Kings And Queens

Kings And Queens
Biana Pascal



Apartemen Rania di Soho London


Biana menatap tidak percaya melihat pria yang sudah mengejarnya sejak dirinya masih kuliah di Harvard.


"Ngapain tuh koboi cengeng kemari?" gerutu Biana kesal. Richard dan Alisha melongo. Koboi cengeng?


"Cari siapa?" tanya Rania sambil memencet tombol speaker.


"Biana Pascal. Rania, Biana disitu kan?" jawab Leonardo.


"Seriously singa gurun, ngapain cari Bia?" balas Rania.


"Please, Rania. Dia memblokir nomorku. Boleh kah aku naik?" pinta Leo.


Rania menoleh ke arah sepupunya. "Gimana?"


"Suruh masuk lah, daripada di luar jadi gembel dan lumutan!" balas Biana cuek membuat Richard dan Alisha melengos.


Rania pun memencet tombol kode untuk bisa membuka akses Leonardo masuk.


"Mbak, perasaan Tante Dira dan Oom Pedro kalem, kok elu bar-bar begini?" komentar Alisha.


"Sha, yang di New York siapa saja?"


"Oom Bayu, Oom Gio, Oom Moru..."


"Mereka?"


Alisha hanya bisa mendengus sebal mengingat ketiga Oom itu sama saja ajarannya dengan trio kampret! Mau kamu cewek sekalipun, kalau kamu benar, pertahankan argumen itu! Apapun caranya!


"Biang bar-bar selain Tante Bee..." jawab Alisha pelan.


"Aku besar sama?"


"Mbak Rania..."


"Sudah tahu kan alasannya?" jawab Biana lugas membuat Richard menggelengkan kepalanya. "Eh mantan mahasiswa aku, dengar ya! Kalau kamu memang suka sama Alisha, kamu harus tahu bagaimana keluarga nya. Tidak hanya keluarga Oom Sean dan Tante Zee saja tapi sepupunya Alisha juga yang cantik dan paripurna ini."


"Astagaaa! Narsis nya" kekeh Richard.


"Narsis itu wajib! Apalagi kamu punya skill dan penampilan menunjang asal jangan berlebihan."


"Bukannya itu percaya diri?" celetuk Richard.


"Kalau versi aku, narsis dulu. Lu ngaca di depan kaca 'Gue cantik, gue pintar' nah begitu sudah yakin seyakin-yakinnya, percaya diri lu pasti hadir dengan maksimal!" balas Biana.


Wajah gadis itu tampak manyun ketika Rania membuka pintu apartemennya. Tak lama seorang pria tinggi bermata biru itu masuk ke dalam apartemen.


"Halo Bia" sapanya dengan nada rendah yang membuat Biana melengos.


"Woi, mata jangan lihat Bia saja. Tuh ada pangeran Inggris dan putri Belgia. Kasih hormat sana!" ujar Rania judes.


Leonardo melihat ke arah dua orang yang menjadi topik trending di seluruh dunia tentang hubungan keduanya.


"Your Highness..." Leonardo membungkuk hormat ke arah Richard dan Alisha yang masih memindai pria itu.


"So, Mr Rossi. Apa yang membuat anda datang ke London?" tanya Richard dengan aura pangerannya.


"Dia." Leonardo menunjuk ke Biana yang masih asyik bermain ponsel.


"Ada apa, Singa gurun?" tanya Biana polos.


"Kamu janjinya mau nonton pertandingan Rodeo di New York tapi malah kabur ke London."


Biana melongo begitu juga dengan tiga orang lainnya yang berada di apartemen itu. "Kapan?" tanya gadis itu bingung.


"Waktu aku datang ke Harvard pertukaran mahasiswa dengan Dallas University. Kamu bilang akan datang saat pertandingan aku di New York. Setelah sekian tahun, janjimu tidak kamu tepati! Sekarang malah pergi ke Inggris!"


Ketiga orang disana langsung menatap tajam ke Biana yang menggaruk kepalanya. "Aku kok lupa..." gumamnya dengan wajah bingung.


"Seriously Bia!" hardik Richard gemas sambil mengusap rambutnya kasar. "Sha, aku pusing. Lebih baik aku pulang daripada melihat drama mantan dosenku yang absurd itu!" Pangeran Inggris itu pun berdiri. "Bia, Rania, jangan bikin rusuh London!"


"Aku tidak janji kalau itu Rich!" balas Rania cuek.


"Aku cuma mau bikin rusuh Oxford! Enak saja main kirim orang dari Harvard! Ditolak lagi keberatan aku!" sungut Biana.


