
"Hay Tuan, Aku Jeny." Aku tersenyum tipis dan menyapa pria tersebut, sepertinya dia adalah temannya Lucas.
"Aku Hans, nama yang cantik seperi dirimu."
Mataku membulat saat pria itu mencium tanganku, spontan aku langsung menariknya, ia bhakan secara terang-terangan menggodaku di hadapan Lucas. Aku melirik ke arah Lucas, dahinya mengerut, ia bahkan langsung menarikku, menjauh dari Hans.
"Sebaiknya jaga sikapmu, kau itu milikku, jadi tidak perlu menarik perhatian orang lain untuk menggodamu."Tegas Lucas.
Ada apa dengannya? Padahal sudah sangat jelas jika Hans yang menggodaku, ia bahkan menuduhku yang tidak-tidak, dasar pria bodoh. Aku duduk disamping bar, wajah Lucas benar-benar terlihat sangat jengkel sebenarnya Apa salahku? ia bahkan terus mengabaikanku, tidak menggubris ocehanya, membuatku semakin bosan berada ditempat seperti ini. Aku melangkah meninggalkannya, aku heran dengan mood pria itu, ia cepat sekali marah, padahal aku tidak melakukan apapun, dia sendiri yang membawaku ketempat ini, tetapi sikapnya sangat dingin. Menyebalkan.
Aku menatap pantulan wajahku dicermin, merapikan rambut dan riasanku, aku menyalakan keran air dan mencuci tanganku disana.
"Kau terlihat sangat cantik."
Aku melirik kesumber suara, iyuh seorang pria paruh baya yang telah mabuk menghampiriku.
"Sombong sekali."
Pria tua itu mendekatiku, ia mencoba melecehkanku dan aku langsung berteriak lalu mendorongnya.
"Kurang ngajar." Ucapnya
Aku berteriak dengan sangat kencang saat dia akan menikamku.
"Ahhhhh, Lucas tolong aku."
Bruakkk...
"Aku-aku takut." Ucapku pada Lucas dengan suara bergetar.
Dia mengankat tubuhku, menyembunyikan bagian gaunku yang robek, tanganku melinkar di lehenya, aku bahkan menyembunyikan wajahku dalam dekapannya. Lucas langsung membawaku kembali kedalam mobil, ia menenangkannku, memberiku sebotol air meniral. Aku masih ketakutan, mataku menggenang dan tubuhku masih bergetar. Pria jangkung ini lagsung mengemudikan mobilnya, Akan tetapi raut wajahnya masih sangat dingin.
"Apa kau baik-baik saja." Ucap Lucas dingin.Ini semua terjadi karnakau, jika saja sat itu kau tidak mengabaikanku, mungkin aku tidak akan pergi ke toilet dan bertemu dengan pria menjijikan itu. Tegasku
Aku menangis, kali ini Lucas benar-benar sangat menjengkelkan. Ia bahkan lansung menhentikan mobilnya saat itu hingga membuatku semakin terkejut.
"Kenapa kau menghentikan mobilnya? Apa kau akan menuruhku turun?" ucapku dengan sangat jengkel.
Tanpa menunggu jawabannya, aku membuka seat bel tersebut, dan mencoba keluar dari dalam mobil Lucas. Pria itu menahanku, ia menarik dan langsung mencium bibirku dengan sangat kasar, dia selalu saja membuatku terkejut, aku terus merapatkan bibirku, seolah menlolak apa yang lakukan.
"Mmmmm, apa kau sudah tidak waras?"
Aku mendorongnya sekuat tenaga, hingga Lucas melepaskan ciuman tersebut, raut wajahnya masih terlihat sangat dingin, ia bahkan langsung membuang wajahnya dan tidak menatapku.
"Turun."
Mataku membulat mendengar pernyartaan Lucas, pria ini benar-benar menyuruhku turun keluar dari mobilnya. Kesabaranku benar-benar sudah habis, dengan raut wajah jengkel aku keluar dari dalam mobil tersebut. Dan setelah itu Lucas mengemudikan mobilnya dengan santai.
"Dasar tidak waras, bodoh, akua membencimu."
Aku bahkan melempar alas kakiku kearah mobilnya, ia benar-benar neninggalkan aku dijalanan, memuakan.