Ignorance Of Love

Ignorance Of Love
Chapter 27



Lucas Pov


Aku hanya menghabiskan waktuku dirumah, itupun setiap saat aku harus bolak-balik rumah sakit, aku terbaring di atas ranjangku, menatap langit-langit kamar. Seseali aku teringat Jeny, tahun ini ia pasti sedang sibuk menyelesaikan Studynya. Mama datang membuka pintu kamar dengan membawa makanan dan obat-obatan yang setiap beberapa jamnya harus aku konsumsi.


"Lucas, ini makanan dan obatmu, kau harus cepat menghabiskannya." Ucap Mama.


"Untuk apa? Itu semua hanya membuang-buang waktuku saja, pada akhirnya aku juga akan mati." Ucapku dengan santai.


Mama selalu saja menjatuhkan air matanya setiap kali menatapku, aku tahu dia sangat menyayangiku. Dan sekarang aku putra satu-satunya hanyalah seseorang yang tidak berguna.


"Kenapa Mama menangis? Aku belum mati." Ucapku.


Seseorang mendorong dan membuka pintu kamarku, Hans melebarkan senyumnya menatapku, aku kagum dengannya, dia dan Bella yang sekarang sudah mnjadi istrinya selalu memberikan semangat hidup untukku, Hans bahkan sudah dikarunia seorang putri hasil dari buah pernikahannya.


"Kau datang lagi, aku bahkan sudah sangat bosan melihatmu." Ucapku pada Hans.


Hans terkekeh, mungkin ia merasa geli mendenar ucapanku, padahal yang aku katakan itu semua fakta dan kenyataan.


"Apa kau baik?"


"Hari ini aku baik, mungkin besok atau lusa aku tidak akan bisa melihat kalian lagi." Ucapku.


Hans menghela nafasnya dengan kasar, mungkin sama halnya dengannku, ia cukup bosan mendengar ocehanku yang selalu membahas kematian.


"Kali ini aku datang tidak hanya dengan Bella, Aku bersama dua orang wanita sekaligus."


Aku memiringkan senyumku, ini adalah kali pertama Hans datang bersama dengan putri kecilnya.


"Dimana dia? Aku sangat ingin menggendongnya."


Bella membuka pintu kamarku perlahan, ia tersenyum kearahku hingga membuat aku terkejut.


"Jeny? Kenapa dia disini? Untuk apa kalian membawanya." Tegasku.


Hans dan Bella hanya terdiam, Jeny melangkah memasuki ruangan kamarku.


"Hans. Siapa gadis ini?" ucap Mama.


"Dia adalah..." Jeny langsung memotong ucapan Hans, ia bahkan bersikap santai di hadapan ibuku.


"Perkenalkan, aku Jeny, kekasih Lucas."


Pernyataannya sukses membuat aku semakin terkejut, entah apa maksud dan tujuan Hans membawa gadis ini menemiku.


"Kau terlihat sangat cantik."


Ibuku bahkan langsung memuji kecantikan Jeny, padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu.


"Nyonya, aku perlu bicara denganmu diluar." Ucap Hans.


Aku yakin itu semua hanya alasan mereka saja,untuk memberikan aku waktu berduaan bersama Jeny. Jeny mulai menghampiriku, ia bahkan meraih makanan yang terletak diatas nakas, raut wajahnya terlihat sangat santai, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di pikirannya sekarang.


"Sayang, kau terlihat jauh lebih kurus, apa kau tidak menjaga pola makanmu?" ucapnya.


"Ayo sayang, buka mulutmu." Ucapnya.


Aku memiringkan senyumku, dan mendengus kesal padanya.


"Apa maksudmu?" ucapku dingin.


Jeny menghela nafasnya dengan kasar, ia menatapku dengan intes, dan bahkan memangkas jarak diantara kami. Jeny meletakan piring itu kembali, kali ini ia beralih mengambil sebuah pisau, entah apa yang akan ia lakukan sekarang. Gadis itu memotong beberapa buah dengan santai, aku hanya terdiam dan terus memperhatikan tingkah bodohnya. Aku pikir buah itu untukku, ia malah memakannya sendiri, tanpa memperdulikan pertanyaanku.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku, apa yang kau inginkan sebenarnya." Tegasku.


Jeny mengangkat satu alis tebalnya, ia menatapku secara intens.


"Apa aku perlu menjawab pertanyaanmu?" ucapnya dingin.


"Hentikan omong kosong ini. Sebaiknya kau pergi."


"Maaf, aku bukan orang yang mudah datang lalu pergi."


Aku merasa ucapannya tersebut sedng menyinggungku, karna aku pernah meninggalkannya di masa lalu.


"Hentikan omong kosong ini,"


Aku menarik tangannya, dan mencoba membawa gadis itu keluar dari kamarku, akan tetapi tenaganya cukup kuat, untuk kondisi tubuhku yang lemah.


"Aku mencintaimu, dan itu bukan omong kosong." Tegasnya.


Aku yakin itu hanya alasan, karna Hans sudah menceritakan perihal penyakitku padanya, dia tidak mencintaiku, hubungan kami sudah lama berakhir. Dia pasti hanya kasian padaku.


"Aku tidak mencintaimu, sebaiknya kau pergi."


"Tapi aku mencintaimu, dan itu sudah cukup."


Astaga, ia masih saja keras kepala sama seperti dulu, Jeny tidak banyak berubah, hanya penampilannya saja yang semakin terlihat dewasa. Aku terdiam, pernyataan Jeny semakin membuatku merasah bersalah atas apa yang pernah aku lakukan padanya dimasa lalu.


"Sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu."


Aku terkekeh, ini tedengar menggelikan. "Lantas apa yang kau pikirkan? Kau akan menghabiskan waktumu dengan seorang pria penyakitan sepertiku?"


Jeny malah mamelukku, matanya mrnggrnang, pelukannya sangat Erat.


"Aku sangat mencintaimu, aku hanya akan menghabiskan seumur hidupku bersamamu." Ucapnya lirih.


"Jangan bodoh, aku ini hanya..."


Jeny membungkam mulutku dengan telunjuknya, mata indahnya terus menatapku, entah apa yang ada dalam pikiran gadis ini.


"Jangan katakan apaun, kau akan sembuh, aku akan terus bersamamu, bagaimanapun keadaanmu."


Cup...


Jeny bahkan merengkuh bibirku, aku hanya terdiam tidak membalas ataupun menolak ciuman Jeny, jantungku berdetak kencang setelah sekian lama aku tidak merasakan hal ini.