Kings And Queens

Kings And Queens
Alisha Dan Rania



"Rania!" panggil pria itu ke Rania yang memilih mengacuhkan dan menarik Alisha menjauh. Bahkan putri sulung Blaze Bianchi dan Samuel Prasetyo itu tidak perduli tatapan banyak orang.


"Mbak, dipanggil" ucap Alisha sambil menoleh ke belakang.


"Bodo amat! Males mbak!" sahut Rania cuek.


"Tapi mbak..."


Pria itu lalu mengejar Rania dan Alisha hingga berdiri di hadapan kedua gadis itu. "Rania, please. Dengarkan aku sebentar saja."


Alisha menatap pria bertubuh tinggi kekar itu dengan tatapan kepo. Jangan-jangan ini yang namanya Chris Armstrong.


"Mau dengarin apa lagi Chris?" ucap Rania dengan nada malas terdengar di telinga Alisha.


Benar, dia bernama Chris.


"Mbak, aku bisa sendiri kok. Mbak Rania sama Chris dulu saja" sela Alisha yang tidak mau ikut campur urusan kakaknya.


"Thanks, little girl. Aku memang ada urusan dengan kakakmu" senyum Chris yang membuat wajah Alisha memerah.


Senyumannya manis tapi kok mbak Rania merasa sebal ya.


"Heh! Playboy! Dia adikku! Jangan macam-macam!" bentak Rania galak dengan gaya hendak bertarung.


"Oh come on Rania. Aku hanya mencoba ramah."


"Kamu jangan seenaknya sama adikku! Ayahnya bisa membuat kamu menghilang dari muka bumi!" ancam Rania galak.


Alisha yang hendak pergi malah ditarik Rania dan mendorongnya ke belakang tubuh kakaknya. Alisha mengakui meskipun kakaknya tidak setinggi sang mommy, tapi sangat - sangat bar-bar.


"Mbak, sudah... Nggak malu apa dilihat orang banyak? Nanti ada laporan ke Daddy, mbak Rani bisa kena omel.." bisik Alisha demi memenangkan kakaknya.


"Eh? Duh, mati aku, Sha! Oom Sean bisa ribut sama papi..." balas Rania sambil berbisik juga.


"Kalian ngomong apaan sih?" tanya Chris sambil tertawa.


"Bukan urusan kamu, Armstrong! Ayo, kamu urus administrasi dulu, disana ruangannya, nanti mbak susul. Mbak urus demit satu itu dulu!" Rania menunjukkan ruang administrasi magister yang dijawab anggukan Alisha. Gadis itu pun memilih menjauh dari kakaknya dan pria bermata biru itu.


***


Alisha mengangguk sopan kepada semua pegawai administrasi yang sudah membantu pendaftaran ulang kuliahnya karena sempat ada berkas yang tertinggal di Brussels tapi bisa diselesaikan.


Setengah jam usai menyelesaikan urusannya, Rania baru datang menghampiri dirinya. Para pegawai tahu siapa yang datang, menyapa Rania dengan ramai dan akrab.


"Kok mbak Rani akrab banget?" tanya Alisa.


"Kakakmu ini memang terkenal disini sebagai alumnus paling brutal" gelak salah satu pegawai.


"Well, salahkan gen aku. Kamu sudah selesai Sha?" tanya Rania sambil menoleh ke adiknya.


"Sudah."


"Kalau begitu kita permisi dulu. Bye guys!" pamit Rania.


"Bye Rania, bye my lady" balas semua pegawai administrasi.


Alisha dan Rania pun keluar dari gedung administrasi sembari bergandengan tangan membuat Alisha merasa seperti anak kecil yang digandeng kakaknya yang memiliki tinggi 170 cm.


"Kok digandeng, mbak?"


"Biar kamu ga ucul ( lepas )" jawab Rania cuek.


"Ya Allah mbak, ada-ada saja. Nggak mungkin aku ucul, wong pengawalnya Daddy ada dimana-mana." Alisha tersenyum ke arah Rania. "Kita kemana nih?"


"Ke rumah sakit yaaa. Atau kamu mau pulang?"


"Ya udah yuk!" Rania mengajak Alisha masuk ke dalam mobil mini Cooper nya yang bewarna biru. Para gadis-gadis Pratomo sejak generasi kedua memang menyukai mobil kecil yang iconic di serial tv Mr Bean ( yang pakai acara digembok kalau parkir ) dan film Italian Job.