Richard menggelengkan kepalanya sebal. "Aku pulang dulu!"


"Pulang Sono! Kembali lah ke istana mu!" balas Rania.


Alisha hanya tersenyum melihat interaksi Richard dan dua kakak bar-barnya. Gadis itu lalu berdiri dan mengantarkan pria bermata biru itu ke pintu apartemen.


***


"Ampun deh kedua kakakmu itu" gerutu Richard setelah sampai di pintu apartemen. "Kamu jangan sampai ketularan ya? Apa salah ya mengijinkan kamu kuliah disini dan aku lupa memeriksa sepupumu itu."


Alisha tertawa. "Sudah, mungkin memang aku harus bersama dengan para sepupuku. Oh, apakah besok weekend kalian jadi balapan?".


"Jadi lah Sha. Kamu aku jemput ya..."


"Jangan lupa, ada princess Eléonore yang cemburu padaku" goda Alisha mengingat sepupunya yang masih kecil itu sudah mengklaim Richard.


"Aaarrrgggghhhh... aku lupa, ada putri manja satu itu!" Richard memukul jidatnya. "Lihat besok saja lah!"


Alisha tertawa.


"Sama siapa?" Alisha menatap bingung.


"Princess Eléonore."


"Haruskah?" jawab Alisha kalem.


"Benar-benar deh kamu tuh!" Richard mencium pipi dan kening Alisha. "Kalau di dalam ada pertumpahan darah... Just run, okay?"


Alisha terbahak. "Masa sebrutal itu sih?"


"Apa kamu lupa Rania dokter bedah?"


Alisha tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Sudah pulang sana."


"Besok sudah mulai masuk kuliah kan?" tanya Richard.


"Iya."


"Semangat Sha!"


Alisha mengangguk. Richard menatap sayang ke gadis itu dan kembali mencium pipi dan kening Alisha seperti biasanya dia lakukan setiap pulang ke Inggris kalau datang ke Belgia.


"Rwy'n dy garu di ( I love you - Welsh )" bisiknya.


Alisha menatap Richard bingung. "Bahasa apa itu?"


"Bahasa nenek moyang ku."


"Artinya?"


Richard tersenyum manis. "Ada deh! Aku pulang dulu Sha." Richard berjalan mundur menuju lift seolah tidak mau berpisah dengan gadis itu.


"Hati - hati" senyum Alisha sambil melambaikan tangan.


***


"Aku tidak merasa berjanji padamu, Singa gurun!" ucap Biana judes.


"Kamu berjanji padaku, Bia" balas Leonardo kalem.


"Oh ya ampun..." Biana memegang pelipisnya.


Alisha menatap layar intercom apartemen kakaknya. "Mbak Bia, pesanan kamu sudah datang."


Biana bergegas menuju pintu dan keluar dari apartemen Rania ke arah lobby.


"Memang Bia pesan apa?" tanya Leonardo ke Rania.


"Lingerie" jawab Rania cuek tapi mampu membuat wajah Leonardo memerah.


"Lingerie buat apa?" tanya Leonardo dengan nada dingin.


"Ya dipakai lah! Masa dimuseumkan?"


"Buat siapa?" Alisha bisa mendengar nada cemburu yang amat sangat.


"Buat Bia sama pacarnya lah..." Entah kenapa Rania ingin menggoda pria asal Texas itu.


"Apa? Pacarnya Bia disini? Mana orangnya? Siapa?" Wajah Leonardo tampak mengeras dan raut jengkel serta cemburu tersirat disana.


Alisha tak tahan lalu tertawa terbahak-bahak membuat pria itu menoleh.


"Apa ada yang salah princess?"


"Leo, kamu dikerjain mbak Rania. Mbak Bia cuma ambil makanan pesanannya" gelak Alisha yang tidak tahan melihat Leonardo sibuk dengan kecemburuannya.


"Benarkah?" Nada suara Leonardo mulai melunak tapi menatap judes ke Rania.


"Apa?" balas Rania acuh.


Suara pintu apartemen terbuka membuat ketiga orang itu menoleh.


"Makanan sudah dataaannggg!" seru Biana dengan semangat tapi setelahnya gadis itu merasakan ada sesuatu membuatnya menatap bingung. "Ada apa ini?"


"Benar itu makanan Bia?" tanya Leonardo dingin.


"Ini nasi lemak dan nasi kandar. Kenapa?" balas Biana bingung.


"Bukan lingerie?"


"Hah ? Lingerie? Dalam kotak makan ini? Seriously? Siapa yang bilang aku beli lingerie?" tanya Biana semakin bingung.


Leonardo melirik tajam ke Rania.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️