
Lucas Pov
Aku resmi menjalin hubungan dengan Jeny, setelah kedua orang tuaku memilih untuk segera menjodohkanku, Aku memang telat menyadari hal ini, tapi itu bukan masalah, aku akan menjelaskan hal ini pada kedua orang tuaku, dan meminta mereka untuk membatalkan perjodohan tersebut, tas dasar ketidak cocokan. Waktuku hanya aku habiskan dengan pekerjaan dan juga Jeny, aku bahkan tidak pernah kembali ke mension atau berkunjung kerumah kedua orang tuaku, karna aku lebih memilih untuk selalu berada dekat dengan Jeny.
"Kau tunggu disini, aku akan kembali." Ucapku.
Jeny terus saja memelukku, ia bahkan tidak membiarkan aku pergi seharian ini. "Tidak mau, tetaplah disini, jangan pergi."
Gadis ini sangat menggemaskan, tingkahnya sangat kekanak-kanakan, tapi sikapnya yang seperti itu sukses membuat aku semakin gemas dan semakin mencintainya.
"Aku akan kembali sayang, aku tidak lama, malam ini aku akan datang lagi."
Jeny mengerucutkan bibirnya, raut wajahnya benar-benar sangat menggemaskan, rasanya aku tidak ingin melewatkan sedetikpun waktu untuk tidak mengecup bibirnya.
"Aku kan mengatakan hal ini pada ibuku, agar dia segera mengakhiri hubunganku dengan Ellia."
Jeny tersenyum tipis menatapku, ia melonggarkan pelukannya dan mencium pipiku.
Cup...
"Cepatlah kembali." Ucapnya.
Aku mengelus pucuk kepalanya dengan lembut, sebelum pergi aku bahkan mengecup keningnya terlebih dahulu. Tujuanku saat ini adalah rumah orang tuaku, sejujurnya aku sedikit takut karna sebelumnya aku mengiyakan hal ini, itu semua karna aku belum menyadari perasaanku pada Jeny. Aku sadar dalam hal ini Ellia pasti sangat kecewa, tapi soal perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Tujun hidupku sekarang hanyalah Jeny. Aku membuka pintu rumah kedua orang tuaku, dan masuk begitu saja, aku berteriak, "Maaa? Paa? Aku pulang?"
Sorot mataku mengabsen setiap ruangan rumah tersebut, dan diruang keluarga aku melihat Mama Sedang membaca majalah mingguannya.
"Kau sudah pulang? Mama Pikir kau sudah lupa jalan menuju kesini."
Aku langsung menghampiri Mama, dan memeluknya.
"Mama tahu, kau pasti Akan meminta sesuatu hal kan." Ucapnya.
Ibuku ini memang sangat mengenal baik diriku, hal itu memang benar, dan dia sudah mengetahui tujuanku.
"Siapa gadis itu?"
Dahiku mengerut, ternyata dia juga sudah mengetahui jika aku sudah memiliki gadis lain. "Bagaimana mungkin Mama bisa tahu?"
Ibuku tersenyum tipis, rautnya tidak terlihat marah. "Mama mengenal baik putra Mama."
Ibuku tertawa, sepertinya pernyataanku terdengar sangat menggelikan, ini kali pertama aku membahas masalah percintaan dengan beliau. "Jika hal itu membuatmu bahagia, Mama tidak masalah."
Aku melebarkan senyumanku dan lansung memeluknya, semua berjalan dengan mudah, aku pikir hal ini akan tejadi dengan begitu dramatis, bisa saja Ibuku menolak, dan tetap besikeras untuk menjodohkan aku dengan Ellia, aku rasa hal itu hanya terjadi diduia perfilman saja. Aku bahkan langsung memberitahukan kabar bahagia ini pada Jeny, teriakannya dari ponsel terdengar begitu bahagia, ia bahkan terus menyuruhku untuk segera menemuinya, akan tetapi aku harus kembali ke mansion, karna besok ada rapat pertemuan dengan beberapa investor. Aku menyuruh sekertarisku keluar, sebelum itu ia mengatakan jika Ellia datang dan sedang menungguku di Lobby.
"Suruh dia keruanganku." Ucapku pada sekertaris
Iya langsung mengiyakannya dan berlalu untuk menyuruh Ellia datang menemuiku.
Tidak butuh waktu lama, Seseorang mendorong pintu ruanganku perlahan, tentu saja itu adalah Ellia, gadis itu langsung duduk dihadapanku, wajahnya terlihat begitu amat jengkel, aku mengerti. Ia pasti akan meminta perhitungan atas tindakanku yang memutuskan perjodohan ini secara sepihak.
"Maaf, tapi aku tidak mencintaimu."
Tanpa menunggunya bicara, aku langsung memulai hal tersebut terlebih dahulu.
Ellia terkekeh, ia memiringkan senyum puciknya menatap kearahku. Dan melempar sesuatu kewajahku.
"Sayang sekali, kau tidak bisa membatalkan perjodohan ini."
Aku mengerutkan dahi, dan meraih benda yang Ellia lemparkan.
"Ini..."
"Aku hamil, dan ini adalah anakmu." Ucap Ellia.
"Tidak, ini tidak mungkin."
Ellia terkekeh, ia menatapku dan melipat tangannya dengan arogant. "Jangan pernah melupakan hal itu, kita pernah melakukannya, aku sudah mengatakan hal ini pada ibumu, dan siang ini aku akan memesan gaun pernikahan bersamanya."
Ellia berlalu begitu saja, aku tidak percaya kenapa hal ini bisa terjadi, Aku memang pernah melakukan hal itu bersama Ellia, tapi hal itu karna dia sendiri yang terus menggodaku, terlebih aku selalu menahan hasrat setip kali berada didekat Jeny. Aku berdecak, seketika pikiranku tidak karuan, bagaimana aku menjelaskan hal ini pda Jeny, dia pasti sangat kecewa terhadapku.
Ponselku berdering, aku langsung meraih dan menjawab panggilan dari ibuku tersebut.
"Anak bodoh, kau menyuruhku untuk membatalkan perjodohan ini, tapi kau sendiri malah membuatnya hamil."
Aku terdiam, ucapan ibuku semakin membuatku tidak karuan, aku memutuskan panggilan tersebut secara sepihak, tanpa mengatakan apapun.