
Tok.... Tok... Tok...
William membuka pintu kamar, dokter keluarga Ferland sudah datang.
William mempersilahkan dokter Fransiska memeriksa kondisi Ajeng.
10menit kemudian dokter Fransiska keluar kamar dengan mata berbinar.
"Gimana dok istri saya?"
"Selamat tuan, nona Ajeng hamil."
"Ha-hamil? Serius dok?"
Mata William berbinar memancarkan kebahagiaan, ia langsung masuk menemui Ajeng yang masih berbaring, hati Ferland nyeri mendengar kabar bahagia itu, matanya panas, ia menyeka sudut matanya dan mengalihkan pandangannya ke arah Zahra yang masih digendongnya.
"Sayang, terimakasih, terimakasih."
Ucap William sambil menciumi tangan dan kening Ajeng.
Ajeng tersenyum mengelus pipi William.
William menangis haru, memeluk Ajeng.
"Wil, aku ingin pulang."
"Apa tidak sebaiknya kamu tinggal disini agar ada yang merawatmu?"
"Tidak perlu bu,"
"Tapi bagaimana, apa kamu bisa merawat Zahra dengan kondisimu seperti ini."
Ibu Alina sangat khawatir dengan keadaan Ajeng, ia paham bagaimana rasanya jika hamil muda yang harus menghadapi mual-mual setiap harinya.
"Emmm bagaimana kalau ibu ikut kamu ya, ibu jagain Zahra."
"Ndak usah bu, biar nanti Ajeng panggil ibu Ajeng saja,"
"Lhooo, jangan ndhuk, ibumu kan banyak pekerjaan, apa kamu ndak anggep ibu ini budhemu ndhuk."
Ajeng bimbang, menatap suaminya, William yang tak enak untuk menolak memberi kode anggukan kecil.
"Baik, bu kalau itu ndak merepotkan buat ibu, tapi bukannya Ferland lagi sakit ya, nanti siapa yang jaga?"
"Aaahh Ferland sudah besar ndhuk, dia bisa jaga diri."
Ibu Alina melirik Ferland sekilas.
"Yasudah, Wil, kita pulang sekarang ya."
"Oke,"
"Emmm.... Will, Jeng, kalau kalian tak keberatan aku ingin meminta izin untuk satu malam Zahra menginap disini,"
"E-ta-tapi....."
"Besok akan aku antar Zahramu bersama ibu, aku mohon, malam ini saja, aku kesepian."
"Baik, nanti kami akan antarkan asi untuk Zahra, semoga dia tidak rewel dan merepotkanmu." Ucap William santai,
"Terimakasih, Wil, aku akan mengajak Zahra jalan-jalan."
🌺🌺🌺🌺
Setelah memarkirkan mobil, William menggendong Ajeng sampai di apartemennya. Meletakkan Ajeng dengan hati-hati.
"Wil, apa-apaan meninggalkan Zahra sama Ferland, aku takut Wil kalau nantinya Ferland curiga,"
"Tenang sayang, kamu gak liat tadi Ferland tiba-tiba sembuh dan jadi semngat karena Zahra, ayolah sayang... Bagaimanapun dia ayah biologis Zahra, kamu gak boleh begini oke, tenang, Ferland gak akan nyakitin Zahra kita."
"Tapi Wil....hmmmmpptt..."
William ******* bibir Ajeng dengan lembut dan dalam. Ajeng merengkuh leher William.
"Aku ingin Wil," Bisik Ajeng.
Tanpa menjawab, William kembali ******* bibir Ajeng, tangannya bergelirya memainkan setiap centi tubuh Ajeng, Ajeng menutup matanya menikmati sentuhan demi sentuhan William.
Setelah puncaknya, William ambruk memeluk tubuh Ajeng, menciumi kening dan pipi Ajeng, William mencium perut Ajeng, air mata bahagianya kembali menetes mengingat dj dalam perut Ajeng terdapat benihnya.
"Baik-baik disana William junior, papah sangat bahagia." Gumam William menciumi perut Ajeng.
*****
"Nak, istirahatlah biar ibu yang menidurkan Zahra."
Ferland meletakkan Zahra yang sudah tertidur pulas di ranjangnya.
"Nak, lihatlah, Zahra begitu mirip denganmu."
Gumam bu Alina.
