I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
episode 27



Ajeng histeris dirinya hanya mampu menangis, mengingat semuanya, ia sudah tak mampu melawan, teganya habis.


Sorot lampu mobil dari kejauhan yang lama-lama melaju membabi buta ke arah Ajeng dan pemuda-pemuda itu, Ajeng menutup wajahnya dengan tangan yang ia gunakan untuk memegang lukanya. Setelah ini apa ia akan mati dengan tertabrak mobil, pikirannya menerawang tak jelas.


"Aaarrrghh," Teriakan salah satu pemuda.


*Bukk... *Bukk... *Bukk...


Ajeng limbung saat tangannya ditarik seseorang.


"Lepassss.... " Jerit Ajeng.


"Ini aku,"


Ajeng mendongak, menatap pria yang sangat ia kenal, Ferland suaminya, Ajeng menoleh ke belakang, mencari pemuda-pemuda itu, namun tak ada kecuali satu pemuda yang masih tergeletak di aspal setelah tertabrak mobil Ferland.


Ajeng memeluk Ferland, menangis dan membenamkan wajahnya di dada Ferland.


Ferland yang melihat luka Ajeng mengurai pelukannya dan membawa Ajeng ke rumah sakit.


Ajeng mendapatkan jahitan yang cukup banyak karena lukanya.


"Maafkan aku tidak datang tepat waktu,"


"Tak apa, bukan salahmu, emm jangan beri tahun ibu, nanti liburannya terganggu."


"Aku sudah memberitahu ibu, agar liburannya pindah ke luar negeri, agar semakin lama."


"Huh." Ajeng menghela nafas berat, setidaknya malam ini biasanya selamat, tidak tau jika Ferland tidak bisa dibayangkan jika Ferland tidak datang malam itu.


Ferland berdiri dekat jendela, memandang pemandangan malam ibu kota yang penuh dengan kemerlip lampu kota.


"Terimakasih." Lirih Ajeng.


"Apa?"


"Terimakasih!" Ucap Ajeng sedikit meninggikan suaranya.


"Kau tahu berterimakasih juga rupanya."


"Pulanglah, aku ingin tidur." Ketus Ajeng.


Ferland menyembunyikan senyumnya, ia berjalan ke ranjang Ajeng dan duduk di atas ranjang Ajeng.


"Berterimakasihlah dengan benar."


"Maksudmu?"


Ferland menunjuk bibirnya, kemudian menunjuk bibir Ajeng, mata Ajeng menyipit, menatap tajam Ferland yang memasang muka polos.


"Tidak mau? Yasudah anggap ini hutang."


"Aku tidak ingin berhutang apapun padamu." Ketus Ajeng.


"Baik, kalau begitu, lakukanlah." Ucap Ferland mendekatkan wajahnya tepat di depan Ajeng membuat Ajeng sedikit memundurkan wajahnya.


Ajeng memejamkan matanya melihat Ferland yang semakin mendekat, nafas Ferland bisa Ajeng rasakan di wajahnya dada Ajeng semakin berdegup kencang, Ajeng masih memejamkan matanya.


*Cuppp* Ferland mengecup hidung Ajeng.


"Tidurlah, aku tidak akan menagih hutang ku sekarang." Ucap Ferland, Ajeng membuka matanya, memandang Ferland yang sudah akan keluar dari kamar rumah sakit.


"Huh" Ajeng menghela nafas.


"Tapi ingat, hutangmu berbunga setiap harinya."


"Dasar lintah darat!" Gerutu Ajeng, Ferland tersenyum melihat wajah Ajeng.


****


Ferland terbangun, mendengar suara tangisan, dilihatnya Ajeng tertidur sambil menangis menyebut-nyebut nama dirinya.


"Pasti bermimpi kejadian semalam, akh, maafkan aku Ajeng." Gumam Ferland.


"Jeng, hey bangun," Ferland menepuk pipi Ajeng. Ajeng semakin terisak namun tidak bisa dibangungkan.Ferland mencium bibir Ajeng agar berhenti menangis, tiba-tiba Ajeng membuka matanya, dilihatnya Ferland sedang menciumnya.


Ajeng mendorong Ferland, Ferland tertegun.


"Tak punya adab!" Hardik Ajeng.


"Hey, aku hanya menuruti permintaanmu,"


Ajeng melotot.


"Kau menangis meminta aku menciummu, lihat air matamu masih ada, aku tidak bohong."


Ajeng meraba wajahnya memang benar ia habis menangis.


"Benarkan, kau menangis memohon memintaku menciummu."


"Bisa tidak kau waras sedikit,"


"Dasar malu-malu kucing, kalau kau masih mau menciumku, ini aku bersedia." Ferland menyodorkan wajahnya tepat fit depan wajah Ajeng, Ajeng membingkai wajah Ferland, ditatapnya lembut dan Ajeng mendekatkan wajahnya, sedikit memiringkan kepalanya, Ferland menatap Ajeng gugup menelan ludahnya.


Semakin dekat hingga keduanya bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.


"Kau bau," Ketus Ajeng saat sudah dekat dengan bibir Ferland.


Ferland terhenyak, ia merasa panas diwajahnya dan langsung memundurkan wajahnya duduk tegak.


Ajeng mengulum senyum melihat Ferland yang salah tingkah.


