Kings And Queens

Kings And Queens
Alisha ke London



Istana Brussels Belgia


Pagi ini suasana di istana tampak riweuh karena putri bungsu Sean dan Zinnia akan berangkat ke London tanpa mau ada pengawalan sama sekali! Namun Sean tetap meminta pengawal untuk Alisha di London lewat Eagle McCloud.


Setelah drama unfaedah karena Sean tidak rela putrinya yang baru pulang sudah kabur melintasi Selat Dover, yang merupakan selat pemisah antara Inggris dan Eropa yang merupakan jalur transportasi laut tidak terbatas antara dua negara, akhirnya raja dan ratu Belgia itu pun berangkat ke bandara untuk mengantarkan putri bungsunya.


"Tapi kamu tuh baru pulang, Sha" rengek Sean sambil memeluk putrinya. Pria yang masih tampan di usianya kepala lima itu tampak tidak perduli beberapa staff dan pegawai bandara melihat kelebayan raja mereka.


"Ya ampun Dad, cuma ke London. Nggak ke Jakarta juga!" sungut Alisha yang gemas dengan daddynya. Sudah main blacklist Oomnya, tapi lebaynya sama saja.


"Nggak boleh kalau ke Jakarta!" ancam Sean yang membuat Alisha melengos.


"Iya iya! Anggap saja Sha ke Jerman. Repot amat!"


"Sean, udah dong. Tuh pada nungguin Alisha masuk pesawat. Kan sepuluh menit lagi take off" bujuk Zinnia yang gemas dengan suaminya


"Tapi Zee..." Sean menatap wajah cantik Istrinya sambil memajukan bibirnya.


"Kamu kok mirip Shinichi lama-lama..." kekeh Zinnia.


"Eh! Nggak ya! Beda jauh!" protes Sean tidak terima dibilang mirip dengan adik iparnya yang sering membuatnya darting.


"Ya sudah. Tuh sudah pada nunggu. Kamu hati-hati ya di London. Kalau ada apa-apa, bisa minta tolong Rania atau Tante Raine, Oom Charlie atau Oom Eagle ya" pesan Zinnia ke putrinya.


"Ya mommy."


Arsyanendra memeluk adik bungsunya. "Richard dan Louis sudah siap kalau kamu mau nonton konser di Hyde Park."


Alisha tertawa. "Aku sekolah mas, bukan jalan-jalan."


"See you kembaran. Kalau aku ada waktu libur dari tugas kerajaan yang menyebalkan..." Avaro melirik ke arah kedua orang tuanya yang mendelik sebal. "Aku pasti ke London."


"Bye Kembaran. Jangan lupa, hubungi Oom trio Kampret. Minta juklak terupdate!" cengir Alisha.


"Oh tentu saja! Penting itu!" balas Avaro sambil bertos ria dengan kembarannya.


"Heeeiii!" protes Sean.


Duo A cekikikan karena ayah mereka selalu sebal dengan ketiga Oomnya.


Akhirnya Alisha pun memasuki pesawat komersial yang akan membawanya ke Heathrow London.


***


Heathrow Airport London


Alisha sedang menunggu kopernya yang sedang antri muncul di conveyor belt ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.


📩 Richard Carrington : Kamu sudah sampai? Aku sudah sampai Heathrow.


Alisha celingukan mencari-cari sosok sahabat kakaknya yang sering seenaknya sendiri.


📩 Alisha Léopold : Masih nunggu koperku. Kamu dimana?


Tak lama Alisha melihat sosok Richard mengenakan topi dan masker dengan dua orang yang berdiri agak jauh yang gadis itu yakini adalah pengawal calon raja Inggris.


📩 Richard Carrington : Kalau sudah dapat kopernya, segera keluar.


📩 Alisha Léopold : Oke.


Tak lama dua koper besar Alisha pun datang dan gadis itu meletakkan Diatas troli yang sudah diambilnya tadi lalu berjalan keluar pintu kedatangan dan berbelok ke arah kiri tempat Richard berada.


Putra mahkota itu pun melepas topi dan maskernya saat melihat Alisha datang.


"Hai!" sapa Richard.


"Hai. Suatu kehormatan bagi saya yang bukanlah siapa-siapa dijemput oleh yang mulia putra mahkota" balas Alisha sedikit menekuk kakinya memberi hormat ke Richard yang tertawa melihat tingkah putri Belgia itu.




