Kings And Queens

Kings And Queens
Sean Galau



Istana Brussels Belgia


Zinnia masuk ke ruang kerja Sean dan melihat suaminya tampak memegang kepalanya. Wanita yang sudah mendampingi lebih dari 25 tahun itu pun menghampiri suaminya yang tampak galau.


"Sean? Ada apa?" tanya Zinnia sambil mengelus kepala suaminya dengan lembut.


Sean tidak menjawab tapi pria yang masih tampan di usianya yang sudah kepala lima itu, memeluk pinggang Zinnia.


"Sean? Apakah kamu galau Alisha mau dilamar Richard?" senyum Zinnia yang tahu menurut rencana awal tahun Medeline ingin mengadakan royal wedding pada bulan Maret di London. Desember besok, keluarga Inggris akan datang ke Brussels untuk acara lamaran.


"Alisha masih kecil, Zee..."


"Alisha mau 22 tahun Sean. Tahun depan kan dia 22 tahun dan aku juga menikah di usia yang sama dengan Alisha. Apa kamu lupa Sean?"


"Tapi... bagi aku, Alisha masih bayi."


Zinnia mencium pucuk kepala suaminya. "Sean, calon suami Alisha sudah kita tahu karakter nya, kita sudah kenal dari kecil. Bahkan aku juga sempat bersama saat Richard bayi di Kensington. Kalau ada calon suami Alisha yang aku auto restui, hanya Richard" senyum Zinnia.


"Zee, apakah ini yang dirasakan papa Ayrton dulu?"


"Semua ayah yang memiliki anak perempuan pasti akan merasakan seperti apa yang kamu rasakan dan papa rasakan saat anak gadisnya diminta seorang pria." Zinnia duduk di pangkuan Sean. "Aku tahu kamu galau, tapi mau sekarang ataupun nanti tetap sama saja, Sean. Alisha akan diminta Richard. Lagipula, Richard tidak akan naik tahta jadi bisa bebas ke Brussels dan kita tetap bersama anak-anak."


Sean menatap wajah cantik istrinya. "Benar juga. Richard kan sudah lepas gelar dan bisa stay di London atau Brussels tidak ada masalah kan?"


Zinnia mengangguk. "See? Tidak seperti yang kamu bayangkan, Sean. Anak-anak tetap bisa kumpul disini hanya bedanya, kita ketambahan anggota keluarga baru. Pasti ramai Sean."


Sean meletakkan kepalanya di dada Zinnia. Posisi ini adalah posisi favoritnya jika sedang dalam masalah atau galau karena mendengarkan detak jantung istrinya itu adalah hal yang paling menenangkan baginya. "Itulah kenapa aku sangat mencintaimu, Zee. Kamu selalu menenangkan perasaanku yang galau."


Zinnia memeluk suaminya erat. "I love you too, Sean."


***


Brussels Belgia


Avaro sekarang berada di sebuah cafe yang menjual makanan khas timur tengah halal bersama dengan ketiga sepupunya, trio ABC. Kembar tiga yang merupakan anak dari Raj Rao dan Gemintang Lexington itu masih belum kembali ke kampus mereka di Jerman.


Ararya Rao atau biasa dipanggil Arya sedang kuliah di fakultas kedokteran hewan seperti sang ibu, Benoit atau biasa dipanggil Ben memilih kuliah di jurusan matematika dan berencana terbang ke Tokyo untuk ikut penelitian bersama dengan Oomnya Shinichi dan Tante Kedasih. Bungsu dari trio ABC adalah Charusmita yang biasa dipanggil Mita, adalah seorang balerina yang bersekolah di Ludwig - Maximilian University Munich. Mita sudah mempelajari balet dari usia lima tahun dan Semakin cinta dengan tarian itu. Selain mengambil studi balet, Mita juga kuliah di jurusan komputer di kampus yang sama.


"Kapan kalian kembali ke Munich?" tanya Avaro sembari memakan nasi kebuli nya.


"Minggu depan mas" jawab Arya. Trio ABC beda usia empat tahun dengan Avaro.


"Oom Raj dan Tante Mintang ditinggal lagi dong."