"Makanlah, aku pergi dulu." Ucap Ferland, menyiapkan makanan menggunakan meja kecil dihadapan Ajeng.


Ferland melangkah pergi, Ajeng mencoba memegang sendok namun tangannya masih ngilu akibat sabitan parang pada lengan atas Ajeng (lengan kanan).


Mau tidak mau Ajeng menggunakan tangan kirinya untuk makan, walaupun kesusahan ia tidak bisa membiarkan perutnya keroncongan.


Ferland kembali dengan menenteng pelastik putih berisi buah-buahan.


"Apa pria-pria itu memukul kepalamu sampai kau tak ingat tangan untuk makan?"


"Berisik." Gumam Ajeng,


Ferland meletakkan buah di meja, dan merebut sendok dari Ajeng, Ferland menyuapkan makanan untuk Ajeng.


Ajeng memandang Ferland serius.


"Serius?"


"Cepat atau aku berubah pikiran."


Akhirnya Ajeng menerima suapan dari Ferland sampai habis. Ferland mengupas kan mangga dan beberapa buah untuk Ajeng.


"Kau tidak kerja?" Lirih Ajeng


"Aku bosnya, sesuka hatiku berangkat atau tidak."


"Kapan aku bisa pulang?"


"Kalau lukamu sudah sembuh."


"Terlalu lama, aku ingin pulang sekarang."


Runtuh Ajeng.


"Oiya, bagaimana keadaan pemuda yang kau tabrak?"


"Dia mati."


"Lalu? Kau kenapa tidak di penjara? Apa polisi tau?"


"Kau ingin aku dipenjara?"


Ucap Ferland sambil menyodorkan buah yang sudah ia kupas dan potong-potong kepada Ajeng dan duduk disamping ranjang Ajeng.


"Bukan begitu, tapi kau sudah membunuh orang."


"Dia bukan manusia." Singkat Ferland ketus.


"Ada hukum."


"Kalau begitu itu hukuman yang pantas untuk mereka,"


"Mereka?"


"Ya, nyatanya polisi terlalu lama mencari mereka. Jadi aku suruh orang-orangku mencari tiga yang kabur dan mematahkan tulang-tulangnya." Ucap Ferland menunjukkan foto para pelaku yang sudah terkapar dengan tangan yang patah.


*glekkk* Ajeng menelan ludah.


"Kau, psikopat," Ketus Ajeng memandang Ferland takut.


"Aku akan membunuh siapapun yang berani menyakiti wanitaku." Ucap Ferland serius memandang Ajeng dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


*Kenapa ini, kenapa Ferland jadi begini, apa dia benar-benar psikopat, apa ini gara-gara pesan William buat dia ngejaga gue* ucap Ajeng dalam hati.


*****


"Ibu harap, dengan berlibur nya ibuk membawa anak-anak, kalian bisa menumbuhkan rasa saling cinta nak, ibu berharap kalian bisa bersatu bahagia" Gumam ibu Alina memandang foto pernikahan Ferland dan Ajeng.


"Semoga usaha kita berhasil ya kak." Ngucap pak Subagyo ayah Ajeng.


Ibu Alina berlibur di rumah adik angkatnya yang sekaligus besannya, ia tidak menuruti perintah Ferland untuk pergi ke luar negri.


Paling tidak membiarkan Ajeng dan Ferland berdua bisa menumbuhkan rasa cinta Ajeng kepada Ferland, begitu harapan bu Alina.


*******


"Ferland.... "


"Hmmmm..."


"A-aku,"


"Apa?"


"Aku ingin pulang." Ucap Ajeng ragu-ragu.


"Dirumah tak ada yang menjagamu, lebih baik disini."


"Bukankah kau akan menjagaku?"


"Jika aku ke kantor?"


"Ikut."


Ferland menghela nafas, ia tak tega memandang wajah Ajeng yang sendu. Ia tak kuasa menolak apapun permintaan Ajeng sekalipun permintaanya membuatnya kesal. Demi janjinya pada mendiang suami Ajeng juga rasa bersalahnya dimasa lalunya.


Baiklah aku akan bicara pada dokter.


🌺🌺🌺🌺


"Ingat, jangan lakukan hal bodoh apapun, istirahatlah, setiap hari akan ada perawat yang menemanimu."


Ajeng hanya mengangguk, sebenarnya ia tak begitu pedulikan ucapan Ferland, ia hanya rindu berendam dan tidur di kasur empuknya.


"Fer,... "


"Apa?"


"Aku ingin nasi padang."


"Huh, tunggu sebentar."


Ferland menyuruh supirnya untuk membelikan permintaan Ajeng. Tak lama menunggu, sang supir sudah membawakan dua bungkus nasi padang komplit dengan lauknya.


Ferland membuka sebungkus nasi untuk Ajeng. dan mengambil sendok untuk menyuapi nya.


"Aku tidak ingin pakai sendok."


"Hah? Lalu?"


"Pakai tanganmu, makan nasi padang tidak nikmat pakai sendok,"


Ferland memandang nasi yang sudah tercampur dengan kuah-kuah sayur dan rendang juga kikil itu.


"Kenapa? Kau jijik? Yasudah sini biar aku makan pakai tangan kiri."


Ferland menarik kembali nasi yang sudah Ajeng tarik.


Ferland pun mencuci tangannya dan menyuapi Ajeng menggunakan tangannya.