Alisha Léopold


"Yuk aku antar ke Kensington." Richard menggandeng tangan Alisha seperti kebiasaannya waktu kecil.


"Kok ke Kensington? Aku harus ke rumah McCloud."


"Mummy ingin bertemu kamu. So, kita ke Kensington dulu baru ke rumah bata." Richard memberikan kode kepada dua pengawal nya untuk membawa koper milik Alisha.


"Memangnya Tante Medeline tidak ada jadwal acara kerajaan?" tanya Alisha yang tidak memperhatikan bahwa banyak pasang mata menatap pasangan itu karena sudah terbiasa jika berjalan dengan Arsyanendra atau Alvaro. Bagi Alisha, berjalan bersama Richard itu sama saja dengan dua saudara laki-lakinya.


"Sengaja dikosongkan demi kamu" senyum Richard. "Mentang-mentang mummy tidak punya anak perempuan, jadi pas dengar kamu kuliah di London, mummy paling bahagia."


Sebuah mobil Range Rover anti peluru pun tiba di depan Richard dan Alisha. Pria itu mempersilahkan gadis itu masuk dan tak lama menyusulnya. Setelah semua barang-barang Alisha sudah masuk, mobil bewarna hitam itu melaju meninggalkan Heathrow Airport menuju istana Kensington.


***


"Yang mulia" panggil salah seorang pengawal yang duduk di depan.


"Yes John" jawab Richard.


"Sudah ramai di dunia Maya." John memperlihatkan iPadnya yang menampilkan berita


Future King and Future Queen? ( Raja masa depan dan ratu masa depan )


Is England will marry Belgium? ( Apakah Inggris akan menikahi Belgia )


Yay or nay? Prince Richard with Princess Alisha?


Alisha hanya melengos membaca berita yang jadi trending topik dimana-mana. Inilah yang membuatnya sebal menjadi seorang princess, semua tindak tanduknya selalu disorot media. Saat dia di Belgia atau pun Jerman, pemburu berita tidak seganas di Inggris.


"Dasar gosip, semakin digosok semakin sip!" gerutu gadis cantik itu.


Richard hanya menepuk kepala Alisha lembut. "Biarkan saja."


"Tapi memang deh, paparazzi disini lebih parah Rich daripada di Belgia dan Jerman. Aku dan Alvaro bisa dengan santai makan di bistro tanpa takut adanya orang jadi-jadian membawa kamera tele jarak jauh" omel Alisha.


"Jadi kamu tidak mau tinggal di London?"


"Nope. Aku inginnya suatu saat nanti, jika menikah dengan pria biasa, bukan bangsawan atau pun pengusaha dan aku akan tinggal di Indramayu yang tidak seramai London ataupun New York ataupun Jakarta."


Richard melirik ke arah Alisha. "Memang ada apa di Indramayu?"


"Pabrik beras keluarga aku. Mommy punya warisan pabrik beras dan ratusan hektar sawah yang sampai detik ini masih beroperasi. Selama ini yang mengawasi Oom V dan Oom Arka di bawah pengawasan firma hukum Oom Nelson dan Tante Nadya Blair. Kalau keuangan sudah ada akuntannya dari Opa Haris." Alisha memperlihatkan rumah, sawah dan pabrik milik keluarganya ke Richard. "Kalau aku sudah kesini, pasti main ke sawah sambil membantu menanam padi atau ikutan panen pas waktunya. Kena lintah santai saja."


"Lintah? Seriously Alisha. Kamu nggak papa kena lintah?" Richard bergidik membayangkan kaki mulus Alisha terkena lintah. Akan seperti apa itu kaki? Pasti merah - merah.


"Eh seru tahu! Disana malah aku nggak pakai gelar hanya sekedar putrinya Bu Zinnia Hadiyanto dan Pak Sean Léopold. Sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dengan uang, yaitu kebebasan aku berekspresi tanpa harus ada protokoler istana."


"Sha, bagaimana kalau jodoh kamu malah yang kamu tolak?" pancing Richard.


"No way. Aku tetap tidak mau orang berdarah biru karena aku darahnya merah" jawab Alisha tegas.


Richard hanya terdiam. Apa kamu mau melepaskan gelar princess kamu Sha?


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️