Ignorance Of Love

Ignorance Of Love
Chapter 8



Author pov


Kebiasan buruknya, Jeny selalu saja terlambat di hari senin yang menurutnya memang hari yang paling menyebalkan diantara hari lainnya. Dalam mengikuti kegiatan belajar saja gadis itu selalu menguap, tanpa ia sadari dari sudut lain ada seseorang yang terus memperhatikannya. Tentu saja itu Justine, seorang pria populer yang berhasil Jeny taklukan. Seluru gadis kampus bahkan selalu mengejar Justine, berbeda dengan Jeny yang sepertinya Sama sekali tidak tertarik pada pemuda jangkung tersebut.


Kelaspun berakhir, entah kenapa Jeny selalu merasa kantuk, jika dosen berada di depannya, Akan tetapi setelah dosen tersebut berlalu, Energinya seolah telah terisi kembali.


Aku bosan, bagaimana jika nanti malam kita keluar. Ucap Demy.


Jeny mengangguk kegirangan, karna selama ia belajar di kampus barunya, hanya Demy yang bersedia menjadi temannya.


"Baiklah, jam delapan malam nanti, kita bertemu di halte, tidak jauh dari apartemenmu."


"Oke."


Jeny dan Demy beranjak, kedua gadis itu keluar bersama dari dalam kelas.


"Kau merasa tidak? Annet terus memperhatikanmu."


Jeny mengerutkan dahinya mendengar ucapan Demy, bagaimana tidak ia sama sekali tidak menyadari hal tersebut.


"Benarkah? Aku merasa Justine yang memperhatikanku, bahkan hal itu cukup lama."


"Dia juga, hehee."


Demy tersenyum menyeringhai, keduanya berpisah tentu karna Demy tinggal di asrama dan Jeny di apartemen. Jeny berjalan menuju apartemennya, jarak antara kampus dan tmpat tinggalnya memang lumayan dekat, hanya beberapa menit saja jika hal itu dilakukam dengan berjalan kaki. Jenny mulai curiga, Annet dan kawan-kawannya terus berada di belakangnya. Perasaannya mulai tidak karuan, gadis itu mengambil ponselnya berinisiatif untuk menghubungi Lucas karna gerak-gerik Annet yang mencurigakan.


Di tempat lain Lucas merasa keheranan, tidak biasanya Jeny menghubunginya, tanpa menunggu lama pemuda jangkung itu langsung menjawab panggilan tersebut.


"Apa yg kau lakukan? Lepaskan aku."


Jenny berteriak sekeras mungkin, agar Lucas bias mendengar suaranya tersebut.


"Kita akan bermain-main, Jeny."


Jeny mulai kebingungan, bagaimana Cara Lucas Akan menolongnya dan menemukannya


"Kenapa kau membawaku ke gedung tua dipusat kota?"


"Kenapa harus berteriak?"


Annet mendorong Jeny hingga terjatuh, wanita jahat itu mengeluarkan suatu benda untuk memukul Jeny, ia bahkan menampar gadis cantik tersebut hingga membuat wajah Jeny memerah.


"Kau sudah berani terhadapku."


Annet berteriak, ia bahkan langsung mencambuk punggung Jeny dengan keras tampa ampun.


"Aahhhhh sakittt, tolong hentikan."


Jenny merintih kesakitan ia histeris, Annet bahkan kembali mencambuk Jeny, akan tetapi kali ini cambukan itu tertahan oleh seseorang yang merebut benda tersebut dari Anet.


"Siapa kau? Beraninya mencampuri urusaku."


Lucas menatap kearah Anet dengan tatapan kejam, dan berkata, "Hentikan semua ini atau kau akan menyesal"


Rahang pemuda jangkung itu mengeras, ia mengepalan tangannya dengan penuh kemarahan.


"Anet aku ada urusan aku harus pergi." ucap salah satu teman Anet.


"Sial."


Anet berdecak dengan kesal dan pergi meningikuti temannya, lucu bukan, ketika salah satu ketakutan maka yang lainnya pun akan pergi, benar benar teman sejati. Jeny terus merintih kesakitan, pria jangkung itu mencoba membangunkannya, dan bisa terlihat oleh Lucas dengan jelas, mata dan wajah Jeny sudah memerah, menahan sakit di punggungnya.


"Jenny apa kau baik baik saja?"


Gadis itu langsung memeluk Lucas dengan erat, tubuh Jeny bergetar air matanya terus berderai.


"Lucas, dia telah mencambukku,"


"Aku takut tolong aku."


Jeny memeluk tubuh kekar itu dengan sangat kuat seperti orang yg takut ditinggalkan.


"Ayo sebaiknya kita pulang."