Kings And Queens

Kings And Queens
Usilnya Rania



British Royal Hospital


Alisha melanjutkan rutinitas pekerjaannya sebagai konselor disamping harus kuliah program magister. Putri Belgia itu sangat menikmati hari-harinya yang selalu bewarna dengan para klien-kliennya plus kakak sepupunya si biang bar-bar.


Siang ini, Alisha menkonseling seorang gadis cilik yang memiliki phobia melihat sayur. Jika tidak doyan sayur masih wajar tapi gadis cilik ini jika melihat sayur langsung keringat dingin dan nyaris pingsan. Sayur apapun terutama yang hijau-hijau.


Rupanya waktu dia berumur tiga tahun, kakak sepupunya memberikan salad yang diberikan cacing hingga membuat nya trauma berat. Alisha rasanya ingin menendang sepupu gadis cilik itu karena selama lima tahun terakhir, membuatnya bermasalah di sekolah setiap acara makan siang hingga dikucilkan oleh teman-temannya.


"Kita coba pelan-pelan ya. Kalau lihat wortel bagaimana?" tanya Alisha lembut.


"Nggak papa" jawab Amy, nama gadis itu.


Alisha sudah menyiapkan satu bowl sayur-sayuran. Perlahan gadis cantik itu mengeluarkan wortel dan meminta Amy memegang nya dan tampak Amy masih takut. Begitu saat melihat tomat, masih belum terlalu reaksi. Tapi saat Alisha mengeluarkan lettuce, wajah Amy langsung memucat dan hampir histeris hingga Alisha menyimpan bowl nya ke belakang.


Alisha memegang tangan Amy sembari memberikan kata-kata menenangkan. "It's okay Amy. Kita minum dulu ya?" Alisha mengambil botol air mineral yang diberikan kepada Amy.


Alisha membantu membukakan tutup botolnya karena tangan Amy gemetaran hingga tidak mampu membukanya.


"Kita selesai sampai disini dulu ya Amy. Kalau di rumah, perlahan kamu mulai mencoba melihat tomat dan wortel dulu. Lalu seperti tadi Miss Alisha ajarkan, pegang barang lima detik. Diulang sampai kamu nyaman... nanti frekuensi nya makin lama..."


"Akan Amy coba miss Alisha..."


"Memang akan lama tapi Miss Alisha yakin kamu bisa melawan phobia kamu. Oke? Kita lawan bersama sama ya?" senyum Alisha.


"Miss Alisha..."


"Yes Amy?"


"Bolehkah Amy peluk? Amy suka konsultasi dengan Miss Alisha."


"Boleh saja" jawab Alisha.


Gadis cilik itu lalu memeluk Alisha. "Konselor Amy yang dulu galak! Amy dimarahi karena takut sayur..." isak Amy.


Alisha membalas pelukan Amy. "Sudah... tidak apa-apa. Amy kan sudah konsultasi dengan Miss Alisha."


Amy mengangguk lalu mengurai pelukannya. Alisha mengelap air mata gadis cilik itu dengan selembar tissue yang tersedia di mejanya.


"Besok kita mulai belajar memegang sayur lagi ya? Nanti kalau Amy sudah siap, sudah tidak takut lagi dengan sayur... kita belajar memakannya ya?"


Wajah Amy tampak bergidik.


"Tidak sekarang Amy, kita sembuhkan dulu phobia kamu, baru kita mulai belajar makan." Alisha mengusap kepala Amy.


"Baik Miss."


"Ayo miss Alisha antar ke mummy kamu." Alisha lalu menggandeng gadis cilik itu keluar ruang konseling dan tampak


"My Lady, bagaimana Amy?" tanya ibu Amy.


"Progress nya bagus tapi memang harus pelan-pelan karena traumanya sangat membekas terlalu dalam."


Ibu Amy menatap putrinya yang sedang memakai jaket. "Rasanya aku ingin membalas perbuatan sepupunya yang membuat putriku seperti ini."


Alisha mengelus bahu ibu Amy. "Kita fokus dengan terapi Amy saja ma'am."


"Yes my Lady. Terimakasih."


***


Cafetaria British Royal Hospital London


"Phobia sayur? Sayur? Sawi, selada, celery, drill, rosemary... sayur? Kangkung, bayam, pokchoy?" Rania menatap adiknya bingung. "Sayur?"


"Iya mbak. Mau disebutkan berapa banyak lagi?" kekeh Alisha.


