Ignorance Of Love

Ignorance Of Love
Chapter 22



Aku sudah bersama dengan Jeny saat ini, sengaja aku menjemputnya dikampus, entah aku harus mengatakan hal ini atau tidak. Aku tidak punya cukup keberanian saat sedang bersamanya, aku tidak tega jika harus membuatnya bersedih, ia pasti sangat kecewa jika mengetahui hal ini. Ya tuhan kenapa semua ini terjadi.


"Kenapa diam? Apa ada masalah dikantormu?" Ucap Jeny.


Aku menglihkan pandanganku sambil terus mengemudikan mobil, sedari tadi aku memang tidak banyak bicara.


"Lalu kenapa? Kau terlihat tidak sedang baik-baik saja."


Aku hanya tersenyum tipis padanya, Jeny mengelus wajahku, tatapannya sendu, aku semakin tidak tega saja jika harus mengatakan yang sebenarnya, padanya. "Kau lapar?" tanyaku.


Jeny hanya tersenyum tipis, ia menyandarkan kepalanya dibahuku, tidak, aku tidak mungkin mengatakan hal ini. Aku tidak ingin ia kecewa, tapi apa yang harus aku lakukan? Dalam perut wanita lain sudah ada bayi, darah dagingku sendiri.


Jeny Pov


Entah apa yang terjadi padanya, Lucas terus saja terdiam, tidak banyak bicara. Setiap aku bertanya dia hanya memancarkan senyumnya, senyum yang tidak biasa. Aku bisa melihat dengan jelas jika Lucas sedang tidak baik-baik saja. Mobil Lucas terhenti disebuah restauran cepat saji, aku tahu suasana hatinya sedang buruk, itu sebabnya aku menyuruhnya untuk membungkus makanan dan akan menyantapnya di apartemen saja. Sambil menunggu Lucas, aku merapikan rambutku, aku menyepolnya, dan merapikan riasan wajahku, aku memoles lipstik berwarna kalem, hingga Lucas datang dengan membawa makan yang telah ia pesan.


Pria itu terus menatapku, aku benar-benar merasa heran. Sebenarnya ada apa dengan pria jangkung ini? Lucas meraih wajahku dan mengelusnya dengan penuh kelembutan.


"Aku mencintaimu." Ucapnya.


"Aku tau."


Pemuda itu terkeh, ia langsung mendekatkan wajahnya ke arahku, aku tahu apa yang akan ia lakukan, sebelum dia melakukannya, aku terlebih dulu merengkuh bibirnya dengan lembut dan menekan tengkuknya. Cukup lama kami menyatukan bibir, merasa sesak aku melepaskannya, dan mendorong tubuh kekasihku tersebut. Lucas kembali membenarkan posisi duduknya pandangannya lurus kedepan, ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Lagi-lagi sikapnya dingin, tidak banyak bicara, sepanjang jalan perjalanan kami hanya saling diam, aku sudah mencoba mencairkan suasana dengan mengatakan omong kosong. Tetapi Lucas menanggapi hal itu secukupnya, jawaban yang kudengar darinya hanya Iya, mungkin, dan tidak. Mobil terhenti di parkiran apartemenku, aku turun cukup merasa kesal karna pria jangkung ini terus mengabaikanku. Ia berjalan dengan santai tanpa memperdulikanku.


"Kau ini kenapa." Tegasku.


Lucas mngalihkan pandangannya menatapku, wajahnya seketika memucat saat menyadari jika aku sudah muak dengan sikap dinginnya.


"A-aku baik-baik saja." Ucapnya gugup.


"Kau terus mengabiakanku, kenapa? Masalah kantor? Kenapa harus mengabaikanku."


"Jeny aku... Aku..."


Aku menghela nafas dengan kasar, sikap Lucas benar-benar sangat menjengkelkan. "Pergilah, aku tidak ingin bicara denganmu."


Aku melangkah dengan bibir yang mengerucut berlalu begitu saja dari hadapan Lucas.


"Jeny, Aku... Aku ingin mengatakan sesuatu." Ucapnya, langkahku terhenti aku menatapnya dengan tajam dan mematikan.


"Aku, Ellia..."


Dahiku mengerut saat aku mendengar nama gadis yang tidak lain adalah, mantan tunangan Lucas tersebut.


Aku mendekatinya, dan terus mencecarnya.


"E-Ellia ha-hamil."


Dahiku mengerut, mataku membulat, mulutku terbuka seraya terkejut. "Apa maksudmu? Jangan katakan jika kau adalah ayah dari anaknya." Mataku seketika menggenang, batinku teriris. Lucas hanya terdiam tidak menjawab satu patah katapun. "Jawab aku, katakan jika itu bukan anakmu."


Aku bisa melihat sorot mata Lucas yang penuh dengan penyesalan, ia hanya tertunduk fan tidak berani menatap wajahku.


"Ma-maafkan aku."


Tubuhku melemah, dadaku terasa sesak seketika, permintaan maafnya cukup menjawab segala pertnyaan dalam pikiranku.


Plakk...


Aku melayangkan tamparan keras kewajahnya, aku menangis, air mata ini benar-benar tidak bisa dibendung lagi. Lucas berlutut dihadapanku, matanya menggenang.


"Aku mohon maafkan aku, aku bersumpah, aku hanya mencintaimu."


"Lalu apa ini semua? Kau menghamili Ellia, apa kau pikir aku bodoh."


Lucas meraih tanganku, akan tetapi aku langsung menepisnya.


"Aku berani bersumpah, aku mlakukan itu sebelum kita menjalin hubungan, sebelum aku menyadari jika aku sudah jatuh cinta padamu."


Tubuhku bergetar, rasanya benar-benar sakit, belum lama aku menjalin hubungan, dan sekarang masalah besar sudah menimpa hubunganku dengan Lucas.


"Percayalah padaku, aku-aku tidak akan menikahinya, jika itu yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya."


Pernyataan Lucas sukses membuatku terkejut, bagaimana mungkin dia berpikir demikian? Sedangkan Ellia sedang mengandung darah dagingnya.


"Tidak, Lucas mendongakan wajahnya menatapku dengan intens. Kau harus bertanggung jawab, bayi itu tidak bersalah, kau harus menikahi Ellia."


Lucas meraih tanganku, tangisanku terhenti, aku mencoba tetap tenang, meskipun hal ini sangatlah menyakitkan.


"Tapi aku menintaimu." Tegasnya.


"Lupakan saja."


Aku menarik tanganku darinya, dan berlalu begitu saja, Lucas berusaha menghntikanku, akan tetapi aku tidak menggubrisnya, untuk apalagi? Hal itu tidak akan pernah bisa merubah keadaan.


Aku langsung memasuki apartemenku, air matau kembali mengalir, setengah prustasi aku memikirkan hal ini, ini benar-benar tidak adil, aku merasa sedang dipermainkan oleh takdir.