Ignorance Of Love

Ignorance Of Love
Chapter 23



Dua hari berlalu, aku terus mengabaikan Lucas setiap kali ia datang dan menghubungiku. Ratusan pesan dan ratusan panggilannya aku abaikan, sulit menerima kenyataan, tetapi aku harus belajar dari sekarang, cepat atau lambat ia akan menikahi Ellia, dan itu sudah pasti, karna ada seorang bayi yang tidak berdosa dalam perut Elia. Aku terduduk di bangku taman, tepatnya di pusat kota yang tidak jauh dari apartemenku. Malam ini langit cukup cerah, aku bisa melihat dengan jelas bintang bintang yang tersenyum berusaha menghiburku, agar aku bangkit dariketerpurukan ini. Aku memejamkan mataku, merasakan diginnya hembusan angin malam yang menggigit kulit.


"Kenapa kau menghindar?"


Aku mengenal suara ini, dan tetap terdiam memejamkan mataku dengan posisi tubuh yang bersandar di bangku taman, dan wajah mendongak ke atas.


Cup...


Lucas mengecup bibirku dengan lembut, perlahan aku membuka mataku dan mencoba menangkap pemuda yang sedari tadi sedang memperhatikan wajahku, bahkan jarak diantara wajah kami sangatlah dekat. Mataku menggenang menatapnya, aku menyentuh wajahnya penuh kelembutan, air mataku mengalir. "Katakan, ini semua pasti hanya mimpikan." Ucapku lirih.


Lucas menyeka air mataku, ia langsung memeluk erat tubuhku, kami berdua saling melepas kerinduan setelah beberapa hari ini tidak bertemu.


“Ayo kita pergi, aku akan lari bersamamu, meninggalkan Ellia."


Aku menelan salivaku, menatap Lucas dengan tatapan sendu. Entah ini cinta atau kebodohan, aku sendiri tidak bisa membedakannya.


"Aku tidak masalah, kau harus menikahinya, demi bayi kalian berdua."


"Tapi bagaimana denganmu? Aku tidak bisa meninggalkanmu."


Aku tersenyum tipis, meraih wajah Lucas dan mencium pipinya, aku pasrah, hal itu aku lakukan karna mungkin dilain waktu aku tidak akan bisa menciumnya lagi. Aku berlalu, mencoba menerima kenyataan ini meskipun sulit, Lucas bahkan tidak mengejarku.


Keesokan harinya, Aku menjalankan aktifitasku seperti biasaya, dikampus aku sangat terlihat murung. Demy sampai bertanya padaku karna setiap paginya mataku membengkak, dan menghitam.


"Kau menangis lagi?" ucapnya.


Aku hanya menggelengkan kelapalaku sambil memainkan ponsel.


"Akhiri saja hubunganmu dengan Lucas, bahkan setelah menjalin hubungan dengannya kau lebih sering menangis."


"Sudah."


Dahi Demy mengerut, ia menajamkan tatapannya kearahku.


"Benarkah? Kenapa? Bukannya kalian belum lama menjalin hubungan?"


"Siapa yang sudah mengakhiri hubungan." Ucap Justine yang saat itu tiba-tiba saja datang menghamiriku dengan Demy.


"Jeny." Ucap Demy.


"Itu artinya ada kesempatan untuku." Celetuk Justine.


Aku memiringkan senyumku, aku dengannya memang sudah berbaikan, Justine pernah datang mengunjungiku, dan meminta maaf karna sudah membuat rumor yang bukan-bukan itu beredar.


"Aku lelah, aku pulang." Ucapku dingin. Aku berjalan menuju apartemenku, memang benar, patah hati bisa membuat semua warna nampak suram, seolah mendukung suasana hatiku, langit yang biasanya cerahpun tampak gelap. Aku melihat ada dua sosok yang aku kenal, bahkan mereka sedang menatap kearahku dan melambaikan tangan.


"Jeny, disini." Ucap Bella.


Aku langsung menghampiri Hans dan Bella saat itu, entah apa maksud dan kedatangan mereka berada di apartemenku.


"Ada apa?"


Bella dan Hans saling melirik satu sama lain, aku masih memandangnya dengan raut wajah polos.


"I-ini."


Deg...


Bella memberikan sebuah undanga padaku, disana tertulis nama Lucas dan Ellia, seketika tubuhku bergetar mataku menggenang ssaat aku membuka undangan tersebut.


"Lucas menyuruhku untuk memberikan undangan ini."


Air mataku mengalir, Bella langsung memeluk dan menenangkanku saat itu.


"Aku mengerti, Lucas sudah menceritakan segalanya pada kami, tap percayalah Jeny, dia hanya mencintaimu, dia bersedia menikahi Ellia karna ini semua adalah permintaanmu." Ucap Bella


Aku menangis dalam pelukannya, ternyata aku dan Lucas berpisah dengan cara seperti ini, aku tidak berdaya, sejujurnya aku tidak rela melihat pemuda yang aku cintai akan bersanding dengn wanita lain. Aku menghentikan tangisanku, dan menyeka air mataku.


"Baiklah, aku akan datang." Ucapku.


"Tidak, aku mengerti perasaanmu, aku rasa itu bukan ide yang baik." Tegas Bella.


Aku melebarkan senyumanku, meskipun air mata ini terus mengalir, aku berusaha terlihat baik-baik saja dihadapan Bella dan Hans.


"Kau tidak mahir untuk menyembunyikan kesedihanmu." Ucap Hans.


Aku tersenyum, dan langsung berlari pergi meninggalkan Bela dan Hans. Aku menjatuhkan diriku diatas rajang, aku menjerit, perasaanku sangat hancur, bagaimana tidak pemuda yang aku cintai akan segera melangsungkan pertunangan dalam waktu dekat. Aku sangat mencintai Lucas, aku tidak ingin kehilangannya, aku tidak ingin berpisah darinya, kenapa ini sangat tidak adil, kenapa takdir terus saja mempermainkan hidupku.