
Apartemen Rania Daerah Soho London
Leonardo duduk di sofa sembari memperhatikan ketiga gadis cantik-cantik itu membersihkan alat-alat makan dan meja tempat tadi mereka makan siang. Dalam hati pria bermata biru itu, salut dengan ketiganya yang meskipun putri Sultan dan raja, tanpa canggung untuk berurusan pekerjaan rumah tangga mengingat banyak gadis-gadis jaman now tidak paham pekerjaan rumah.
"Kamu kenapa?" tanya Biana sambil menyerahkan secangkir kopi. "Black dan satu gula kan?"
"Thanks Bia. Tidak, melihat kalian tampak santai membersihkan semuanya, membuat aku salut dengan kalian."
Rania dan Alisha yang ikut bergabung sembari membawa ice cappucino buatan sendiri, tampak bingung dengan komentar Leonardo. "Memangnya kenapa Leo?" tanya Alisha.
"Kalian kan putri Sultan tapi aku lihat tidak ada pelayan disini."
"Aku lebih suka sendiri, singa gurun. Lebih bebas. Lagipula kalau ada pelayan, pasti akan bengong ditinggal aku yang sibuk di rumah sakit. Kasihan kan?" jawab Rania. "Kamu jam berapa aku antar pulang, Sha?"
"Satu jam lagi mbak. Biar perutku turun dulu" senyum Alisha.
"Lagian ya koboi cengeng, dengar, kamu tidak tahu ibu-ibu kami yang setiap weekend selalu membawa kami ke dapur dari kecil untuk belajar memasak kalau tidak ada acara bepergian. Sebagai anak perempuan, mau setinggi apa gelar kamu di bangku sekolah, kamu harus paham kehidupan rumah. Dimata ibu kami, tidak ada namanya aku anak chief FBI atau anaknya dokter atau putri raja. Tetap saja aku Biana yang dilahirkan dari mom Nadira. Gelar tidak laku, Férguso!" ucap Biana.
"Namaku Leonardo, Bia. Jangan diganti-ganti!"
"Suka-suka aku lah!" balas Biana cuek.
Alisha tersenyum simpul. Semua keponakan Oom Shin meniru hobinya yang suka ganti-ganti nama orang.
"Kamu pulang nggak?" tanya Rania.
"Hah? Aku? Memangnya aku tidak boleh disini?" tanya Leonardo bingung.
"Tak boleh! Kamu macam perjaka di sarang perawan.. Eh kamu masih perjaka nggak sih?" tanya Rania cuek. "Aku yakin sudah tidak perjaka kamu."
Wajah Leonardo memerah mendengar ucapan gamblang dokter bedah cantik itu. "Seriously, Rania. Bisa nggak sih kamu ngomongnya di saring?"
"Hei! Aku seorang dokter dan aku terbiasa blak-blakan dengan pasien. Bia, kamu jangan mau sama singa gurun ini, dia sudah tidak perjaka! Rugi kau !" ujar Rania sambil menyesap cappucino nya.
"Oh astagaaa!" Leonardo memegang pangkal hidungnya. "Iya, aku sudah tidak perjaka! Puas?"
"Sudah kuduga" jawab Rania kalem membuat Alisha cekikikan melihat keributan kakak-kakaknya.
"Tapi berkat itu, aku lebih pengalaman di tempat tidur..." Leonardo menatap dalam ke Biana. "Mau dicoba? Setelah kita ijab?"
Biana melongo. "Siapa juga yang mau nikah sama kamu? Lagian ya Koboi, aku tidak bisa tinggal di ranch dengan setiap hari bekerja keras mengurus ternak, panen ... Bukan passion aku! Aku lebih suka menjadi dosen atau peneliti, bukan tinggal di ranch!" jawabnya lugas.
Mata biru Leonardo tampak sedikit terluka tapi dia sudah tahu apa jawaban Biana karena dulu gadis itu pernah bilang ingin menjadi dosen seperti ibunya.
"Aku yakin kamu akan berubah pikiran jika sempat datang ke ranch aku" ucap Leonardo yakin.
"Jangan terlalu yakin, Leo. Karena aku adalah wanita yang keras kepala..."
"Aku suka wanita keras kepala..." bisik Leonardo sambil mendekatkan wajahnya. "Aaadduuuuhhhh!"
