
Lucas berlalu begitu saja, menuju kamar mandi, ia bahkan tidak mengatakan apapun, untuk membantuku menjelaskan hal ini. Aku lansung menjelaskan semuanya pada Demy, ia sampai terkeut tidak percaya mendengrnya, tetapi setelah ku memperlihatkan bekas lukaku padanya, akhirnya Demy mempercayai hal tersebut.
Astaga Anet benar-benar sudah sangat keterlaluan, lukamu, itu sangat merah Jen. Tegas Demy.
Untung saja ada Lucas, ia bahkan yang sudah mengobati lukaku, dan menemaniku semalam.
Dia tidak hanya baik hati, dia juga sangat tampan, apa kalian meiliki hubungan.
Aku mengerutkan dahiku, dan menggelengkan kepala. Demy benar-benar terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak mengenai aku dan Lucas. Lucas telah kembali dari kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya, tetesan air yang masih mengalir itu semakin membuat kesan sexy untuknya. Aroma tubuhnya bahkan sangat wangi tercium mengetuk hidung kecilku.
Aku sudah menyiapkan sarapan, sebaiknya kau makanlah terlebi dahulu.
Aku mengangguk, sorot mataku teralihkan pada Demy yang duduk di sampingku.
Kau mau ikut sarapan Dem?
Tidak, tidak, kedatanganku hanya mengganggu kalian, aku akan kembali ke asrama saja.
Demy berlalu begitu saja dari hadapanku, sedangkan Lucas hanya terus berdiri menatapku dengan sorot mata yang tajam.
Aku boleh minta tolong? ucapku dengan suara terendah.
Apa?
Ambilkan pakaianku dilemari.
Pemuda itu menghela nafasnya, ia langsung melempar satu buah pakaian ke arahku dengan sangat menyebalkan.
Lucas, kau keterlaluan.
Aku menjerit dengan jenkel menatap ke arahnya. Ingin rasanya aku membunuh pemuda mesum tersebut. Ia bahkan mengabaikanku, dan berlalu begitu saja menuju meja makan, aku mengenakan pakaianku perlahan, Bajuku terlalu kecil, ini cukup sesak dan bahkan menggesek lukaku, kembali aku melepaskan pakaian ini dan kembali memanggil Lucas.
Lucas_
Pemuda itu langsung menghampiriku dengan santai.
Apalagi?
Ini terlalu kecil, lukaku tergesek.
Bodoh, beginikah sikapku pada seseorang yang sudah menolongku? Aku merasa diriku sangat keterlaluan padanya.
Ini.
Aku terdiam, dengan raut wajah memelas aku menatapnya.
Maaf. Ucapku
Lucas terdiam dengan raut wajah datar, dilihat dari ekspresina, sepertinya pemuda itu kebingungan saat ia mendengar aku mengucapkan kata Maaf.
Untuk apa? ucapnya
Aku menelan salivaku, mataku menggenang, tidak biasanya hanya meminta maaf harus sedramatis ini, tapi entah kenapa aku ingin menangis ketika mengucapkan kata sederhana tersebut.
Aku sudah bersikap buruk, padahal kau sudah menolongku, menemaniku sepanjang malam, aku tidak bias membayangkan apa yang akan terjadi padaku, jika saat itu kau tidak datang.”
Lucas mendekatiku, ia duduk disampingku dan menatap wajahku yang mugkin sangat terlihat menyedihkan.
Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjagamu.
Aku menatap Lucas dengan intens, kali ini ia tidak bercanda, raut wajahnya terlihat sangat serius.
Kita bahkan baru beberapa hari ini saling mengenal, aku bahkan selalu bersikap buruk padamu, kau selalu datang dan aku selalu mengusirmu, tapi kenapa kau masih sangat baik padaku? Kau bahkan menolongku?
Lucas tersenyum tipis, ia bahkan menyisipkan rambut yang menghalangi wajahku dengan penuh kelembutan.
Aku hanya membalas kebaikanmu, kau sudah membawaku bersamamu waktu itu, maaf karna aku sudah mengacaukan hari pertamamu disini saat itu.
Aku menenggelamkan diriku di dua bola mata indah milik Lucas.
Cup...
Aku mengecup bibir Lucas perlahan, meskipun Lucas tidak membalas atau pun menolaknya, detak jantungnya bisa ku dengar, aku melepaskan kecupan tersebut dengan senyum yang berbinar.
Aku-aku harus pergi ke Kantor sekarang. Ucap Lucas.
Sikapnya tiba-tiba menjadi aneh, ia bahkan berlalu dengan sangat tergesa-gesa dari hadapanku, Aku selalu menolak dan marah setiap kali ia mengambil kesempatan dan mencuri ciuman dariku, akan tetapi kali ini, saat aku sendiri yang melakukannya, jantungku berdetak kencang perasaanku menjadi tidak karuan, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku merasa berhutang budi atau mungkin aku sudh tertarik padanya? Tidak, aku tidak mungkin jatuh cinta pada pria mesum itu.