Ignorance Of Love

Ignorance Of Love
Chapter 17



Sepanjang jalan perjalanan, Aku dan Jeny hanya saling terdiam, wajah Jeny terus saja terlihat murung, ia bahkan tidak menatapku sama sekali. Aku berpikir keras, dipikaranku selalu terngiang-ngiang gumamannya. Dia menangis karna aku mengatakan hal itu. Sesekali aku melirik ke arahnya, hingga mobil yang ku kemudikan terhenti di parkiran apartemennya.


Author Pov


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Jeny sudah berada diruang Rektor, hal itu ia lakukan untuk memberikan penjelasan pada Rektor, dan juga membersihkan nama baiknya.


"Pak, sebenarnya aku..."


"Kau tidak perlu menjelaskan apapun."


Jeny menelan salivanya, matanya menggenang. Ia sangat yakin pasti Rektor tersebut juga tidak akan mempercayainya kali ini. "Tunggu Pak, ini semua tidak seperti apa yang bapak pikirkan."


Rektor itu tersenyum tipis menatap ke arah Jeny.


"Tunanganmu sudah menjelaskan hal ini, kau tidak perlu khawatir, nama baikmu sudah aku bersihkan. Dapat aku pastikan tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi."


Hal itu berhasil membuat Jeny tercengang, apalagi setelah ia mendengar kata tunangan.


"Tunangan?"


"Ya. Kenapa kau tidak mengatakan hal ini? Kau tahu? Ayah dari tunanganmu adalah penyalur terbesar di kampus ini."


Wajah Jeny masih terlihat kebingungan dan datar.


“Aku masih ada urusan, kau boleh kembali ke kelas sekarang."


Gadis itu berlalu, ia masih tidak percaya dengan semua ini, hanya dalam semalam saja citranya bisa berubah menjadi kembali baik, ia berjalan, dari sudut lain Demy berlari menghampirinya.


"Jeny maafkan aku."


Jeny mengangguk, ia tersenyum tipis menanggapi pernyataan maaf Demy tersebut.


"Kenapa kau tidak bilang? Aku melihat Tunanganmu datang pagi-pagi sekali, menemui pak Rektor."


“Tunangan? Siapa dia?"


Demy terkekeh, menurutnya Jeny masih ingin menyembunyikan hal ini padanya.


"Siapa lagi? Tentu saja Lucas. Dia mengatakan segalanya, kenapa kau masih berpura-pura bodoh saja?"


Jeny pov.


Aku datang menemui Lucas, Akan tetapi pemuda itu tidak ada di mansionnya, cukup lama aku menunggu, karna saat itu Hans yang menghubungi Lucas, jika aku telah datang dan ingin menemuinya. Pria jangkung itu datang, ia melangkah kearahku dengan santai, aku menatapnya secara intens, dalam otakku tersimpan begitu banyak pertanyaan.


"Apa Maksud dari semua ini?"


"Apa kau sedang membicarakan tentang nama baikmu di kampus?" Lucas menghampiriku, ia memangkas jarak diantara kami.


"Lalu untuk apalagi aku datang?"


Lucas tersenyum tipis, Astaga raut wajahnya masih sangat trlihat santai seolah tidak tahu apapun. Aku terus menatapnya degan tajam, tanpa mengedip sekalipun.


"Tenanglah, kita akan melakukan sandiwara ini bersama, agar mereka tidak menilai buruk dirimu."


Deg...


Aku terkejut, lagi-lagi ucapannya berhasil meghancurkan perasaanku, bukn ini jawaban yang aku inginkan, bagaimana ia bisa dengan mudah mengatakan jika hal ini adalah sandiwara.


"A-apa? Sandiwara?"


Lucas terkekeh, entah apa yang ada dalam pikirannya, pemuda ini benar-benar terus saja mempermainkan perasaanku.


"Apa kau pikir aku serius? Kau berlebihan, mana mungkin aku akan benar-benar menikahimu."


Perasaan sakit ini semakin kuat, bodoh, benar yang Lucas katakan, mana mungkin ia tertarik pada seorang gadis sepertiku. Setiap kali mendengar pernyataan ini aku selalu tidak bisa menahan air mataku, dadaku seketika terasa sangat sesak.


"Terima kasih."


Aku memutar balikan tubuhku, mencoba menyembunyikan wajahku, air mataku mengalir, dan aku langsung berlalu begitu saja dari hadapannya.


"Tunggu, kau mau kemana?"


Aku tidak menggubris teriakan Lucas, setiap kali bersamanya perasaan ini semakin tidak karuan, apa ini karna aku yang terlalu berharap? Aku bahkan tidak sengaja menabrak Hans, saat aku keluar dari mansion tersebut. Sepertinya ia melihat aku menangis, aku tidak perduli, aku benar-benar sangat kecewa mendengar jawaban tersebut dari Lucas. Aku berjalan, harapanku saat itu adalah Lucas mengejarku, tapi tidak, bahkan sampai aku langkahku terhenti di apartemen, ia tidak mengejarku, atau bahkan menghubungiku.


Ternyata ini, kedekatanku selama ini dengan Lucs hanya sampai di sandiwara saja, bodoh, aku terlalu mengharapkannya, ia tidak akn pernah tertarik padaku, aku harus menjaga jarak dengannya, untuk mengurangi perasaan ini. Semakin lama jika terus seperti ini, tentu hanya akan berdampak buruk pada diriku, dan hanya ia saja yang mendapat keuntungan Malam itu, aku mengatur suhu air, melepaskan satu persatu pakaianku, dan berbaring diatas busa-busa bathtub, aku mengerjap, mencoba melupakan segala sesuatu yang pernah aku lakukan dengan Lucas, jika aku mengingat hal itu, air mataku begitu dengan mudah mengalir.