
Setiap harinya Jeny selalu bersamaku, ia bahkan menyuruh ibunya secara langsung untuk menangani penyakitku. Aku merasa semangat hidupu embali, aku jadi lebih aktif dari biasanya, rajin berolah raga, bahkan meminum obar-obatanku secara tept waktu. Aku beruntung, disaat aku merasa dunia ini sangatlah tidak adil. Tuhan mengirimkan bidadari berwujudkan manusia seperti Jeny padaku. Jeny terus bersandar padaku sambil memainkan ponselnya, aku terus menatap bidadari cantikku tanpa melewatkannya sedetikpun, disisa hidupku, aku hanya ingin melewatinya bersama Jeny.
"Apa kau tidak bosan memandangku secara terus menerus?" ucap Jeny.
Aku pikir ia tidak menyadarinya, ternya Jeny menyadari jika aku terus menatapnya. "Tidak mungkin aku bosan padamu, kau yang terbaik."
Gadis itu terkekeh mendengar ucapanku yang sangat menggelikan, tangan nakalnya menyentuh wajahku dengan penuh kelembutan.
"Aku boleh bertanya?" ucapnya.
"Katakan."
"Apa bagian itu masih berfungsi?"
Etah dia ini polos atau bodoh, dia menanyakan hal itu padaku. Jeny benar-benar sangat menggemaskan.
"Apa kau ingin melihatnya?" tanyaku.
Aku mengarahkan tanganku menuju rel sleting celanaku, Mata Jeny membulat, ia langsung beranjak dan menjauh dariku.
"Bodoh, tidak waras, aku hanya bertanya. Tidak menyuruhmu untuk menunjukannya padaku." Tegasnya dengan raut wajah memucat.
Dia benar-benar sangat menggemaskan, aku menarik tangan Jeny hingga ia terjatuh kedalam pelukanku. Wajahnya merona, ia terlihat sangat gugup, jarak antara wajahku dengannya hanya beberapa senti saja.
Mata Jeny membulat saat ia melihat darah segar mengalir keluar dari hidungku. Aku mencoba menyembunyikan wajahku, dan bersikap santai, lagi pula hal ini sangat sering terjadi, bukan hal aneh untukku.
"Lucas, apa ini? Kenapa darah ini keluar?"
Aku terkekeh, ucapan Jeny selalu bisa membuatku kegelian meskipun keadaanku seperti ini.
"Cukup Lucas." Tegas Jeny. Matanya menggenang, ia meraih tisu diatas nakas, dan membersihkan darah tersebut dengan penuh kelembutan. Air mata Jeny mengalir, bibirnya mengerucut, aku tahu dia sangat mengkhawatirkan aku.
"Maaf." Ucapku menyeka air matanya.
Jeny tidak menggubrisnya, ia masih saja membersihkan darah tersebut yang terus mengalir dari hidungku. Seketika aku merasa sangat lemah, tubuhku terasa sakit, kepalaku sangat pusing. Aku beranjak dan berlalu meninggalkan Jeny begitu saja menuju kamar mandi. Gadis itu sangat ketakutan, ini kali pertamanya melihatku seperti ini, tak hentinya Jeny mengetuk pintu kamar mandi tersebu dan berteriak memanggil namaku.
"Lucas, kau baik-baik saja," jawab aku Lucas.
Jeny Pov
Wajah Lucas terlihat sangat pucat setelah ia keluar dari dalam kamar mandi, ia lansung memelukku dengan tubuh yang sangat lemah, aku bahkan hampir terjatuh bersamanya. Lucas tidak sadarkan diri, darah segar itu kembali mengalir. Aku terus menggoyangkan tubuh Lucas, mencoba menyadarkannya, tetapi hasilnya nihil. Aku berlari keluar kamar, memanggil Tuan dan Nyonya Lim yang saat itu sedang berada dilantai dasar.
"Nyonya, Tuan. Lucas tidak sadarkan diri." Jeritku. Tubuhku bergetar, kami langsung melarikan Lucas kerumah sakit, aku terus saja menangis, Dokter dirumah sakit tersebut bahkan sudah sangat mengenal Lucas, aku langsung menghubungi ibuku, unruk segera menemuiku dirumah sakit, membantu menyembuhkan penyakit kekasihku tersebut. Yatuhan tolong selamatkan Lucas, dia adalah hidupku, aku tahu kau sangat baik, air mata ini terus saja mengalir, aku bahkan sudah satu jam lebih menunggu dokter keluar, perasaanku benar-benar tidak karuan. Nyonya Lim memelukku, ia mencoba menenagkanku, aku benar-benar takut, apalagi jika mengingat ucapan ibuku, jika penyakit yang Lucas derita sangat sulit untuk di sembuhkan, terlebih kangker tersebut sudah memasuki stadium lanjut.