"Kok bisa?"


"Jadi waktu kecil itu dia dikasih semangkok salad dengan cacing tanah. Dan itu jumlahnya banyak sampai dia sangat-sangat trauma" jawab Alisha.


"Siapa yang kasih?"


"Sepupunya."


Rania menatap jahil ke Alisha. "Umur berapa sepupunya?"


"Sepupunya cowok atau cewek?"


"Please, don't!" Alisha sudah tahu kakaknya pasti kumat jahilnya. "Aku saja ingin menendang sepupunya!"


"Jangan cuma di mulut dong, Action!"


"Mbaaaakkk... "


"Ayo Sha, kasih tahu dimana sepupunya. Biar dia tahu rasanya trauma seperti apa!" cecar Rania.


"Serius deh, kamu tuh dokter tapi kok brutal sih!"


"Hei, trauma dibalas trauma dong! Baru impas."


Alisha hanya menggelengkan kepalanya.


***


Dua Hari Kemudian...


Rania dan Alisha libur hari ini sehingga mereka mencari sepupu Amy bernama Fillan. Kedua wanita itu berada di dalam mobil mini Cooper milik Rania yang terparkir di pengkolan jalan flat Fillan sehingga tidak terlihat.


"Apa yang akan kamu lakukan mbak?" tanya Alisha yang bingung kenapa kakak nya memakai Hoodie hitam dan celana jeans hitam ditambah topi Beanie hitam. Mbak ku macam maling!


"Kamu lihat saja." Rania dan Alisha melihat Fillan berjalan sendirian menuju rumahnya dan bocah berusia dua belas tahun itu mengenakan jaket Hoodie dan seragam sekolah.


Rania pun memakai syal untuk menutupi wajahnya lalu menaikkan tudung hoodienya. Gadis itu keluar dari mobil lalu mengambil sebuah toples disana. Rania sebelum nya mengaktifkan hack CCTV yang berada disana sehingga saat Fillan datang, tidak terlihat.


Setelahnya Rania berjalan berlawanan arah dengan Fillan dan bersiap melepaskan sesuatu dari dalam toples kecilnya. Saat berpapasan dengan Fillan, Rania menuangkan semua isinya di dalam tudung Hoodie Fillan. Setelahnya dengan santai Rania berjalan seolah tidak apa-apa. Entah kebetulan atau apa, area rumah Fillan memang sepi sehingga tidak banyak saksi.


Rania pun masuk ke dalam mobil yang diparkir sambil menunggu jeritan dan tak lama terdengar lah suara jeritan melengking. Rania lalu menonaktifkan hack CCTV area sana, menonton nya dari iPadnya dan melihat Fillan melompat - lompat berusaha menghilangkan binatang yang berada di badan dan bajunya. Tak lama ibunya keluar dan ikut berteriak saat melihat binatang apa yang berada di tubuh anaknya.


Alisha hanya bisa memegang pelipisnya sedangkan Rania tertawa terbahak-bahak merasa senang bisa ngerjain Fillan.


"Ya Allah mbak, kamu umur berapa?" gerutu Alisha.


"Tidak ada kata terlambat dan tua untuk menjahili seseorang" jawab Rania cuek.


"Memang apa yang kamu simpan di toples itu?" tanya Alisha.


"Semua binatang menjijikan" cengir Rania dengan wajah super menyebalkan dan sorot mata jahil.


"Sebutkan."


"Well, ada worm meat, maggots, kecoa Madagaskar dan cacing tanah ..."


Alisha melongo. "Astaghfirullah..."


"Hei, semua bahan ada di laboratorium jadi tinggal ambil saja lah!" kekeh Rania yang merasa puas melihat wajah Fillan dan ibunya pucat pasi hingga menangis ketakutan.


"Mbak, itu namanya nambahin trauma."


"Bodo Amat! Yang penting dia tahu, itu rasanya kalau kamu usil!" Rania menstater mobilnya dan meninggalkan area itu.


Alisha hanya menggelengkan kepalanya. "Ya Allah, itu semua kan bintang paling nggak banget deh! So gross!"


"Ben kapok! Yakin dia akan konsultasi phobia dirembeti binatang menjijikan!"


"Asal jangan sama aku deh!" doa Alisha.


Rania tertawa. "Duh senangnya hari ini bisa kerjain orang ! Aku butuh healing tahu!"


"Ya tapi nggak gini juga healingnya mbaaaakkk..." ucap Alisha gemas.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️