
Ajeng terisak dalam kamarnya, ia membenamkan wajah dibantal, sementara Dimas masih terus menungguinya, mengusap punggung Ajeng.
"Maafin mas, dek, mas ndak bisa bantu Ajeng," Lirih Dimas, ia hancur melihat adik tersayangnya seperti ini.
Tak ada lagi Ajeng yang ceria, rumah megah bakal istana disulap menjadi istana sungguhan dengan berbagai bunga-bunga bertaburan dimana-mana, semua sibuk menyiapkan pernikahan Ajeng, sementara Ajeng semakin terlihat kacau, tak nafsu makan, tatapannya kosong, masih menggenggam erat ponselnya, berharap William menghubunginya.
Setiap hari dari pagi sampai malam Ajeng hanya duduk dipinggir danau buatan di belakang rumah, hatinya begitu kacau, remuk, hancur.
Mas Dimas mencoba menghubungi William, orangtua Ajeng semakin kalut, takut akan keadaan anak perempuannya.
Merasa bersalah, merasa sakit akan keadaan Ajeng.
Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, rasa hutang budinya selama ini dan janjinya kepada mendiang ayah angkatnya membuat orangtua Ajeng tidak bisa berbuat apa-apa, sedangkan hari pernikahan semakin dekat, tinggal menghitung hari, namun kondisi Ajeng semakin memperihatinkan.
William mendapat e-mail berisi keluh kesah Dimas, Dimas menyematkan nomor handphonenya agar suatu saat William mau menghubunginya.
William begitu terpukul, William mencoba menghubungi Dimas.
[Mas Dimas, ini aku, datanglah ke rumahku, hanya lompat beberapa rumah dari rumahmu, cat putih nomor 13. William.]
Tak menunggu lama, pesan balasan masuk.
[Ya, aku kesana sekarang Will,]
William menghembuskan nafas berat, ia menyandar di sofa, pikirannya tak bisa lepas dari Ajeng.
[Aku sudah di bawah Will,]
William turun membukakan pintu, mempersilahkan Dimas masuk, sambil memberikan suguhan pada Dimas.
"Will, bagaimana kabarmu?"
"Seperti ini mas, lihat sendiri,"
"Will, mau kah bertemu dengan Ajeng?"
"Mas, aku gak tau apa aku sanggup ketemu sama Ajeng, sepertinya aku gak sanggup mas, aku gak bisa ngelihat Ajeng dengan kondisinya sekarang."
"Will, aku mohon, pernikahan Ajeng besok Will,"
"Justru karena esok mas, aku gak mungkin...."
"Tolong beri pengertian pada Ajeng Wil, mas mohon," Ucap Dimas bergetar bersimpuh di depan William, reflek William merengkuh Dimas dan mendudukkanya di sampingnya.
"Mas Dimas gak perlu seperti ini, baik mas aku ikut." Ucap William.
Padahal hatinya tak akan sanggup untuk melihat Ajeng terpuruk seperti ini. Namun demi Ajeng, ia akan lakukan apapun.
____________
Dimas menunjuk dimana Ajeng sedang duduk menatap danau dengan tatapan kosong, ia biarkan rambut tergerainya tersapu angin, William yang melihat itu begitu teriris, Ajeng nya semakin kurus, wajahnya pucat, tatapannya kosong, ia menyadari begitu tidak bergunanya William.
William berjalan perlahan mendekati Ajeng dan memegang bahunya.
"Jeng," Lirih William, mendengar suara William, Ajeng mendongak.
William bersimpuh di hadapan Ajeng, membuka wajah Ajeng, Ajeng bergeming,seakan air matanya mengering, ia menatap nanar William.
"Maafin gue, Jeng."
"Lo jahat Will." Lirih Ajeng.
William menangis dipangkuan Ajeng, ia sangat terpukul, menangisi kebodohannya.
"Gue dateng, gue dateng Jeng."
"Terlambat Will, besok..."
"Ajeng, lo liat gue, sampai kapanpun, gue akan terus sayang sama lo, gue akan terus cinta sama lo, gue akan selalu disisi lo, gue bakal jagain lo."
Ajeng menarik tangannya dari genggaman William.
Ia kembali menatap danau.
"Bisa apa Wil, semua udah terjadi, lo, gak perjuangin gue Wil, lebih baik lo pulang Wil." Lirih Ajeng tanpa menatap William.