Biana memencet hidung mancung Leonardo. "Kamu mau ngapain?" hardiknya gemas.
Leonardo memegang hidungnya. "Cium kamu lah!"
Rania dan Alisha terbengong bengong. "Jujur amat sih?"
"Pulang deh! Balik Sono ke New York!" Biana pun berdiri membuat Leonardo ikut berdiri.
"Tidak ada support buat aku?" goda Leonardo.
"Cium dong Bia..."
"Kamu pilih mana? Muka kamu babak belur atau kakimu patah? Sama-sama tidak bisa bertanding Rodeo!" jawab Biana dengan sorot mata tajam.
Leonardo pun memanyunkan bibirnya. "Aku pulang malam ini ke New York. Kamu have fun di Oxford ya. Berapa lama?"
"Hanya satu semester dan setelahnya aku balik ke Harvard."
Leonardo tersenyum smirk dan membuat Biana curiga. "Kamu mau ngapain?"
Pria itu hanya tersenyum lalu mencium pipi Biana sekilas. "Aku pulang dulu! Bye Rania, Bye Princess. Assalamualaikum!" Leonardo bergegas membuka pintu apartemen dan pergi meninggalkan Biana yang melongo sebelum gadis itu melempar gelas kopinya.
"Singa gurun brengseeekkk!" umpat Biana kesal.
***
Rania dan Biana pun akhirnya mengantarkan Alisha ke kediaman Keluarga McGregor apalagi Biana sudah lama tidak bertemu dengan Oom dan Tantenya plus dua sepupunya Edward dan Eléonore.
"Elle masih centil, Sha?" tanya Biana ke kursi belakang karena dirinya duduk di depan bersama Rania yang menyetir.
"Masih. Malah kemarin mengklaim Richard sebagai her future husband" kekeh Alisha.
"Kamu nggak cemburu?" goda Rania.
"Buat apa cemburu, kan Elle masih balita."
"Sha, kayaknya Richard serius sama kamu deh! Bagus kan Inggris dan Belgia jadi satu" ucap Biana. "Kalian jadi kuat di Eropa."
"Aku tidak mau menjadi ratu Inggris, mbak. Sebab Richard kan akan menggantikan Oom Henry. Lagipula, di Inggris sudah wajib sebagai raja harus melindungi gereja turun temurun... Aku tidak mau Richard harus memilih..."
"Sha, ingat raja Edward ke VIII ? Dia memilih turun tahta demi seorang wanita..." potong Rania.
"Aku tidak mau itu terjadi mbak. Richard bisa menjadi raja yang baik, dia tegas dan adil seperti Oom Henry. Semua rakyat Inggris suka Richard."
"Kalau suatu saat Richard memilih mundur?" tanya Biana.
"Maka aku akan menjadi orang yang paling merasa bersalah membuat seorang calon raja yang baik turun tahta." Alisha menatap serius ke arah dua kakaknya. "Itulah salah satu alasan aku tidak mau menerima Richard mbak. Banyak yang harus aku pikirkan. Aku lebih memilih mendapatkan pria biasa saja dan tinggal di rumah nyaman dengan anjing dan kucing serta anak-anak kami. Sederhana saja, tanpa ada protokoler istana. Pasangan aku berangkat kerja seperti layaknya para suami dan aku berangkat ke rumah sakit. Kami makan siang bersama di sela-sela pekerjaan dan pulang bersama. Aku hanya ingin kehidupan yang simpel. Jika aku bersama Richard... Aku tidak bisa mendapatkan itu."
Biana dan Rania saling berpandangan karena itu memang keinginan rata-rata gadis Pratomo, hidup bersama dengan pasangan yang dicintainya. Kehidupan yang sederhana.
"Sha, kita lihat saja bagaimana ke depannya tapi aku rasa Oom Henry dan Tante Medeline sudah tahu konsekuensinya jika memang Richard memilih kamu" ucap Rania.
"Bisa lho malah yang naik tahta malah Louis" sambung Biana. "Aku tidak tahu apakah protokoler Inggris lebih kaku dari Belgia atau tidak tapi jika memang Richard memang jodoh kamu, jangan kamu tolak."
"Macam mbak Bia dan Leonardo?" goda Alisha.
"Ah, dia sudah tahu akan susah membuat aku berubah pikiran!" balas Biana pede.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️