Ignorance Of Love

Ignorance Of Love
Chapter 24



Aku mengenakan gaunku, untuk menghadiri pesta pertunangan Lucas dan Ellia, ini tidak mudah, tapi aku ingin bertemu dengan Luas untuk yang terakhir kali. Dan aku berharap setelah ini kita tidak pernah dipertemukan lagi. Aku melihat pantulan wajahku dicermin, seenyedihkan ini keadaan ku sekarang, aku bhkan baru menyadarinya, kantung mataku sangat besar, bahkan warna di bawah mataku sangatlah gelap. Aku mengeluarkan semua peralatan make-upku, memoles wajah dengan riasan tipis, dengan kekuatan makeup, kantung mataku tersamarkan, sekarang aku terlihat seperti gadis tanpa beban hidup.


Bella dan Hans akan menjemput dan membawaku ke acara tersebut, aku menurut saja, demi bisa bertemu dengan Lucas. Sebelum ia benar-benar meresmikan hubungannya bersama Ellia. Aku segera menemui Bella dan Hans yang sudah menungguku dibawah, aku menghampiri mobil sedan hitam yang sudah menungguku. Hans membuka kaca mobilnya dan berkata, "Kau yakin?"


Aku mengangguk, pertanyaan itu ia lemparkan untuk memastikan jika aku benar-benar sudah setuju untuk datang ke acara pertungan Lucas tersebut. Mobil terhenti disebuah gedung meah tempat aara tersebut dilangsungkan, Bella menuntun tanganku, sedangkan Hans berlalu begitu saja. Aku mengabsen setiap titik tempat tersebut, menari pemuda yag aku cintai, akan tetapi aku hanya melihat Bella saja yang sedang berbincang dengan para tamu undangan. Dimana sebenarnya Lucas?


"Kalian tunggu disini, aku akan kembali." Ucap Hans.


Aku tidak mengerti, apa sebenarnya yang sedang mereka rencanaka, seling beberapa waktu pondsel Bella bergetar, gadis itu mendapat sebuah pesan, bahkan setelah membacanya ia lsngsung menarikku.


"Bella, apa yang kau lakuan kenapa kaumenarikku?" Pekikku. Gadis itu tidak menggubrisnya, entah kemana Bella Akan membawaku, aku dengannya berjalan menelusuri lorong, semakin jauh semakin sepi. Aku melihat dihadapanku, sudah ada Lucas dan Hans sedang berdiri menatap kearahku dan juga Bella. Lucas menghampiriku, ia langsung memelukku dengan erat, ia bahkan mendorong tubuhku untuk memasuki ruangan kecil yang aku pikir ukurannya hanya 3x3 saja.


"Kenapa kau datang?"


Lucas menatap wajahku dengan sorot mata indahnya, aku langsung memeluknya dengan erat.


"Karna aku ingin melihatmu bersamanya."


Lucas mendengus kesal, sepetinya ia tidak suka mendengar jawabanku yang memang kurang masuk akal.


"Jawab pertanyaanku dengan jujur, apa kau mencintaiku."


Tubuhku bergetar, mulutku terkunci, tetu saja aku sangat mencintainya lebih dari apapun.


"Kenapa kau diam? Jawab apa kau mencintaiku."


Aku menggelengkan kepalaku, air mataku mengalir, tanganku menengkram kuat jas yang ia kenakan.


Lucas menjatuhkan air matanya, ia langsung memelukku dengan erat, aku bisa merasakan jika ia tidak ingin melangsungkan pernikahan ini, akan tetapi keadaan yang telah mendesaknya.


"Aku mohon maafkan aku, aku sangat mencintaimu."


Aku menyeka setetes air mata yang mengalir diwajahnya, Aku melihat ketulusan cintanya padaku, dapat aku rasakan jika ia benar-benar sangat mencintaiku.


"Aku tidak masalah, demi bayimu. Dia tidak bersalah."


Aku menyentuh wajah Lucas dengan penuh kelembutan, aku merengkuh bibirnya, kami saling melepaskan kerinduan, ia terus memelukku, menekan dan mengelus punggungku. Kami benar-benar saling merindukan satu sama lain. Aku berpikir mungkin ini adalah ciuman kami yang terakhir, dan aku sangat menikmatinya.


"Sudah cukup."


Aku melepaskan penyatuan bibir kami secara sepihak, karna sudah cukup lama aku dan Lucas berada diruangan ini, aku khawatir jika ada seseorang yang melihat kami sedang berduan di gudang ini, apanyang akanmereka pikirkan, jika melhat Lucas sedang bercinta dengan gadis lain di hari pertunangannya.


"Sebaiknya kita pergi sekarang, keputusanku sudah bulat. Aku akan melarikan diri bersamamu."


Aku cukup kagum akan kebodohan Lucas saat ini, karna aku tahu hal itu ingin ia lakuan karna tida bisa berpisah denganku.


"Kau harus menjadi pria yang bertanggung jawab." Ucapku.


Lucas terdiam, ia tidak tega jika harus meninggalkanku seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terlanjur. Aku merapikan kembali gaunku, menyeka air mata yang membasai pipiku, dan keluar begitu saja tanpa menatap Lucas.


"Jeny tunngu, aku tidak bisa melakukan ini padamu Jeny, aku hanya mencintaimu." pekiknya


Air mataku kembali mengalir, aku berusaha meninggalkan tempat ini dan bersikap seolah tidak terjadi apapun. Bella menghamipiru, ia membawaku kembali ke aula, beberapa ment lagi acara pemasangan cincin akan segera dilaksanakan, dan Lucas masih saja berada disana, bahkan semua orang sudah menunggu kedatangannya. Tujuanku hanyalah bertemu dengan Lucas, aku bahkan tidak sanggup menyaksikan pria yang aku cintai memasangkan sebuah cincin di jari seorang gadis lain. Pandangan Lucas terus saja menatap kearahku, padaha saat itu dirinya dan Ellia sedang menjadi pusat perhatian. Aku tidak anggup dan pergi berlalu begitu saja meninggalkan acara pertunagan ini.