
British Royal Hospital
Rania memarkirkan mobilnya di parkiran khusus dokter dan mengajak adiknya untuk turun. Alisha pun dengan santainya mengikuti kakaknya masuk ke dalam rumah sakit dan membuat para perawat dan dokter disana bingung ada princess Belgia yang sempat mereka ghibah, datang kesana.
Alisha yang sudah biasa mendengar ghibah, hanya memberikan senyum manis sedangkan Rania sudah memasang wajah galak saat tadi sempat mendengar nama adiknya disebut sebagai putri gatel dekat-dekat dengan pangeran Richard.
"Seriously! Apa kalian lupa dia adikku?" sungut Rania kesal. "Ayo Alisha, jangan dengarkan ghibah unfaedah!" Rania menarik tangan Alisha yang hanya tersenyum geli melihat kakaknya mulai kumat brutalnya.
"Mbak, sudah nggak apa-apa. Tapi memang kemarin aku dijemput Richard jadi ramai..." kekeh Alisha.
"Apa mereka nggak tahu kalau kamu sama Richard sudah kenal dari bayi?" omel Rania kesal mendengar adiknya dighibah. Wajar lah kalau pangeran dan putri raja bersahabat!
"Eh sudah. Mbak, aku boleh nggak ke bangsal anak-anak?" tanya Alisha mengalihkan emosi kakaknya.
"Kamu mau ngapain?"
"Aku biasa sama mommy diajak ke rumah sakit anak-anak dan mumpung disini, kenapa tidak aku temui mereka supaya semangat."
Rania tertegun. "Ya sudah, ayo. Mumpung mbak. masih ada waktu satu jam buat visite bedah."
Kedua gadis itu lalu berjalan menuju bangsal anak-anak dengan dikawal dua orang kiriman Sean. Mau bagaimana pun, Alisha tetap seorang princess dan klausul istana semua anggota inti kerajaan wajib dikawal suka maupun tidak.
Setibanya di bangsal anak-anak, para orangtua yang melihat princess dari Belgia datang tampak terkejut.
"Maaf mengganggu tapi kebetulan saya berada di rumah sakit ini bersama kakak saya. Apa boleh saya berada disini untuk memberikan semangat buat anak-anak disini?" sapa Alisha ramah membuat semua orang di sana tidak menyangka betapa humble nya princess cantik itu.
"Silahkan Your Highness" ucap para orangtua disana.
Dengan luwesnya Alisha mengobrol ke orang tua dan anak-anak yang sakit membuat Rania salut dengan didikan istana ke adiknya. Alisha juga tidak sungkan bercerita tentang kehidupan di istana ke para anak-anak itu bahkan gadis itu menangis saat tahu ada anak yang didiagnosis hidupnya tidak lama lagi karena menderita kanker otak.
Tanpa ragu, Alisha memeluk anak berusia enam tahun itu hingga membuat semua orang disana tampak haru melihat bagaimana perbuatan princess itu tanpa dibuat-buat, bisa menyentuh semua orang disana dengan sikapnya.
Hampir satu jam Rania menemani adiknya kunjungan mendadak informal membuat suasana menjadi lebih semangat apalagi Alisha berjanji akan menyempatkan datang jika waktunya pas.
"Kamu memang Princess, Sha. Sikap dan perilaku kamu itu tidak bisa dicolong kalau kamu memang terlahir sebagai seorang princess" komentar Rania usai mereka meninggalkan bangsal anak.
"Lho nama Rania juga berarti putri yang cantik dan mempesona tapi kayaknya di mbak Rania jadi salah sasaran deh!" kekeh Alisha.
"Putri cantik yang bar-bar, nah itu baru benar!" gelak Rania.
"Cocok!" Alisha merasakan ponselnya bergetar di dalam tasnya dan mengambilnya. Tampak nama 'Richard Carrington' disana.
"Dah, diangkat dulu telepon dari paduka yang mulia pangeran Richard Carrington" goda Rania.
"Apaan sih mbak... Halo, Richard?" sapa Alisha setelah menggeser tombol hijau.
"Kamu dimana Sha?" tanya Richard yang terdengar di dalam mobil.
"Aku di rumah sakit British Royal ..."
"Kamu sakit?" seru Richard panik.
