
Gadis itu langsung memeluk Lucas dengan erat, tubuh Jeny bergetar air matanya terus berderai.
"Lucas, dia telah mencambukku,"
"Aku takut tolong aku."
Jeny memeluk tubuh kekar itu dengan sangat kuat seperti orang yg takut ditinggalkan.
"Ayo sebaiknya kita pulang."
Pemuda itu langsung membawa Jeny kembali ke apartemennya, Lucas bahkan membantu Jeny berjalan dengan penuh kehati-hatian. Jeny terus menangis dan meringis tangannya terus saja memegang Lucas dengan erat.
"Jeny tenanglah aku akan mengobati Lukamu, dimana kau menyimpan kotak obatnya?"
Jeny menunjuk kesuatu arah yg terdapat kotak obat miliknya, Dengan cepat Lucas langsung mengambil kotak obat tersebut dan mengobati luka Jenny.
"Jeny dimna lukamu?"
Jenny memalingkan tubuhnya, gadis itumasih saja terisak, ia bahkan membuka pakiannya dan hanya mengenakan bra saja di hadapan Lucas.
"Bagaimana aku mengobatimu?" Tanya pemuda tersebut.
Melihat itu, Lucas hanya menelan salinyanya, sebagai pria normal siapa yang tahan melihat wanita setengah telanjang di hadapannya. Terlihat luka bekas cambukan itu memerah di punggung Jeny, Luccas mencoba menyentuhnya dan mengobati Luka tersebut dengan penuh keberanian. Padahal notabanenya pemuda itu sering sekali mencari kesempatan, akan tetapi kali ini ia benar-benar gugup, seperti seorang pemuda yang baru saja melihat seorang gadis dalam keadaan tersebut.
"Ahhh, sakit tolong lakukan dengan perlahan."
Jeny merintih kesakitan, hingga membuat Lucas tersentak, kali ini pemuda itu melakukannya dengan lebih lembut dan penuh kehati-hatian, Lucas sampai berkeringat, sesekali ia menelan salivanya merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti tersebut.
"Ta-tali bramu menutupi Lukanya."
Tidak ada maksud lain, hal itu memang benar jika tali penutup dua asset Jeny telah menghalangi lukanya, Jenny berbaring membelakangi Lucas, ia langsung melepaskan tali branya, dan membuat Lucas terkejut membulatkan matanya, tangan Lucas bergetar hebat, naluri kelelakiannya benar benar sedang di uji.
Jeny masih saja menangis, Lucas pun telah mengobati Lukanya, meskipun dalam otak mesumnya dia tidak ingin hal ini cepat berlalu
"Lucas terima kasih kau sudah menolongku.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Pria itu memiringkan senyumnya, bersikap seolah tidak terjadi apapun pada dirinya, yang padahal saat itu ia benar benar sudah merasa tidak nyaman dan sesak.
"Hentikan tangisanmu, semua sudah berlalu, aku akan memastikan ini yang terakhir kalinya mereka menindasmu."
Lucas menyeka air mata gadis itudengan penuh kelembutan, Jeny bahkan langsung memeluk Lucas dengan keadaan yang masih terisak.
"Lucas terima kasih, jika saja kau tidak datang ntah apa yg akan terjadi padaku."
Lucas terkejut atas apa yang Jeny lakukan padanya, jantungnya berdetak sangat kencang ketika Jeny memeluknya, bagaimana tidak? Gadis itu hanya menutupi dadanya dengan selimut, dan itu sekarang menempel di tubuh Lucas.
"Tenangkan dirimu Jeny, kau akan baik baik saja."
Lucas masih mencoba tetap santai, ia mencoba menenangkan Jeny membalas pelukannya.
Sebaiknya kau tidur, beristirahatlah.
Jeny mengangguk, gadis itu melepaskan pelukannya dari Lucas dan terbaring dengan posisi miring, Jeny memejamkan matanya, mata memerah dan sedikit membengkak akibat menangis, sama sekali tidak mempengaruhi kecantikannya.
"Dia memang gadis yg sangat cantik. Gumam Lucas dalam batinnya.
Pemuda itu memiringkan senyumnya, cukup lelah ia pun berbaring di samping Jeny dengan mata yang terus tertuju pada gadis tersebut. Keuntungan besar bagi Lucas jika hal ini ia manfaatkan dengan baik, seorang gadis terlelap setengah telanjang di sampingnya.