I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
Manis



"Reva lo gak papa kan, jangan terlalu dibawa hati kejadian tadi" ucap Feni sambil sesekali mengelus pundak Reva, sekarang mereka sudah berada di salah satu kamar mandi di Mall, Reva pun heran kenapa dia harus seperti ini, dia sadar bahwa tidak ada lagi hubungan yang terjalin antara dia dan Rey sekarang, jadi apa berhak dia untuk mengatur hidup Rey, lagian juga Reva sudah memiliki tunangan, dia dan Rey hanya sebatas partner kerja tak lebih, tapi percayalah jauh dilubuk hati nya perasaan yang sudah ditanam nya dalam dalam, kembali meronta untuk keluar dari tempat nya.


Bibir nya bisa berkata bahwa dia tidak mencintai Rey lagi, tapi hati nya tak bisa berbohong, dia pembohong yang sangat payah bukan, ketika dia mengetahui kebenaran dari Rey dia malah refleks menangis membuat seakan akan bahwa dia sengaja pulang untuk bertemu kembali dengan Rey, memang payah!!, urusan hati itu ternyata sangat rumit bukan?


"Gue gak papa Feni sebaiknya kamu jumpain mereka, gue mau buang air dulu" ucap Reva lalu tersenyum kepada nya kemudian pergi ke salah satu bilik kamar mandi untuk menuntaskan panggilan alam nya,Feni pun akhirnya menjumpai ke tiga lelaki yang sempat mereka tingalkan tadi.


"Kamu harus kuat Reva, dia bukan siapa siapa kamu lagi, jadi bersikap biasa saja" ucap nya meyakinkan diri di depan cermin kamar mandi lalu beranjak dari tempat itu,saat hendak menjumpai kembali teman teman nya dia melihat seseorang yang tidak asing, ah! Itu orang yang dilihat nya ketika teror itu datang padanya, dia masih mengetahui gestur tubuh seseorang itu namun sial nya dia sedang membelakangi Reva sekarang sehingga Reva tak dapat melihat pelaku nya.


Dia mengernyit kan dahi nya melihat pelaku nya sedang menatap ke arah teman teman nya yang sedang berada di kafe tempat dia dan teman teman nya tadi berbincang.


"Siapa penguntit itu dan siapa yang sedang di perhatikan nya"gumam Reva.


Reva pun memberanikan diri mendekati penguntit itu namun naas dia sedikit terhuyung akibat tak sengaja di dobrak oleh salah satu pengunjung yang berlalu lalang di sini dan penguntit itu pun sudah tidak ada lagi di tempat nya, sial! Dia tidak bisa menangkap penguntit itu batinya kesal.


"Hai, maaf ya gue lama, tadi gue cuman syok aja, maaf buat khawatir"sapa Reva dengan senyuman manisnya menghampiri teman teman nya.


"Saya mau pulang" sergah Rey lalu menarik tangan Reva mengikuti nya sedangkan yang ditarik hanya pasrah saja.


"Bagaimana pak, apa bapak sudah baikan dengan teman bapak ralat sahabat bapak maksud saya." tanya Reva membuka percakapan setelah beberapa mereka diam didalam mobil.


"Hmm" balas Rey acuh tanpa menoleh sedikit pun ke arah Reva.


"Ck,dasar batu es!"gumam Reva lalu mengalihkan pandanganya ke luar jendela.


"Karena kamu sudah membuat mood saya jelek hari ini, maka kamu harus menemani saya satu hari penuh untuk hari ini" ucap Rey masih setia dengan pandangan nya kedepan.


"Lah, kok saya sih pak, tadi kan niat saya baik mana saya tau kalau jadi nya begini" balas Reva cepat dengan pandangan yang sudah menghadap Rey tak lupa dengan matanya yang sudah membulat sempurna.


"Itu masalah kamu, kalau kamu berani berbuat harus berani bertanggung jawab" ucap Rey santai.


"Isss ni anak pms kali kesel gue nengok nya" gumam Reva geram.


"Kamu bicara sama saya?"ucap Rey mengalihkan pandangan nya ke Reva dengan satu alis yang sudah terangkat.


"Gak pak saya ngomong sama nyamuk dari tadi!"balas Reva sarkas sementara Rey yang melihat itu hanya tersenyum sangat tipis yang hanya bisa dilihat oleh nya sendiri dari mata nya terpancar suatu penyesalan akan hal yang dilakukan nya dulu.


"Kalau begitu sekarang kamu temanin saya nonton bioskop!" ucap Rey kembali menatap jalanan yang berada di depan nya.


"Iiii pak bapak lucu deh, pengen banget... "ucap Rey dengan tersenyum ke arah Rey sengaja memotong ucapan nya.


"Banget?"


"Saya bunuh pak!" balas Reva geram.


"Oh kamu berani bunuh saya?, sorry sorry aja ya nanti kalau saya mati stock orang ganteng berkurang"balas Rey santai.


"Semerdeka bapak aja!" ucap Reva memutar kedua bola matanya.


"Gini ya pak, saya itu kan cuman satu bulan di sini masa iya saya gak bisa jalan jalan Pak " ucap Reva lagi mencoba bernegosisasi.


"Ini kita lagi jalan jalan"


"Ya bukan gitu maksud saya pak, saya mau nya sama teman teman saya trus sama orang tua saya" ucap Reva mencoba menjelaskan.


"Sehari sama saya gak bikin kamu langsung mati kan" balas Rey santai.


"Tapi kan-cerewet!" potong Rey.


Reva hanya bisa mendengus dan mengercutkan bibir nya pertanda kesal akan makhluk di samping nya itu.


"Kamu lagi ngode saya supaya cium kamu?" tanya Rey mengalihkan pandangan nya ke Reva.


"Itu bibir kamu kenapa dimajuin, mau saya cium" tanya Rey lagi.


Mata Reva langsung membulat sempurna" ngak pak!! Makasih!" balas Reva sarkas dan disambut kekehan pelan dari Rey sedangkan Reva sudah menahan geram plus malu memilih untuk mengalihkan pandangan nya ke luar jendela.


"Saya becanda gak usah dibawa hati, tapi kalau mau juga saya bakalan tanggung jawab kok" balas Rey lalu mengacak rambut Reva gemas.


"Nyaman, perasaan nyaman itu kembali muncul lagi"


**Jadi gini deh Author mau nanya readers mau cerita ini dilanjut atau ngak, soalnya Author sedih liat views nya sekarang makin lama makin turun😧 , bagaimana mana Author mau semangat kalau keadaan nya seperti ini ;(


Kalau kalian mau cerita ini tetap berlanjut atau ngak komen aja ya, nanti Author voting kalau banyak yang minta dilanjut bakalan Author lanjut ;) tapi kalau banyak yang minta berhenti yah bagaimana lagi say goodbye sama cerita ini 😫😫😟**