
Kensington Palace London Inggris
"Sha, kamu pulang jam berapa dari Kensington?" tanya Biana.
"Tergantung Richard."
"Kamu minta didrop saja di apartemen Rania. Kita ghibah!" ajak Biana.
"Nanti aku bilang ke Richard mbak."
"Apa yang bilang ke aku?"
Alisha menoleh dan tampak Richard sudah berdiri di belakangnya.
"Apakah itu prince Richard?" tanya Biana.
"Iya mbak" jawab Alisha yang menatap Richard tidak suka karena pria itu terlalu kepo.
"Siapa itu Sha?" tanya Richard sambil mengedikkan dagunya ke arah ponsel yang dipegang Alisha.
"Mbak Biana."
"Biana? Biana Pascal? Kemarikan." Richard meminta ponsel Alisha yang diserahkan oleh gadis itu.
"Biana" ucap Richard dingin.
"Richard" balas Biana sama dinginnya. Semua sepupu Alisha memang terbiasa memanggil dua pangeran dari Inggris itu dengan nama. Dan hanya keluarga Pratomo yang diijinkan memanggil mereka tanpa gelar.
"Ngapain kamu ke London?"
"Suka-suka akulah! Dengar, Richard, tolong kamu antarkan adikku ke apartemen Rania. Secepatnya!"
Richard melongo. "Seriously, Bia! Apa kamu lupa aku siapa?"
"No, aku tidak lupa. Kamu adalah mantan mahasiswa ku yang paling malas buat tugas!" balas Biana judes.
Richard terbahak. Dulu saat Richard kuliah di Oxford, Biana adalah dosen tamu mata kuliah matematika. Seperti sang ibu yang mengambil kuliah filsafat, Biana mengambil kuliah bidang matematika di Harvard University.
Biana termasuk jenius karena sudah masuk Harvard di usia 14 tahun membuat keluarga besarnya heboh karena dia menjadi yang termuda masuk Ivy league.
Biana menyelesaikan sarjananya di usia 18 tahun dan mulai mengambil program PhD nya di usia 20 tahun setelah setahun bekerja sebagai guru matematika di sebuah SMA. Biana mendapatkan tawaran untuk menjadi dosen tamu di Oxford dan bertemu dengan Richard yang sedang menyelesaikan studinya di sana.
Dan mereka punya cerita tersendiri yang membuat Richard sebal dengan gadis bar-bar itu. Untung Alisha tidak ikut ke bar-bar an para saudara perempuannya.
"Iya nanti aku antar jam sepuluh dari Kensington. Ini kan baru jam setengah sembilan" jawab Richard santai.
"Jangan ngaret!" Biana lalu memutuskan panggilannya.
Richard menggelengkan kepalanya. "Ya ampun, Sha. Nggak Rania, nggak Biana, kenapa sih pada bar-bar? Untung kamu nggak..." gumamnya sambil menyerahkan ponsel gadis itu.
Alisha hanya tersenyum tipis.
***
Setelah mengetahui siapa yang menelpon dan bukan sesuatu yang mengkhawatirkan, Medeline dan Henry tampak lega. Dan sesuai dengan janjinya, Richard mengantarkan Alisha menuju apartemen milik Rania.
"Biana ngapain sih ke London? Jangan-jangan jadi dosen di sini pula! Ampun deh, London penuh dengan cewek bar-bar sepupu mu" gerutu Richard.
"Aku tidak tahu Rich. Kan baru nanti aku dapat update ghibah nya" kekeh Alisha yang terkadang gemas juga dengan dua kakak perempuannya yang seenaknya dengan Richard. Dasar cicit mafia !
"Siapa sih cowok yang ngejar dia?" tanya Richard.
"Namanya Leonardo Rossi, half Italian half American. Dia atlet Rodeo dan pemilik Ranch di Texas."
"Orang Texas lagi?" seru Richard mengingat Rania dikejar - kejar oleh Chris Armstrong.
"Chris anak New York yang nyasar ke Texas tepatnya, kalau Leo memang asli Texas."
"Itu berdua gimana bisa bertemu?"
"Mbak Bia dan Leo? Aku tidak tahu, hanya tahu Leo memang mengejar mbak Bia sejak setahun lalu."
"Aku tidak heran kalau banyak pria yang jatuh cinta dengan gadis-gadis keluarga Pratomo" senyum Richard.
"Kenapa?" Alisha menatap Richard penasaran.
