Daddy bisa paham karena keluarga Bianchi memang terkenal keluarga brutal tapi kalau Biana... Setahu Daddy, Pedro Pascal dan Nadira McCloud itu kalem lho."


"Anggap saja salah adonan" balas Richard santai.


Henry tertawa. "Ricky, Daddy bicara serius, boleh?"


Richard menatap Henry dengan intens apalagi kalau ayahnya sudah memanggil nama kecilnya, berarti ini sangat serius.


"Apakah soal aku dan Alisha? Parlemen tidak setuju aku bersama Alisha?" tebak Richard.


"Benar, my son. Mereka meminta jika kamu memilih Alisha, kamu harus melepaskan gelar putra mahkota mu" jawab Henry dengan hati-hati.


Richard menatap tenang ke arah ayahnya. "Tidak apa-apa. Jika memang aku harus melepaskan gelarku dan tidak menjadi raja Inggris, aku ikhlas Dad. Gelar itu bisa Daddy serahkan ke Louis."


Henry hanya tersenyum karena sudah menduga jawaban putranya. "Kamu yakin Son?"


"Daddy, aku sudah mencintai Alisha sejak dia kecil dan jika aku disuruh memilih Inggris atau Alisha, tentu saja aku memilih Alisha karena dia yang akan menjadi pasangan aku seumur hidupku." Richard memberikan tepukan di bahu ayahnya. "Alisha akan lebih bahagia jika memiliki pasangan yang tidak harus diributkan protokoler istana bahkan dia dengan gamblang tidak ingin menjadi ratu Inggris."


"Itulah yang Daddy dan mommy suka dari Alisha. Dia benar-benar gadis yang patut dijadikan menantu idaman."


"Kenapa Daddy bisa bilang begitu?" tanya Richard yang memang tahu kedua orangtuanya sayang dengan Alisha.


"Dia humble dengan siapa saja. Head butler bahkan laporan ke sekretaris istana kalau hanya princess Alisha, princess Violet dan princess Adonia yang selalu mengucapkan terimakasih dan memuji pelayanan pelayan dan juru masak. Keluarga kita sendiri, yang notabene keturunan langsung Anglo Saxon, sering tidak menghargai pelayan saat datang ke Kensington!"


"Alisha, Vio dan Adonia memang sama didikannya. Bisa dilihat kan bagaimana manner princess yang memang princess sebenarnya dibanding keluarga kita yang baru bergelar duchess, countess, marchioness atau lady, sudah sombong!" gerutu Richard yang sebal dengan beberapa kerabatnya.


"Sudah jangan cemberut. Ricky, jadi kamu serius mau melepaskan gelar kamu?" tanya Henry.


"Jika memang harus begitu demi kenyamanan bersama, aku ikhlas Dad. Lagipula, aku bisa kembali ke angkatan laut karena komandan aku meminta aku kembali..."


"Boy, jika kamu melepaskan semuanya, berarti kamu tidak bisa kembali ke angkatan laut" ucap Henry dengan nada menyesal.


Richard tersenyum. "Tidak apa Dad. Aku bisa membangun peternakan dan jadi petani bersama dengan Alisha. Apalagi aku kenal dengan Leonardo yang juga pemilik ranc dan bisa belajar darinya."


"Alisha malah sudah ingin kembali ke Indonesia mengurus pabrik beras milik keluarganya."


Raja Inggris itu mengacak-acak rambut putra sulungnya yang tampak santai saja meskipun nanti fasilitasnya dicabut jika menjadi rakyat biasa. "Kamu dan Alisha memang sama-sama tidak silau dengan gelar."


"Kata Rania selama darahku masih merah bukan biru macam Avatar atau hijau macam kadal, aku masih manusia. Dan Dimata Tuhan, semua manusia itu sama" senyum Richard.


"Hah? Avatar? Kadal?" Raja Henry tertawa. "Dasar Rania!"


Richard tersenyum. Meskipun dalam hati akan ada rasa kehilangan hak privilege yang unlimited tapi Richard yakin, kebahagiaannya bersama Alisha dan keluarga gesrek bobroknya adalah suatu kebahagiaan tersendiri.


***


Apartemen Rania Daerah Soho London Inggris


Alisha sedang bersimpuh diatas sajadah usai berdoa subuh ketika ponselnya berbunyi dan wajahnya tersenyum melihat siapa yang menelpon.


"Assalamualaikum mommy" sapa Alisha.


"Wa'alaikum salam sayang. Kamu masih di tempat Rania?" tanya Zinnia lembut.


"Masih. Mbak Rani dan Mbak Bia kayaknya baru keluar kamar habis sholat subuh" jawab Alisha yang mendengar percakapan kedua kakaknya dari kamarnya.


"Ya sudah. Sha, mommy mau bilang. Tadi malam Medeline menelpon mommy, dan kamu tahu pihak parlemen Inggris tidak menyetujui kamu bersama Richard."


"Alisha tahu itu mommy jadi Sha tidak apa-apa jika tidak bersama Richard..." ucap Alisha getir.


"Masalahnya tidak hanya itu. Richard tampaknya tidak masalah jika harus lepas gelar!"


Alisha terkejut. "Tapi kenapa... Richard seharusnya tidak boleh egois memilih aku, mom..."


"Sayang, jika seorang pria sangat mencintai seorang wanita dan itu tulus, maka dia akan mengorbankan segalanya demi bisa bersama."


"Seperti Daddy dan mommy?" tanya Alisha yang sudah tahu cerita percintaan kedua orangtuanya dari Shinichi dan Valentino.


"Seperti Daddy dan mommy. Mommy yakin, Richard sudah memikirkan matang-matang keputusannya. Anak itu kan macam mas mu yang selalu perhitungan dan tahu konsekuensinya" jawab Zinnia. "So bagaimana dengan perasaan kamu sendiri ke Richard?"


"Mungkin karena aku dari kecil sudah bersama Richard, jadi sudah nyaman dan rasa sayang itu selalu ada buatnya. Aku sayang dengan Richard sebenarnya mom cuma kan perbedaan kami banyak dan menyangkut dua negara."


"Alhamdulillah kalau anak itu tidak bertepuk sebelah tangan. Sayang, jika nantinya Richard menghubungi kamu dan sudah memutuskan, berikan support untuknya karena melepaskan gelar itu akan ada efek sampingnya."


"Iya mommy."


Tak lama usai Zinnia menelpon Alisha, Richard menghubunginya.


"Sha, jika aku tidak menjadi raja Inggris, bagaimana? Karena aku mungkin akan melepaskan gelarku" tanya Richard tanpa basa basi.


"Yang penting kamunya, Rich. Jika kamu sudah siap dengan konsekuensinya untuk melepaskan gelarmu, go ahead. Dan aku akan selalu mensupport apapun keputusan kamu karena kamulah yang tahu apa yang menjadi kebahagiaan kamu" jawab Alisha.


"Cukup support dan dukungan dari kamu itu sudah membuat aku semangat mengahadapi semuanya. Terimakasih darling."


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️