
Surat perceraian sudah putus.
Semakin hari Ferland semakin gelisah, ia selalu memikirkan Ajeng, entah kenapa hatinya terus memikirkan Ajeng yang sama sekali tidak dicintainya, rasa bersalah semakin membuatnya frustasi, jiwanya semakin frustasi, ia menjadi lebih temperamen.
Ia mengerahkan seluruh orang-orangnya untuk mencari Ajeng.
Ajeng sudah selesai masa iddah, kehamilannya sini sudah menginjak 4bulan.
Ajeng bercermin dengan senyum mengembang sempurna, ia memakai kebayak indah dengan rambutnya yang ditata rapi sedemikian rupa, membuat wajah ayunya semakin terpancar.
William memeluk Ajeng dari belakang, Ajeng berbalik menatap William yang sudah tampan dengan jas hitamnya.
"Wil, gue bahagia banget, akhirnya... "
"Ssssttttt.... Ada kejutan lagi."
"Apa?" Ucap Ajeng dengan mata berbinar.
William menuntun Ajeng ke ruang utama, sudah datang kedua orangtua Ajeng juga mas Dimas beserta istri perjodohan mas Dimas.
Bu Ningrum memeluk Ajeng haru.
"Ndhuk, maafkan ibu...."
"Sudah buk, Ajeng juga minta maaf."
"Ndhuk, bapak minta maaf, maaf gara-gara bapak kamu menderita, nak William, terimakasih sudah menepati janjimu menjaga putri bapak."
"Sudah kewajiban saya pak." Ucap sopan William.
"Yaudah yuk itu, penghulu sudah nunggu." Ucap Dimas.
**
"Saaaahhh... Alhamdulillah... "
Ajeng dan William menikah secara siri, karena kondisi Ajeng yang tengah hamil, meski hanya dengan acara sederhana dan menikah dengan siri tak mengurangi kebahagiaan mereka, setidaknya pernikahan itu sah dimata agama, dan untuk status ayah dari anak yang Ajeng kandung. Tangis haru dari keluarga Ajeng saling berpelukan.
----
"Pak, bu, kenapa bapak tau kalau Ajeng...."
"Ndhuk, bapak sudah tau semuanya, maafkan bapak ndhuk,"
"Pak, Ajeng mohon, jangan kasih tau soal anak ini sama ibu Alina pak,"
"Iya ndhuk iya, kamu sekarang bisa tenang ndhuk sama nak suamimu, untuk orang-orang suruhan Ferland, sudah bapak bereskan."
"Terimakasih pak...." Ucap Ajeng haru memeluk bapak dan ibunya.
"Yowes, kami langsung pulang ndhuk, kalau butuh sesuatu telepon ibu ya."
"Nggih bu,"
"Nak William putra ibu, ibu titip Ajeng ya le, tolong jaga Ajeng dan kandungannya, ibu minta sayangi anak Ajeng seperti anakmu sendiri ya le, maafkan bapak dan ibu belum bisa kasih yang terbaik buat kamu le,"
"Ibu sama bapak sudah merestui William, itu sudah membuat William bahagia buk, pak, anak itu akan menjadi anak William pak, ibu sama bapak tenang saja."
______
Ajeng merebahkan diri disamping William, bersandar pada dada bidang William.
William mengelus perut Ajeng yang mulai membuncit.
"Wil, terimakasih udah nepatin janji lo, maafin gue udah menghianati lo."
"Ssstttt... Jangan dibahas okey,"
Ajeng cemberut, Ajeng menduduki perut William menatap tajam ke arah William yang masih santai dengan posisi setengah bersandar di ranjang.
Semakin panas semakin membuat nafas Ajeng dan William tersenggal, nafas William semakin memburu, ia menahan kepala Ajeng dan terus ******* bibir Ajeng dengan agresif.
William melepaskan ciumannya, saat ia merasakan sesuatu dibawahnya mengeras, ia menidurkan Ajeng dengan hati-hati. Menatap lekat wanitanya.
Ajeng mengatur nafasnya, menatap manik coklat itu dengan hangat.
"Apa tidak apa-apa?" Bisik William, Ajeng hanya mengangguk.
"Thanks, baby." Bisik William mesra.
William mencium kening Ajeng, dan ambruk di sebelah Ajeng.
Ajeng menyelimuti William yang sudah terlelap.
Ada perasaan sedih di benak Ajeng karena ayah bayi yang seharusnya memperhatikannya, kini malah orang lain yang memperdulikan bayinya.
Ajeng mencium kening William, terharu atas perjuangan William selama ini yang benar-benar mencintai dan menjaganya.
Ajeng memeluk William dan terlelap bersama William.
----
Ferland terjatuh sakit, ia terus memanggil-manggil nama Ajeng.
Keluarga sudah berupaya menghubungi keluarga Ajeng, namun ayah Ajeng tetap bungkam. Pak Subagyo sudah benar-benar sakit hati karena Ferland melakukan kekerasan kepada Ajeng.
William yang mendengar kabar bahwa Ferland sakit mengunjunginya di kediaman Ferland.
Ia membawa polisi untuk menjelaskan kasus Stevy yang memfitnah Ajeng.
Polisi menjelaskan bahwa sidik jari dipisau tersebut mutlak milik Stevy dan tidak ada sidik jari Ajeng.
William membuka kebenaran tentang Stevy, bukti-bukti kuat William berikan kepada Ferland. Foto-foto Stevy dengan Alexander membuat Ferland terbelalak melihat semuanya.
Alexander orang yang selalu ia kalahkan dalam akademi saat sekolah dulu.
Ternyata menaruh dendam pada Ferland sampai saat ini. Mencoba menghancurkan hidup dan menguras harta Ferland menggunakan Stevy.
"Baik, saya rasa sudah cukup, semua terserah padamu. Dan ya, satu lagi, jangan pernah kau mencari Ajeng, dia milikku sekarang." Ucap William.
Ferland geram, ia menemui Stevy dikamarnya dan menyeret Stevy ke luar rumah mengusirnya.
"Ferland aku mohon jangan usir aku." Ucap Stevy mengiba
"Cepat pergi. Dasar iblis!"
"Ferland, aku mohon.... " Stevy menangis memegang kaki Ferland, Ferland yang sudah di penuhi amarah dan kecewa mengibaskan kakinya hingga Stevy terjatuh.
"Pergi! atau ku jebloskan kau ke penjara!" ketus Ferland menutup gerbang meninggalkan Stevy yang masih menangis.
Begitu hancur hati Ferland, wanita yang begitu ia cintai telah berkhianat dan menghancurkan hidupnya juga hatinya.
Ferland menghancurkan segala benda yang ada didekatnya.
"aaaaaarrrrggghhhhh... br*ngsek kau Stevy!!!!" Jerit Ferland penuh amarah.
"Kau ingin menghancurkanku Alex? Lihatlah siapa yang akan hancur lebih dulu." Gumam William tersenyum sinis.
----
Hati Ferland hancur, ia benar-benar merasa bersalah pada Ajeng, apalagi mengetahui Ajeng sudah menikah dengan William.
Hatinya panas, matanya memerah, Ferland benar-benar menyesal atas perbuatannya.
"Aku akan terus mencarimu Ajeng, apapun akan aku lakukan agar kau memaafkanku." Gumam Ferland mengepalkan tangannya.