"Kalian itu limited edition dan hanya pria-pria tangguh, juga limited edition dan berani maju tanpa takut yang berhasil mendapatkan perhatian dan cinta kalian..." jawab Richard serius.
"Berarti, pasanganku nantinya pria tangguh dan limited edition gitu?" tanya Alisha. "Duh, siapa ya..." Gadis itu menatap luar jendela mobil mewah Richard sedangkan pangeran itu melongo tidak percaya dengan reaksi Alisha.
"Ya ampun Shaaa!" gerutu Richard gemas lalu mengacak-acak rambut gadis itu.
Richard menggelengkan kepalanya. "Tidak apa - apa. Aku suka kamu Sha."
"Bukannya dari dulu kamu suka aku Rich? Bahkan belain aku kalau dinakali Varo?" senyum Alisha manis.
"Alisha... serius akuuu..."
Alisha terbahak. "Ya ampun Rich, kalau orang melihat kamu seperti ini, tidak ada yang menyangka kamu pangeran dan putra mahkota."
"Aku kan hanya seperti ini kalau bersamamu. Karena, kamu wanita yang membuat aku nyaman, Sha." Richard menatap Alisha serius saat mobil mereka berhenti terkena lampu merah.
Alisha balas menatap Richard dan melihat mata biru itu menatapnya seperti Daddynya kalau menatap sang mommy.
"Really?"
Richard mengangguk namun setelahnya dia harus melajukan mobilnya karena lampu sudah hijau. Alisha menolehkan kepalanya ke jendela mobil dengan berbagai macam pikiran berkecamuk di kepalanya.
***
Apartemen Rania Daerah Soho
Wajah Biana tampak judes melihat mantan mahasiswa nya berdiri dengan sok melindungi adik sepupunya.
"Wahai mantan mahasiswa ku yang malas buat tugas..." salam Biana sambil membungkuk hormat.
"Wahai mantan dosenku yang galaknya aduhai..." balas Richard cuek.
"Apaan sih kalian berdua itu" kekeh Alisha. "Halo, mbak Bia. Ada acara apa ke London?" sapa gadis itu sambil memeluk kakaknya yang tinggi semampai bagaikan model.
"Biasa, Harvard kurang kerjaan harus tukeran mahasiswa PhD ke Oxford" jawab Biana. "Ayo masuk."
Mereka pun masuk ke apartemen mewah Rania yang memiliki tiga kamar tidur. Dokter cantik itu baru saja tampak habis mandi dengan handuk masih berada di kepalanya.
"Lha si pangeran ikutan juga?!" seru Rania jengah melihat bagaimana Richard mengejar adiknya. Macam si Armstrong saja!
"Aku kan harus bertanggung jawab dengan Alisha. Bisa perang antara Inggris Belgia nanti kalau ada apa-apa dengan anaknya Oom Sean" jawab Richard tenang. Mereka berempat lalu duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
"Kamu sudah makan siang belum?" tanya Biana sambil mengambil ponselnya. "Mbak pesankan."
"Kami baru sarapan. Seriously, Bia. Ini namanya brunch!" protes Richard.
"Cerewet kamu ah! Aku lapar ini!" balas Biana judes.
"Ya Allah Bia, dia itu pangeran... pangeran!" gelak Rania sok dramatis.
"Darahmu masih merah kan? Masih makan pakai daging dan kentang? Belum makan beling kan? Eh, itu kuda lumping... Selama kamu masih manusia bukan alien dan disini bukan istana, so what !" balas Biana cuek.
"Astaghfirullah..." kekeh Alisha geli melihat wajah Richard tampak kesal ke Biana.
"Aku pesankan masakan Melayu ya" sambung Biana tanpa meminta persetujuan yang lainnya.
"Terserah deh!" sahut Richard yang duduk di sofa bersama Alisha di sebelahnya.
Suara bel apartemen pun berbunyi membuat Rania melepaskan handuk di kepalanya dan sedikit menata dengan tangannya lalu menuju pintu kamar apartemennya. Sebelumnya dia melihat dari layar intercom dan terkejut melihat siapa yang datang.
"Bia, si singa gurun kemari!" seru Rania.
Biana yang sedang memilih makanan, mendongakkan kepalanya. "Apa?" Biana bergegas melihat layar intercom dan tampak pria yang mengejarnya bersandar santai di tembok apartemen menatap layar intercom.
"Hih! Orang ituuuu!" gerutu Biana gemas.
Introducing Leonardo Rossi
Biana McCloud Pascal
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️