I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
episode 9



William mengantar Ajeng sampai ke kostnya, sebelum masuk, William mengecup kening Ajeng.


"Jangan sedih, gue selalu ada buat lo, istirahat, besok gausah berangkat kerja dulu, besok gue bawain makanan."


William berbalik hendak berjalan namun Ajeng memeluk William dari belakang.


"Jangan tinggalin gue, Wil,"


Ingin sekali menangis, namun ia tak kuasa jika terlihat oleh Ajeng, Ajeng akan ikut menangis.


William membalikkan tubuhnya, memeluk erat Ajeng, begitu juga dengan hatinya, tak raka meninggalkan Ajeng.


"Besok gue kesini, gue gak akan tinggalin lo,"


Ajeng mendongak, "Janji?"


Matanya penuh genangan air mata yang siap membanjiri pipi chubby nya.


William mengecup bibir Ajeng lama, Ajeng semakin mengeratkan pelukannya.


William semakin ingin menangis, ia melepaskan ciumannya, menatap dalam pujaan hatinya.


"Gue pulang dulu oke,"


Ucap William mencoba tersenyum, hanya dibalas anggukkan oleh Ajeng.


__________________


Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, namun belum ada tanda-tanda kedatangan William, Ajeng semakin cemas, sudah berulang kali ia menelpon tapi tidak diangkat oleh William.


"Sabar, Jeng, pasti William dateng kok,"


"Gue telpon gak aktif, Sof,"


"Nah tuh orangnya," Ucap Sofia menunjuk William diatas motornya.


Ajeng berlalu keluar gerbang, menghampiri William.


"Kenapa baru dateng?" Ajeng cemberut.


William menjawil hidung mungil Ajeng, merengkuh nya mengajaknya ke teras kostan.


"Kangen?" Goda William.


"Laper, bukan kangen, lo udah janji mau beliin sarapan."


William tertawa, sebenarnya hatinya perih melihat Ajeng manja seperti ini, ini akan semakin sulit untuk William mengikhlaskan Ajeng."


"Nih sarapannya, sana sarapan dulu, gue tunggu sini,"


. "Gue sarapan disini aja." Ucap Ajeng membuka wadah berisi lontong sayurnya.


Selesai makan Ajeng membuatkan William jus mangga untuk teman bersantainya.


Ajeng duduk bersisian, menyender pada William.


"Will, kita bisa nikah sir...."


"Jeng, please, jangan bahas itu okey,"


"Kenapa?"


"Karna gue pengin nikmatin waktu santai begini, sama lo,"


Ajeng hanya mengangguk, ia menikmati kebersamaan bercanda tawa dengan William.


"Cari jajan yuk."


"Mau jajan apa? Biar gue yang beli."


"Gak mau, gue mau ikut, nyari abang-abang di pinggir taman aja, ya."


"Yaudah, ayo."


____


Tiga hari sudah William dan Ajeng menghabiskan waktu berdua, bersantai, bercanda tawa, jalan-jalan.


"Jeng, besok gue udah mulai kerja lagi ya."


"Oke, gue juga besok bakal masuk ya mister William."


William hanya mengangguk setuju, setidaknya Ajeng bisa melupakan kesedihannya sampai hari dimana Ajeng akan bersanding dengan pria lain.


----


Ajeng sudah berangkat, menunggu William di meja kerjanya namun tak kunjung datang.


Sampai saat seorang pria berjalan semua karyawan menunduk hormat, Ajeng yang melihatnyapun ikut menunduk hormat walau ia tak tahu siapa pria itu.


Pria itu berjalan mendekat menuju ruangan William, sempat berhenti di depan meja kerja Ajeng.


"Kamu sekretaris pribadi disini?"


"Iya, pak."


Ajeng mengangkat sedikit kepalanya agar bisa melihat pria blasteran bule indo tersebut.


"Oh, good, saya Alexander, mulai hari ini kamu jadi sekretaris pribadi saya."


"Hah? Eh, anu, pak William?"


"Ba-ba.. Bali?"


"Ya, baiklah cukup, sekarang selesaikan pekerjaanmu."


"Baik,"


Ajeng tidak konsentrasi, ia berulang-ulang menghubungi William namun tak ada jawaban.


Apakah William sengaja menghindarinya, atau William ingin meninggalkannya.


-------


Suasana kantor sudah sepi, Ajeng yang masih duduk melamun di meja kerjanya menatap ruangan William yang masih menyala, pertanda mister Alex masih disana.


