
Oke, aku dengan Papa sudah ada di sebuah perusahaan besar, beberapa pekerja disana menyapaku dan Papa, salah satu diantara membawaku keruang pertemuan.
"Nona Jeny dan Tuan Kim bisa menunggu disini. Sebentar lagi presedir akan segera menemui kalian."
Aku dan Papa mengiyakan ucapan pria paruh baya tersebut yang tidak lain adalah pegawai di perusahaan ini. Tidak butuh waktu lama, aku mendengar seseorang mendorong pintu yang terbuat dari kaca tersebut perlahan.
"Maaf su.. Jeny kau...”
Mataku membulat begitu melihat pria jangkung yang baru saja datang itu adalah Hans.
"Kalian sudah saling mengenal rupanya?" ucap Papa
Aku menelan salivaku, dengan keadan mata yang masih membulat. Ponsel papa brdering, entah dengan siapa ia berbicara saat itu, aku hanya mendengar jika Papa akan segera datang.
"Papa harus menjemput Mamamu di bandara, sebaiknya kau urus ini dengan baik, jangan mempermalukan papa."
Aku hanya mengangguk, Papa akan mebiarkan aku mengurus proyek ini sendirian, dan ternyata pemilik perusahaan besar ini adalah Hans, seseorang yang aku kenal di masa lalu.
"Tuan Hans, maafkan aku, dia putriku yang akan mengurus segalanya, dia juga yang sering menangani proyek lain diperusahaanku."
Papa berlalu begitu saja meninggalkanku, dan aku masih terdiam dengan sejuta kegugupan. Bagaimana tidak setelah aku kembali kesini setelah beberapa tahun, aku malah bertemu dengan Hans. Kenapa dunia ini angatlah sempit.
'Jeny kita harus bicara."
"Iya, kita akan bicara ini tentu soal bisnis bukan?" ucapku.
"Ini tentang Lucas."
Deg...
Benar saja, tebakanku tidak meleset aku yakin dia akan membahas hal ini dari pada urusan pekerjaan.
"Maaf, aku tidak ada waktu untuk membahas hal ini."
Ake mencoba berlalu keluar dari ruangan tersebut, akan tetapi Hans malah menahan dan mencengkram tanganku.
"Tolong dengarkan aku, ini menyangkut Lucas."
Aku berhasil melepaskan cengkraman Hans, tanpa menggubrisnya aku berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Jeny. Apa kau akan membiarkan Lucas menghadapi kematiannya sendirian."
Ucapan Hans berhasil menghentikan langkahku, aku memalingkan tubuhku mentapnya dengan tajam.
Author Pov
Beberapa Saat Setelah Jeny Meninggalkan Pesta Pertunangan Lucas dan Ellia.
"Luccas ayo pasangkan cincinnya pada Ellia."
"Luccas kenapa kau diam cepat pasangkan cincin itu ke jari Ellia."
Lucas merasakan pusing yang sangat hebat, seketika pandangannya kabur dia mencoba memasangkan Cincin itu dijari Ellia tetapi akan tetapi..
Bruakk...
Lucas menjatuhkan dirinya, cincin itu pun hilang terlepas dari tangan pemuda tersebut, ia terjatuh tepat saat akan memasangkan cincin itu pada Ellia.
Sontak semua orang berhasil di buat terkejut melihat Luccas yang tidak sadarkan diri, mereka semua langsung mendekat dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda itu.
"Anakku, apa yg terjadi padanya, seseorang cepat panggilkan Ambulance"
Ellia mencoba membangunkan Lucas dan bersikap peduli pada calon tunangannya tersebut, ia terus menggoyangkan tubuh Lucas guna menyadarkan calon suaminya.
“Lucas sadarlah, apa yg terjadi padamu Luccas?" Ucap Ellia.
Tidak lama kemudian, Lucas pun di bawa ke rumah sakit, kondisinya sangat buruk sampai dokter harus memasang alat bantu pernapasan padanya.
"Dokter, Dokter sebenarnya apa yg terjadi pada Putraku dokter? kenapa dia jadi seperti ini?"
"Tuan tenanglah, kita akan melakukan pemeriksaan, untuk mengetahui apa penyebabnya." Ucap dokter tersebut. Ellia hanya diam membisu melihat orang tua Lucas dengan kecemasannya, ia sendiri tidak mengerti, belum sempat cincin itu terpasang, tetapi Lucas sudah terlebih dahulu tidak sadarkan diri.
Setelah beberapa lama menjalani perawatan di rumah sakit, dokter memanggil kedua orang tua Lucas untuk mengatakan sesuatu tentang apa yg di derita Lucas.
"Maafkan aku mengganggu waktu kalian, ada hal penting yg harus aku bicarakan, ini mengenai penyakit Luccas."
Perasaan seorang ibupun tidak karuan, seketika jiwanya melemah takut Akan mendengar sesuatu hal yang buruk tentang anak kesayangannya tersebut.
"Pa, aku tidak ingin mendengarnya."
Nyonya Lim, memegang tangan suaminya dengan kuat, wajahnya memucat penuh kecemasan.
"Tenangkan dirimu, sayang."
Dokterpun memberikan selembar kertas yang berisikan tes lab tentang hasil pemeriksaan.
"Tuan berat untukku memberitahukan hal ini pada kalian, tetapi kalian harus mengetahuinya Luccas terkena Leukemia, dan itu sudah stadium lanjut"
Nyonya Lim histeris dia terkejut seakan tidak percaya dengan apa yg terjadi pada anaknya tersebut jiwanya hancur ketika mendengar hal itu.
"Tidak, kau pasti salah anakku baik baik saja itu tidak mungkin" Teriak Nyonya Lim menangis histeris.
"Nyonya aku sudah memeriksanya dua kali, dan hasilnya tetap sama, Lucas positif Leukemia, ini hal yg umum, hal itu memang sulit di kenali terlebih Lucas sibuk dengan pekerjaannya dan dia menyepelekan hal kecil yg terjadi padanya." Ucap dokter.
Nyonya Lim yang terkejut sampai tidak sadarkan diri di ruangan dokter tersebut. Ellia yang mengetahui akan penyakit Lucas pun tidak pernah dating, untuk menemuinya dia menghilang tidak pernah menemui Luccas bahkan bisa dikatakan dia tidak sudi hidup bersama dengan pria yg hidupnya tinggal mengitung hari saja. Lucas yang mengetahui penyakitnya tersebut hanya menghabiskan waktu di rumah sakit dengan obat-obatan yg bisa memperlambat kematiannya saja, ia cukup bersyukur karna hal ini, Ellia meninggalkannya, tentu saja Luca msasih bisa menyimpan dan menebus kesalahannya pada Jeny dengan tidak berhubungan lagi dengan wanita lain, meskipun ia dan Jeny sudah tidak pernah bertemu.