Ignorance Of Love

Ignorance Of Love
Chapter 37



LIKE DULU KOMN DULU VOTE DULU YANG BANYAK YANG BANYAK


***


Jenny tidak bisa menahan air matanya, dia menangis tanpa mengatakan apapun pada Luccas gadis itu seketika kehilangan tenanganya


"Aku akan menyuruh Ellia untuk menggurkan kandungannya, tolong maafkan aku."


Plakkk... Spontan Jenny melayangkan tangannya mengarah pada wajah Luccas, dengan begitu penuh kekecewaan.


"Apa kau bodoh? apa kau sudah tidak waras? Anak itu tidak berdosa apa kau ingin membunuhnya?"


Luccas hanya teridam, dia tidak bisa berkata apapun lagi, Jenny telah membungkam Luccas dengan pernyataannya, Luccas cukup tahu diri, ia sudah menyakiti perasaan gadisnya saat itu.


"Percayalah padaku aku mencintaimu."


Pemuda itu mencoba menenangkan Jenny, ia meraih bahu gadis tersebut dengan mata yang menggenang.


"Lalu apa yg kau pikirkan? kau akan membunuh anak yg tidak berdosa itu? apa kau bodoh??" Tegas Jenny, air matanya terus berderai, baru saja Jenny merasa dunia seakan miliknya, dengan begitu mudah Luccas menghancurkannya.


Pemuda itu bersimpuh di dmhadapsn Jenny, dengan penuh penyesalan, cairan bening itupun mengalir di wajahnya, karna merasa bersalah.


"Pergilah Lucas,"


Pemuda itu mendongak memandang wajah Jenny


"Nikahi Ellia, kau harus bertanggung jawab atas anak itu." Tegas Jenny dingin


Gadis itu langsung menarik tangannya dan berlalu dari hadapan Luccas begitu saja, tangisannya tidak terbendung, Jenny menjatuhkan dirinya tidak berdaya di belakang pintu apartemen, gadis itu merasa sangat terpukul mendengar pernyataan ini dari Luccas, hubungan yg baru saja seumur jagung harus ia akhiri sesingkat ini.


"Ahhhhhh."


"Aku sangat mencintainya, kenapa tuhan bersikap tidak adil padaku"


Gadis itu menjerit, ia melempar semua benda di hadapannya, Jenny benar-benar terpukul, ia merasa hidupnya sudah teramat kacau saat ini.


*****


Beberpa hari telah berlalu, Jenny memutuskan untuk menjauh dari Luccas, dia selalu saja menghindari pertemuannya dengan Luccas sebisa mungkin.


Saat itu jenny menikmati malam di xxx untuk sedikit menenangkan dirinya, dia terduduk di sebuah taman kota, memandang ke arah langit.


Jenny kembali meneteskan air matanya, saat mengingat Luccas yg terus saja menghantui pikirannya, padahal sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu.


"Kenapa kau menghindariku?"


Jenny mengalihkan pandangannya kesumber suara, ia melihat Luccas yg duduk di sampingnya, dan kembali mengalihkan pandangannya menatap langit malam yang cerah, gadis itu memejamkan matanya perlahan.


"Ini hanya mimpi, aku yakin ini hanya mimpi," Gumam Jenny dengan suara bergetar


"Ini tidak mungkin, ini pasti hanyalah mimpi."


Luccas benar-benar tidak tega dengan apa yg terjadi pada kekasihnya tersebut, dia langsung memeluk Jenny dengan begitu erat dan menenangkannya.


"Jenny maafkan aku, aku mohon."


"Katakan ini hanyalah mimpi Luccas ini hanyalah mimpi." ucap Jenny


Gadis itu memukul Luccas dengan air mata yang terus berderai, Jenny tidak percaya apa yg terjadi pada kisah cintanya dan Luccas, dia terus saja menganggap ini hanyalah sebuah mimpi, Jenny mendorong tubuh kekar Luccas dan mencoba melepaskan dirinya dari pria tersebut.


Puda itu hanya menatap kepergiannya, ia sangat menyesal karna telah mengecewakan gadis yg ia cintai tersebut.


Ponsel Luccas tiba-tiba saja bergetar, pemuda itu langsung mengangkat panggilan masuk tersebut, yang tidak lain dari sang Mama.


"Aku sudah membicarakan tanggal pertunangan kalian, sebaiknya kau jangan melarikan diri, karna sekarang Ellia sedang mengandung anakmu." tegas Nyonya Lim.


Wanita paruh baya itu memang sangat kecewa pada Luccas, bagaimana tidak, awalnya ia sendiri yang memutuskan perjodohan tersebut, dan sekarang ia malah menghamili Ellia.


Luccas tidak menjawab satu patah katapun, dia langsung membanting ponselnya kejalanan dengan sangat keras.


"Ahhhhhhhh."


"Bodohhhhh."


"Tidak bergunaaaa."


Luccas langsung mengemudikan mobilnya, ia mencoba mengejar Jenny yang baru saja meninggalkannya, wajah Luccas benar-benar prustasi, dalam Luccas sangat tidak ingin melaksanakan pernikahan tersebut dengan Ellia.


Luccas berlari ke arah Jenny yang saat itu sedang menekan tombol pasword aapartemennya.


"Kau tidak bisa menghindar dariku lagi"


Dengan cepat Luccas mengcengkram tangan Jenny, agar gadis itu tidak menghindar darinya, ia menekan password tersebut dan langsung menyeret Jenny masuk kedalam kamarnya.


"Apa yang kau lakuakn? cepat lepaskan aku." tegas Jenny


Luccas mengabaikannya, ia terus menarik paksa tangan sang gadis dan meleparnya ke atas ranjang.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Cepat hentikan omong kosong ini Jenny,"


Luccas menatapnya dengan begitu tajam, ia bahkan langsung memgunci pergerakan gadis itu dan meninndihnya, membuat Jenny terkejut dan ketakutan.


"Apa? omong kosong apa yang kau maksud? Ellia hamil dan itu omong kosong?" tegas Jenny meninggikan suaranya.


Rahang Luccas mengeras, ia mencengkram kuat wajah Jenny dengan begitu kasar.


"Aku mencintaimu, aku tidak mencintainya."


"Lalu apa? bagaimana dengan bayinya?"


Jenny memukul pria itu, air matanya kembaki berderai menatap dua bola mata indah milik Luccas dengan lirih.


"Cepat pergi Luccas, aku tidak ingin melihat wajahmu." Ucao Jenny denagb suara yang bergetar


Pemuda itu semakin kesal di buatnya, "Jawab apa kau rela kehilanganku, apa kau tidak mencintaiku jawab aku Jenny" Tegas Luccas


"Lepaskan, aku tidak mencintaimu, aku tidak peduli apapun yg akan kau lakukan, aku tidak ingin melihat wajahmu." Teriak Jenny meneteskan air matanya


Tangan Luccas terlepas dengan begitu mudahnya, pemuda itu lantas beranjak menjauhkan dirinya dari Jenny.


"Okeee!!! Baiklah jika itu maumu"


"Yaaaa, pergi kau dari sini, bodoh!! aku tidak pernah mencintaimu."


Luccas berlalu dengan penuh kekecewaan, padahal tujuannya hanya ingin menyelesaikan masalah ini bersama, tetapi Jemny terus menyangkal perasaan cintanya pada Luccas, hingga membuat pria jangkung itu semakin kesal.