
Kamar Alisha
"Mommy... Sha tidak mau punya kekasih atau menikah dengan bangsawan. Sha sudah jenuh dengan protokoler istana... Sha ingin hidup layaknya sepupu Sha yang lain. Macam mbak Rani yang bebas gedubrakan tanpa memikirkan konsekuensinya, atau mbak Bia yang bisa kemana-mana tanpa harus ada pengawal..." keluh Alisha.
"Alisha, mommy tahu kamu tidak nyaman di istana tapi tanpa sadar, kamu menikmati menjadi bagian kerajaan Belgia. Kamu bisa masuk ke bangsal anak-anak di rumah sakit tanpa harus ijin..."
"Mommy tahu?" Alisha menepuk jidatnya. "Para pengawal laporan ke mommy."
"Ada kelebihan yang kamu dapatkan dari seorang princess, yaitu kamu mendapatkan hak privilege tidak terbatas. Mommy bangga kamu memanfaatkan hak kamu itu dengan baik. Sha, apa kamu tidak berpikir kalau kamu bisa membantu siapapun yang membutuhkan dengan status kamu?"
"Seperti ke bangsal anak-anak?" tanya Alisha. Dirinya memang sangat menyukai anak-anak dan tidak heran program master nya psikologi anak.
"Benar sayang. Sudah, begini saja. Soal Richard, kita lihat saja waktu berjalan dan selama itu, kamu tetap fokus kuliah dan melakukan hal yang kamu suka seperti menemui anak-anak di rumah sakit seperti yang biasa kamu lakukan di Belgia. Mommy yakin, Tante Medeline tambah senang ada kamu yang menemaninya untuk acara amal."
"Ah aku lupa! Besok Sabtu aku sudah janji ke Kensington untuk acara weekend bersama Tante Medeline" seru Alisha.
"Kamu bisa tuh minta ijin sama Tante Medeline untuk diberikan akses ke bangsal anak-anak di waktu senggang kamu untuk menemani dan menyemangati mereka disaat waktu kamu kosong." Zinnia tersenyum ke arah putrinya yang selalu semangat jika menyangkut anak-anak.
"Mommy... Jika aku dan Richard tidak berjodoh?"
"Sayang, kan mommy sudah bilang biarkan waktu yang berbicara. Jika kalian berjodoh, ya kamu harus terima, jika tidak berarti Allah sedang menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kamu" jawab Zinnia bijak.
"Siapa jodoh siapa? Zee, Alisha masih kecil! Tidak ada jodoh - jodohan!" protes Sean yang baru saja masuk ke ruang kerja istrinya.
"Siapa yang jodohin? Ini aku dan Alisha sedang berbicara jodoh, bukan jodohin!" sergah Zinnia yang tahu suaminya sangat protektif ke putri bungsu mereka.
"Alisha sayang, bilang sama Richard, no gandengan tangan! Oke? Daddy nggak suka! Kalau perlu, Daddy telpon Richard sekarang!" omel Sean. "Kamu kasih tahu Medeline! Yang boleh gandeng Alisha cuma aku, Arsya dan Alvaro! Diluar itu termasuk oom trio kampret, dilarang!"
"Astaghfirullah... Sean! Bukannya Richard dari kecil sudah sering menggandeng Alisha? Memang salah dimana?" Zinnia menatap Sean geli.
"Karena Daddy melihat ada sorot mata berbeda di Richard. Dia suka kamu kan Sha?" tembak Sean yang membuat Alisha gelagapan.
"Daddy..."
"No, Alisha masih kecil! Aku tidak mengijinkan Richard sama Alisha sampai putriku menyelesaikan masternya..." Suara Sean menghilang ketika Zinnia mencium pipinya.
"Diam dan dengarkan aku dulu!" Zinnia menuntun Sean untuk duduk di sebelahnya. "Richard memang suka dengan Alisha tapi putri kita menganggap Richard seperti Arsya. Sean, jangan dilarang karena pria kalau sudah suka, semakin dilarang semakin nekad. Macam siapa coba?" goda Zinnia membuat wajah Sean memerah teringat saat dulu dia mengejar Zinnia. ( Baca The Prince and I ).