Mister Alex diam-diam mengamati Ajeng yang terlihat sangat sedih. Diapun menelpon William, mengabarkan keadaan Ajeng,


Hati William bergetar menerima foto Ajeng yang sedang melamun, ingin sekali dirinya memeluk Ajeng saat ini.


"Huh!" William menghembuskan nafas berat, mengusap wajahnya kasar,


"Aaaaaaaarrrrrrgggghhhhh... Ajeeeeengggg!! " Jerit William.


Diraih ponselnya untuk menghubungi Ajeng melalui Video call.


-


Ajeng meraih ponselnya, dan segera mengangkat panggilan William. Ia mengarahkan ponsel ke wajahnya.


"Haiii tengil," Sapa William tersenyum ceria.


"Will..." Air mata Ajeng kembali tumpah.


"Hei jangan nangis, sorry,"


"Kenapa lo gak ngabarin gue, lo mau ninggalin gue, lo jahat Will,"


"Hei, Hei sayang, jangan nangis, tiba-tiba ayah nyuruh gue kesini, kalo ada waktu gue bakal ngunjungin lo ke Jakarta oke."


"Gue aja yang nyusul lo kesana, kirim alamat lo."


"Sayang, dengerin gue, gue kerja, gue akan berusaha jadi sukses biar bisa bikin orangtua lo nerima gue."


"Will... Lo janji?"


"Iya gue janji, lo yang semangat kerjanya, jangan nakal, jangan coba-coba naksir Alex ya, " Goda William.


"Apaan si lo, gak mungkin lah, dia kan tua."


"Ekhemm.... Siapa yang tua?" Ucap Alex tiba-tiba sudah di ambang pintu ruangannya.


"Eehh... Anu... Pacar saya yang tua pak,"


"Kamu kenapa masih disini, pulang sana!"


"I-iya pak, permisi."


Ucap Ajeng sambil mengambil tasnya dan berlalu, masih bervideo call dengan William.


Terkekeh William melihat Ajeng gelagapan.


"Makanya, jangan suka ngomongin orang."


"Elo rese Wil, gara-gara lo tau,"


"Eh yaudah gue masih ada kerjaan, udah dulu ya, jangan nakal, jaga kesehatan."


"Lo juga, baik-baik disana, jangan jelalatan, gak usah tebar pesona, gak usah sok kegantengan."


"Emang gue ganteng kok, hahaha yaudah, bye tengil, muach."


_________


Ajeng hendak memejamkan matanya, harinya begitu lelah, juga hatinya.


Ponselnya berbunyi, beberapa foto masuk ke ponselnya, foto-foto itu foto prewedding mas Dimas kakaknya bersama gadis cantik sepertinya turunan blasteran.


"Kasian mas Dimas," Gumam Ajeng.


Ia memeriksa ponselnya, berjajar status-status menyayat hati dari Karina pacar kak Dimas.


Menerawang jauh bagaimana jika ia benar-benar dinikahkan bapaknya dengan laki-laki yang sama sekali belum ia kenal.


Bagaimana ia bisa meningkatkan William yang selama ini sudah menemani dan memberikan kasih sayang untuknya, rasa rindu kepada William begitu besar, ia mencoba menghubungi William namun tak ada jawaban.


___


Disana William menatap ponselnya yang terus berbunyi dengan nama Ajeng di layar ponsel.


Matanya memerah, tak tahu harus bagaimana, cintanya kepada Ajeng begitu besar, rasa rindunya begitu membuat hatinya hancur.


William membanting ponselnya, meninju tembok dan kaca di depannya. Tetesan darah mengalir dari kepalan tangan William yang terluka.


Bagaimana caranya ia mengikhlaskan Ajeng, sedang cintanya begitu teramat besar pada Ajeng, bahkan jika harus berlutut meminta Ajeng pada orangtuanya pun akan ia lakukan.


"Gue harus temuin orangtua Ajeng, yaa gue harus temui, apapun bakal gue lakuin buat bisa sama Ajeng, sekalipun harus berlutut didepan orangtua Ajeng." Gumam William.


William mengemasi barangnya, ia bertekad untuk menemui orangtua Ajeng, untuk melakukan apapun agar orangtua Ajeng merestui, dan membatalkan perjodohan Ajeng dengan pria pilihan bapak Ajeng.