William berdiri berjalan perlahan meninggalkan Ajeng, namun tiba-tiba, BUKKkk! Langkah William terhenti, Ajeng memeluknya dari belakang, menumpahkan segala rasa sedih dan kecewanya, Ajeng menangis.
William membalikkan tubuhnya, mendekap erat tubuh Ajeng.
Sungguh dirinya sangat merindukan pelukan itu, William menghirup wangi rambut Ajeng.
Betapa terasa damai dan merindu, William dan Ajeng saling berpelukan erat, seakan enggan melepaskan, mereka menumpahkan kerinduan yang begitu dalam.
"Jeng, lo kurus, kita makan ya."
"Tapi gue laper,"
Ajeng mendongak,
"Lo laper? Yaudah ayok gue siapin makanan."
Ajeng tersenyum menarik tangan William masuk rumah.
Ajeng mengambilkan nasi beserta lauk untuk William, orang tua Ajeng hanya saling melempar pandang, putrinya kembali hidup, kembali tersenyum dan tatapanya kembali terisi.
Ajeng makan dengan lahap, sesekali Ajeng saling menyuapi.
Sungguh William maupun Ajeng saling merindukan satu sama lain.
Selesai makan, Ajeng dan William bersantai di belakang rumah, menikmati kebersamaan mereka, Ajeng duduk bersandar pada dada gudang William sambil William mengelus rambut Ajeng.
"Jeng,"
"Huh,"
"Istirahat ya,"
"Tapi gue masih pengen disini sama lo,"
"Jeng.... "
"Will, please, besok... " Ajeng kembali memeluk William, baginya esok akan menjadi hari paling menyakitkan dalam hidupnya.
"Besok gue bakal temenin lo, sekarang lo istirahat ya,"
"Gue gak mau."
"Nduk, Ajeng, cah ayu, sudah malam, nak William pasti juga lelah, istirahat ya nduk, nak William juga akan bermalam disini kok,"
Ucap Ibu Ningrum, William terkejut menatap ibu Ningrum yang hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Bener, Wil?"
"Emmm... Eee... I-iya Jeng, yaudah yuk gue anter ke kamar lo."
William menemani Ajeng sampai tertidur, setelah Ajeng tertidur William hendak pamit, namun orang tua Ajeng memintanya untuk bermalam.
William menatap langit dari balkon kamar tamu dirumah Ajeng. Langit malam yang penuh dengan kemerlap bintang yang bertaburan, sungguh indah, namun tidak bisa menggantikan kehancuran hati William saat ini.
Pikiran William kalut, William mengedarkan pandangannya, orang-orang dirumah itu tengah sibuk mempersiapkan acara untuk esok.
*Tok... tok... *
"Nak, ini ibu."
William yang mendengar suara bu Ningrum langsung membukakan pintu.
"boleh ibu masuk nak?"
"silahkan bu,"
bu Ningrum dan William duduk di sofa balkon.
"Nak, ibu minta maaf yo nak, ibu ndak bisa berbuat apa-apa nak,"
"bu, gak apa-apa, William ikhlas bu,"
"Tapi nak, ibu sama bapak merasa jadi orang tua yang kejam, memisahkan anaknya dari orang yang dicintainya."
melihat bu Ningrum yang mulai menitikan air mata, William bersimpuh memegang tangan ibu Ningrum.
"buk, William percaya pada takdir Allah bu, William ikhlas," ucap lembut William, bu Ningrum mengelus penuh kasih kepala William.
"Apa kamu kuat nak untuk besok, kalau ndak kuat ndak papa, kamu boleh pulang nak, biar nanti ibu yang kasih penjelasan sama Ajeng."
"gak apa-apa bu, William akan disini sampe Ajeng menikah besok,"
"tapi, hatimu nak,"
"ibu gak usah khawatir, saya sudah siap bu, dan sampai kapanpun, saya, William akan terus mencintai Ajeng bu, saya akan menjaga Ajeng bu."
ibu Ningrum semakin menangis, di peluknya William penuh kasih sayang,
"ibu yakin nak, kamu akan mendapatkan jodoh yang baik sama sepertimu."
"Aamiin bu."
Entah do'a bu Ningrum membuat hati William semakin terkoyak, semakin sakit, karena hanya Ajeng yang William inginkan.