"Daddy, aku memang belum ingin pacaran dulu tapi Richard memang sudah menyatakan suka padaku. Aku belum memutuskan dan kata mommy, let's wait and see ke depannya bagaimana. Kalau memang jodoh ya nggak kemana kan?" bujuk Alisha yang tahu Daddynya bakalan kebakaran jenggot tahu anak gadisnya ditaksir seorang pria.
"No! Tetap tidak boleh pacaran!" eyel Sean.
"Dih, yang mau pacaran juga siapa Daddy..." Alisha menatap gemas ke Daddy tampannya.
"Kamu ke London buat apa Sha? Sekolah kan? Ya sudah sekolah..." ucap Sean yang membuat Zinnia cekikikan karena gaya suaminya menggemaskan.
"Sean darling, anakmu itu sudah paham. Kamu tuh ..." kekeh Zinnia.
"Zee, kamu tidak tahu, ramai dibicarakan kalau Richard sudah melabuhkan hatinya ke Alisha! Melabuhkan hatinya!! Itu kan kalimat sok puitis yang membuat aku kebat kebit! Apa jadinya kalau Henry tiba-tiba menelpon aku dan hendak melamar Alisha?" Sean menatap istrinya dengan wajah panik.
"Daddy, aku sudah bilang di depan Oom Henry dan Tante Medeline kalau aku menganggap Richard seperti mas Arsya..."
"Sudah kamu tolak kan? Bagus! Kamu masih kecil Sha... masih... Tunggu! Kamu sudah nolak di depan Henry dan Medeline tapi Richard tetap ngeyel dan menyatakan perasaan sama kamu... Oooohhhh kepalaku pusing..." ucap Sean sambil memegang kepalanya.
Alisha hanya melengos gemas dengan ayahnya yang semakin tampan meskipun menjelang kepala lima. Tapi juga semakin Membagongkan.
"Sudah begini saja daripada kita ngobrol ngalor ngidul wetan lor nggak jelas, kita tahu Richard menyatakan perasaannya pada Alisha tapi sampai detik ini Sha masih belum memberikan jawaban. Ya sudah, kita lihat saja nanti, Sean." Zinnia memegang wajah suaminya yang manyun.
"Zee, kenapa Alisha sudah besar ya..." gumam Sean lebay.
"Oh Tuhanku..." Giliran Alisha yang pening melihat Daddynya lebay.
***
Alisha memulai pagi ini dengan datang ke kampusnya untuk menghapal gedung dan ruang kuliahnya yang akan mulai Senin depan. Tadi dirinya memutuskan meminjam mobil Mini Cooper milik Raine yang tidak mencolok macam Ferarri atau Lamborghini atau Aston Martin yang berjejer di garasi keluarga McGregor.
Gadis itu pun meminta pengawalnya jangan sampai terlihat mencolok hingga dua pria itu berjalan terpisah namun tetap mengawal Alisha. Gadis itu mencatat di iPad nya nama ruang dan gedung karena Alisha memiliki kelemahan, sering melupakan nama ruang kuliahnya. Hingga akhir nya dia dibantu oleh Oomnya Giordano, membuat aplikasi khusus untuk dirinya peta kuliahnya.
Zinnia sampai bingung dengan putrinya yang cerdas tapi payah menghapal ruang sekolah dan itu dari kecil. Dulu waktu masih sekelas dengan Alvaro, Alisha ada yang menuntut tapi begitu kuliah dan tidak bersama dengan kembarannya, berantakan semua. Akhirnya Oom Gio nya yang membantu keponakannya itu membuat maping gedung kampusnya.
Alisha keluar dari gedung kampusnya dan hendak berjalan menuju mobilnya saat melihat sesosok pria yang bertemu dengannya kemarin.
"Little girl!" seru pria yang memakai Hoodie hitam dan celana jeans.
"Chris Armstrong" balas Alisha anggun sambil memberikan kode ke kedua pengawalnya untuk tidak berbuat apa-apa.
"Mana kakakmu? Aku kira dia bersamamu di kampus."
"Mbak Rania di rumah sakit, Chris" jawab Alisha tenang.
"Aku sudah cari kesana tapi pihak rumah sakit bilang..." Mata biru Chris tampak berkilat jengkel. "Raniaaaa!!!!"
Alisha cekikikan karena tahu kakaknya ngerjain pria tampan ini.
"Awas kamu Rania!" umpat Chris kesal.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️