"Biar mereka pacaran lagi" sahut Ben cuek. Benoit atau Ben memang dikenal irit bicara tapi sekali buka mulut, sering membuat orang lain sebal. Kalau para opa dan Omanya sering bilang dia Opa Hoshi kedua.


"Aku nggak mau kesundul!" celetuk Mita. "Aku suka jadi anak bontot."


"Ya nggak mungkin kesundul, Mit. Kan Daddy dan mommy sudah bilang nggak bakalan punya anak lagi selain kita" jawab Arya. Sebagai anak sulung, Arya sangat melindungi adik-adiknya terutama Mita yang cenderung manja tapi bar-bar.


"Mita, katanya kamu ditawari menjadi model majalah Elle Jerman?" tanya Avaro.


"Iya. Mommy kasih tapi Daddy nggak kasih. Padahal bayarannya lumayan buat tambah tabungan" jawab Mita sambil manyun.


"Kok bisa kamu ditawari jadi cover majalah Elle?" Avaro mengakui kalau adiknya memang cantik dengan darah campuran mengalir disana. Disaat kedua kakak lelakinya mirip dengan sang ayah yang berdarah India, Mita lebih terlihat bule mirip sang ibu.


"Aku kan habis pertunjukan Swan Lake. Terus ada editor majalah Elle tertarik dengan wajahku tapi Daddy belum kasih lampu hijau." Sebulan sebelum acara pernikahan Arsya dan Violet, Mita memang tampil di gedung Opera Muenchen membawakan tari klasik Swan Lake karya komposer Pyotr Ilyich Tchaikovsky asal Rusia yang diciptakan tahun 1875-1876.


"Idiiihhh, aku masih 17 tahun mas" sahut Mita sambil mengerucutkan bibirnya. "Belum kepikiran kemana-mana. Tujuan utama, selesai kuliah terus gabung dengan Paris Opera Ballet."


Arya dan Ben hanya mendengarkan percakapan kakak dan adik mereka.


"Mas, katanya mbak Alisha mau menikah?" tanya Arya.


"Katanya. Richard sudah tidak sabar soalnya."


"Mas Richard beneran lepas gelar ya?" tanya Mita.


Avaro mengangguk. "Demi bisa bersama dengan Sha."


"So sweet..." senyum Mita.


***


British Royal Hospital London Inggris


Alisha sedang menyelesaikan tesisnya di ruang kerjanya di rumah sakit tempat dia bekerja. Menurut rencana akhir Desember dia akan maju sidang tesis.


Jossie dan Mary tampak menemani di dalam ruang kerja Alisha sembari memainkan ponselnya. Suara ketukan di pintu membuat ketiga gadis itu menoleh dan tampak wajah kusut Rania disana.


"Sha, boleh mbak masuk? Mbak butuh konseling..." pinta Rania.


Alisha mengangguk dan kedua pengawalnya pun keluar meninggalkan dua saudara itu berdua di ruang kerja Alisha.


"Ada apa mbak?" tanya Alisha yang merasakan bahwa kakaknya super galau.


"Sha, si Demit sudah melamar mbak ke Opa, Oma , mommy dan Daddy plus Rase..."


Alisha melongo. "Chris melamar mbak? Tanpa ada mbak di New York?"


"Iya! Rasanya pengen aku bacakan jampi-jampi Heng wilaheng sundel bolong!" gerutu Rania membuat Alisha terbahak.


"Astaghfirullah... Mbak! Tapi bagus dong kalau berani maju langsung ke pawangnya macam Richard langsung minta ke Daddy. Tapi salut lho sama Chris yang gagah menghadapi semua anggota keluarga mbak Rani."


"Ya respek sih tapi kan nganyeli tenan! Memangnya aku langsung iyain gitu?"


"Lha opa Joey gimana? Oom Sammy?"


"Opa? Opa langsung auto jabat tangan dong dan bilang 'Selamat datang di keluarga Bianchi'. Masih untung nggak pakai acara pasang spanduk segala!" gerutu Rania manyun.


Alisha tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan receh kakaknya. "Mungkin memang Chris jodohmu mbak."


"Njelehi!" umpat Rania sebal.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️