"Tadi beneran Chris Armstrong mbak? Pemain Dallas Cowboys? Favoritnya Opa Joey?" tanya Alisha setelah mereka berada di dalam mobil.


"Demit tadi? Iya. Kenapa?"


"Ya Allah mbak, kalau demitnya cakep begitu terus lainnya bentukannya macam apa?" gelak Alisha.


"Lebih serem dari Sadako?" kerling Rania.


Alisha tertawa. "Kok kemari mbak? Memangnya NFL tidak ada game?"


"Bulan Mei. Kan pertandingan NFL dimulai setelah hari buruh, tanggal 1 Mei. Jadi bisa datang lah dia, kan ini baru masuk Maret. Tuh anak kagak sadar apa ya, aku ogah sama dia!"


"Memangnya kenapa mbak? Cakep kok... Matanya biru macam mata Daddy dan mas Arsya."


"Playboy abis, Sha! Sok kecakepan! Jaman SMA saja terkenal gonta ganti pacar! Kan aku adik kelasnya, aku kelas satu dia kelas dua tapi usia muda aku dua tahun. Kamu tahu sendiri kan kita hobinya ikut akselerasi?"


"Jadi mbak Rani 14 tahun dia 16 gitu?"


"Yup. Kamu tahu pas prom night dia mau lulus, si demit itu nembak aku. Ya jelas aku tolak mentah-mentah! Siapa juga yang tabah sama cowok tukang tebar pesona? Eh, ndodro ( makin menjadi ). Kan kamu tahu Sha, 'Arek lanang iku kuoso milih, arek wadon kuoso nolak.'(Anak laki-laki bebas memilih, anak perempuan bebas menolak). Jadi suka-suka aku lah!"


Alisha semakin terbahak mendengar kakaknya yang casing bule tapi fasih bahasa Jawa. "Mbak Rani kok bisa bahasa Jawa sih?" Alisha sendiri paham dan bisa bahasa Jawa Ngoko dari sang mommy, Zinnia.


"Kamu tahu nggak Sha, aku tuh pas coas gabut terus iseng buka tawaran kuliah lagi dan ternyata adalah lho kuliah bahasa Jawa di kampus sini. Ya aku samber lah! Meskipun casing bule, tapi kan bokap wong Jowo. So, aku Soyo sumringah tho..."


Alisha semakin cekikikan mendengar ucapan kakaknya yang dikenal seenaknya sendiri. "Ya Allah mbak. Kok ya Kowe koplak tenan..."


"Nek aku ora koplak, rekoso aku, iso stress ( kalau aku tidak koplak, susah aku, bisa stress ). Makanya aku tuh memilih mana yang kudu dipikirkan mana yang kudu dibuang ke Empangnya opa."


"Balik ke Chris. Terus dia ditolak mbak Rani, gimana?"


"Ngoyak aku ( ngejar aku ) Sha. Apalagi dia dapat beasiswa dari kampusnya di Dallas University karena dia atlit American Football jaman SMA dan draft ke dua diterima di Dallas Cowboys. Pas dia pindah ke Dallas usai lulus, aku sudah bahagia saja tapi ternyata... Tetap ngoyak. Sampai nekad ketemu sama Opa hanya gara-gara tahu Opa fans Cowboys !"


"Buseetttt..."


"Tapi aku tetap ogah lah Sha. Dia selama di Dallas, sudah punya pacar dimana-mana. Makanya begitu aku lulus, aku langsung terbang ke London. Eh, ternyata sudah terpisah samudera Atlantik tetap saja Mak mecungul nongol! Aku curiga dia kesini pakai pintu kemana saja Doraemon atau nimbus nya Harry Potter" gumam Rania yang membuat Alisha tersenyum mendengar ucapan kakaknya yang memang fans kucing biru itu dan penyihir karangan JK Rowling.


"Mbak Rania tinggal di London sudah berapa tahun?" tanya Alisha.


"Mbak tahun ini 24, kabur ke London usia 16 jadi delapan tahun ya?"


"Jadi selama delapan tahun mbak direcoki si demit?" ucap Alisha.


Rania tertegun. "Ho oh ya. Kok suwi Wis San recoki aku ( kok sudah lama ternyata gangguin aku ). Tidak bisa dibiarkan!"


Alisha menggelengkan kepalanya.


***


Kalau suka interaksi kacau Rania - Chris, bisa dijadikan projects kapan-kapan. Kalau nggak suka, ya ta simpan saja draftnya 🤣🤣🤣


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️