"Oh nggak, aku tadi usai daftar ulang, ikut mbak Rania ke rumah sakit tempatnya praktek. Kamu tidak usah panik lah" kekeh Alisha.
"Kamu masih disana?" tanya Richard.
"Masih. Ini aku menunggu di ruang tunggu para Resident soalnya mbak Rania mau visite." Alisha memang diajak masuk ke ruang tunggu resident yang membuat para dokter disana mengangguk hormat ke princess Belgia itu.
"Kamu disini saja, Sha. Aku visite sebentar. Dua pengawal kamu biar tunggu di depan" ucap Rania yang terdengar oleh Richard.
"Oke mbak."
"Makanan ada banyak kalau kamu lapar. Sejam lagi mbak kesini. Atau kamu mau pulang dulu?"
"Aku tunggu mbak Rania saja."
Rania mengusap kepala adiknya lalu keluar dari ruang resident meninggalkan Alisha yang masih bertelepon dengan Richard.
"Kamu masih disana, Sha?"
"Kamu tunggu disitu! Sebentar lagi aku masuk London."
"Tapi Rich..."
"Aku bilang tunggu disitu saja, aku akan susul!" Richard mematikan panggilannya.
Ya Allah, apa nggak bikin gegeran kamu main datang kemari, Rich.
***
Apa yang dikhawatirkan Alisha pun kejadian. Rumah sakit British Royal tampak heboh dengan kehadiran pangeran Richard of England tanpa pemberitahuan dan protokoler.
"Dimana ruang resident?" tanya Richard yang datang bersama asisten dan dua pengawalnya.
"Di... di sebelah sana, your highness. Terus... belok kanan nanti sebelah kiri ada...tulisan the resident room" jawab resepsionis itu dengan gugup.
"Terimakasih." Richard pun berjalan dengan santainya menuju ruangan yang disebutkan oleh resepsionis bertepatan dengan datangnya Rania yang langsung memberikan hormat ke pangeran itu.
"Rania, dimana Alisha?" tanya Richard ke Rania usai memberikan hormat.
"Di dalam lah, your highness." Rania membuka pintu resident dan tampak Alisha sedang mengobrol dengan para Resident dengan santainya.
Melihat siapa yang datang, segera semua orang yang berada disana memberikan hormat kepada Richard.
"Maaf, apakah kalian semua bisa meninggalkan kami?" pinta Richard dengan sopan.
"Tentu saja yang mulia." Segera para Resident keluar dari ruang itu dan Rania pun hendak keluar tapi dicegah Richard.
"Kamu mau kemana Rania?" senyum Richard.
"Lho kan disuruh keluar?" balas Rania bingung.
"Ah aku lupa kecuali kamu dan Alisha ya" senyum Richard.
"Ah kamu memang suka tidak jelas!" sungut Rania sambil menuju pantry untuk mengambil sebotol air mineral. "Kamu sudah ngemil?" tanya Rania ke Alisha yang tampak sudah makan roti dilihat dari bungkusnya.
"Sudah mbak. Kamu tuh nggak usah kemari, Richard. Bikin ramai gosip saja!" senyum Alisha.
"Biarin saja lah! Bodo amat! Kamu pulang sama aku sekarang, Sha." Richard mengulurkan tangannya ke Alisha.
"Wait a minute. Richard Anaknya pak Henry Carrington, apa kamu naksir adikku?" Mata coklat Rania menatap Richard tajam.
"Apaan sih Rania. Aku hanya mengajak Alisha pulang bersama aku" elak Richard.
"Richard Carrington..." pendelik Rania galak dan dengan cueknya dia menghampiri pria yang jauh lebih tinggi darinya.
"Kamu itu berani melawan pangeran Inggris?" Mata biru Richard membalas tatapan tajam Rania.
"Kamu masih manusia kan? Masih makan kentang kan? Darah kamu masih merah belum jadi biru? Kalau biru itu Kadal dan Avatar! So kenapa aku harus takut padamu?" balas Rania cuek.
Keduanya menoleh bersamaan ketika mendengar Alisha tertawa terbahak-bahak.
"Kamu kenapa Sha?" tanya Rania bingung begitu pun dengan Richard.
"Mbak, kadal darahnya hijau bukan biru..."
"Lha? Kok malah dikoreksi..." gerutu Rania sedangkan Richard tersenyum geli.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️