"Tidak bu, dia sangat mirip dengan Ajeng,"
"Lihatlah, matanya milik Ajeng, hidungnya sama seperti hidungmu, mulutnya, senyumnya, lesung pipinya persis sepertimu nak, andai dulu kau tidak menyakiti Ajeng, pasti ibu akan memiliki cucu secantik ini nak,"
"Bu, maafkan aku,"
Ferland merengkuh bu Alina dalam dekapannya, Ferland sungguh merasa bersalah, terlebih jika ia memandang Zahra, rasa bersalahnya semakin membuatnya sedih, Ferland sangat menyayangi Zahra, entah mengapa hatinya begitu hangat jika berada dekat dengan Zahra mungil.
Ferland tidur memeluk Zahra, ia selalu sigap saat Zahra menangis meminta susu atau mengganti diapresnya yang penuh, tak ada rasa marah sedikitpun karena tidurnya yang tak nyenyak, justru Ferland merasa sangat senang jika Zahra terbangun dan meminta gendong.
*******
"Wil, aku tak bisa tidur, cobalah kau hubungi Ferland," Gumam Ajeng didada William.
William mengelus rambut Ajeng, ia masih mengatur nafasnya setelah pertempuran kedua dengan Ajeng.
"Ini sudah malam sayang, Ferland pasti sudah tidur, jika ada apa-apa pasti dia sudah mengabari kita."
"Kau tidak menyayangi Zahra, Wil,"
"Bukan seperti itu, aku paham perasaanmu, tapi aku juga gak bisa egois sayang, ikatan batin antara anak dan orang tua itu sangat kuat, aku gak mau berbohong kedepannya, Ferland harus tau siapa Zahra, karena sangat penting untuk Zahra kelak, yang bisa menikahkan Zahra kelak bukan aku, tapi Ferland ayah biologisnya, kita tidak bisa menjauhkan Zahra atau membuat Zahra membenci ayahnya. Sayang, berdamailah dengan masa lalu, aku ingin menjadi suamimu sampai maut memisahkan, dan pertanggung jawabanku sangat besar nantinya sayang, aku ingin mendidikmu agar menjadi surgaku, surga yang selalu ku rindukan nantinya, jadi kumohon, mengerti aku."
Ajeng menitikan air mata, dipandangnya William yang juga memandangnya, begitu besarnya kasih sayang William hingga tak mau Ajeng terjerumus dalam dendam masalalu yangkkelam Ajeng mencium pipi William.
"Maafkan aku Wil," Bisik Ajeng, William mengangguk tersenyum.
"Jaga William junior dengan baik ya sayang."
Ajeng mengangguk, ia pun terlelap dalam dekapan William.
*****
10.00 Ajeng selalu melirik ke arah jam dengan hati gelisah sambil selalu memeriksa ponselnya.
"Wil, kenapa Ferland belum datang?"
"Kau rindu Ferland sayang?" Goda William sambil duduk di sebelah Ajeng.
"Zahra, Wil, coba kau hubungi Ferland."
"Baiklah, sebentar."
William melakukan videocall satu panggilan tak terjawab, ia mencoba ke. bali dan kali ini Ferland mengangkatnya, terlihat Ferland sedang berada di kebun binatang dengan menggendong Zahra.
"Ya Wil, ada apa?"
"Hey, kau curang jalan-jalan tidak mengajak kami."
Balas William, Ajeng meraih ponsel William.
"Mana Zahraku." bergetar suara Ajeng gugup, tak dipungkiri Ajeng masih sedikit khawatir dengan Zahra yang bersama Ferland, Ajeng masih belum sanggup jika Ferland mengetahuinya sekarang dan membawa pergi Zahranya.
William mengusap punggung Ajeng, menatapnya sendu berharap Ajeng mengerti atas perkataan William semalam.
Ajeng menghela nafas lega saat Ferland mengarahkan ponselnya ke wajah Zahra yang tersenyum bahagia.
"pu-pulanglah jangan terlalu malam."
"Baik, nona, byeeee dadaaah."
Ucap Ferland, hati Ajeng begitu nyeri melihat kebersamaan Ferland juga putrinya yang terlihat sangat dekat. Ajeng mematikan panggilannya, dan melempar ponsel William.
"Hei, ponselku Ajeng."
"Biarin, rese sih."
"kalau rusak, belikan yang baru, aku tak mau tau." ketus William.
"dasar sableng. Orang kaya minta ponsel ke istri,"
Gerutu Ajeng mencubit perut William.
"aaa... aaawww... Sakit tau!"
"Biar tau rasa."
William terkekeh merangkul Ajeng yang masih cemberut.