
Pagi yang indah serta hari indah namun tidak untuk hati yang mendung.
聽
馃挄 Author 馃挄
聽
Hari ini Reva belum pergi mengurus negosiasi nya dengan Rey dia masih merasa was was akan apa yang dilakukan oleh si peneror itu sehingga jadi lah dia sekarang hanya berada di rumah tepat nya dikamar miliknya, dia juga sudah menyewa bodyguard selama beberapa hari menjaga rumah nya, tak lupa dia juga selalu mengawasi sang ayah takut takut ayah juga terkena imbas nya.
Sayonara I Love you... 馃幎
Suara nada dering pertanda adanya panggilan masuk dari ponsel Reva membuat sang pemilik ponsel itu mengambil ponsel nya yang berada di atas nakas.
Reva baru saja selesai mandi dan berniat ingin menyisir rambut nya namun niat nya terhenti karena bunyi deringan ponsel nya.
William
Melihat nama pemanggil dari ponsel itu membuat Reva mengulum senyum nya, ah dia belum pernah bercerita ya, bahwa dia dan William dulu berjumpa tidak seperti remaja kebanyakan namun mereka berjumpa dengan pengibaran bendera permusuhan, bagai mana tidak William senang sekali mengangu nya bahkan tak jarang dia selalu melempar kan bola basket pada saat dia bertanding di lapangan ke kepala Reva ya,walaupun tidak terlalu sakit hingga membuat Reva pingsan, namun dia sangat kesal akan tingkah William itu. Bahkan tak jarang mereka sering kejar kejaran di lapangan kampus karena William yang selalu menjaili nya, sehingga mengundang tatapan dari para mahasiswi dan mahasiswa.
"Halo tuan William bagaimana pekerjaan mu disana, apakah kau merasa senang jika aku tak berada di sana bukan kah kau sering memperhatikan sekretaris mu yang memiliki badan bak gitar spanyol itu" tanya Reva dengan nada kesal namun percayalah Reva tidak terlalu cemburu perasaan dia terhadap William emm hanya sebatas... Saudara mungkin?
"Oh jadi kau cemburu princes, kan sudah ku katakan pada mu bahwa kau harus banyak makan agar badan mu tak kurus seperti ranting pohon begitu, apa kata orang melihat tunangan seorang CEO kurus kering begitu" balas William dan terdengar suara kekehan dari sebrang sana. Sementara Reva menggeram melihat sifat jail wiliman kembali lagi.
"Isss, kalau kau menelepon hanya untuk mengejek ku, lebih baik aku akan mematikan nya saja" kesal Reva hendak mematikan panggilan nya namun segera ditahan oleh suara William.
"Eh, jangan dong! Iya maap sih, ah aku jadi pengen liat wajah kamu yang merah padam sekarang pasti sangat asik sekali" balas William sambil terkekeh di sebeang sana.
"..... "
" oo-o-oke maaf kalau aku becanda terus, aku cuman mau bilang rindu sama kamu emang ngak boleh" tanya William setelah mendengar Reva tidak menyahut sedari tadi.
"Hmmm" balas Reva acuh, dia pun berjalan ke arah nakas mengambil segelas air sambil mendengar celotehan.
"Ayolah aku minta maaf, aku ada kabar gembira untuk mu, setelah aku selesai kan beberapa masalah di sini aku akan menyusul kamu ke sana, bagaimana bagus kan" tanya wiliman dengan nada girang.
Byurrrr
Reva memuncratkan air yang sempat diminum nya tadi mendengar penuturan William mendadak dia menegang.
Bagaimana tidak dia masih bimbang akan perasaan nya dan kini wiliman ingin menghampiri nya ke sini, ah yang benar saja! Dia akan semakin pusing nanti nya.
"Reva, kau masih di sana?" tanya wiliman merasa tak ada jawaban dari Reva.
"Ah, i-i-iya aku senang kok kamu datang ke sini" balas Reva dengan kegugupan yang menimpa nya sekarang bukan nya dia tidak senang William datang ke mari namun dia sekuat mungkin menjaga perasaan William, dia tau saat dia berjumpa dengan Rey pasti akan ada hal yang ganjil terjadi pada nya misalnya menatap Rey terus menerus mungkin. Dan dia tidak mau membuat William terluka, selama ini juga dia tidak memakai cincin tunangan mereka karena dia terlalu risi memakainya dan tak jarang juga dia kelupaan.
"OK baiklah, kalau begitu aku mau Meeting dulu ya, kamu jangan lupa sarapan ya, bye"ucap William.
"Baiklah, kamu juga jangan lupa istriahatkan jangan kerja mulu" peringat Reva dan terdengar kekehan dari sebrang sana setelah merasa tidak ada yang dibicarakan Reva pun mematikan panggilan nya.
"Iya bu!" balas Reva dan hendak menuju meja rias sekedar menyisir rambut nya namun lagi lagi langkah nya terhenti ketika mendengar notifikasi dari ponsel miliknya dia terpaksa kembali berbalik mengambil ponsel yang diletakkan nya di nakas tadi lalu membawa nya ke meja rias.
"Rey" gumam Reva mengernyitkan dahi nya melihat si pengirim pesan tak lain adalah Rey.
Dia pun segera membuka notifikasi tersebut.
Rey
Tdk dtng?
Reva mengeryit bingung apa maksud pesan nya ini, apakah papan keyboard di ponsel Rey tiba tiba hilang dia merutuk geram.
Reva
Maksud bapak apa?
Rey
Ke tmpt sy
Reva semakin mengeryit tak lama kemudian akhirnya dia paham maksud Rey dia pun hanya mendengus kesal lalu membalas pesan Rey.
Reva
Maaf pak kali ini saya tidak bisa hadir ke perusahaan bapak, karena saya memiliki urusan pribadi yang harus saya lakukan pak, saya mohon maaf pak.
Rey
Oh.
WHAT THE....!! Reva mengumpat dalam hati dia menyumpah serapah kan Rey bagaimana mungkin pria itu terkadang manis terkadang dingin seperti es apa dia memiliki kepribadian ganda!! Reva tak habis pikir. Daripada dia semakin kesal karena Rey dia pun akhirnya menyelesaikan aktifitas nya lalu menuju ke bawah dua yakin pasti orang tua nya sudah lama menunggu, dia juga tak habis pikir bakalan di ganggu oleh dua makhluk bertolak belakang itu sepagi ini, satu si periang dan satu lagi si batu es!!
鉁达笍鉁达笍鉁达笍鉁达笍鉁达笍
Setelah dia selesai sarapan dia pun kembali bergegas ke kamar tak lupa juga dia tadi membantu ibu nya mencuci piring. Dia mengecek apakah ada notifikasi penting dari polisi, dia memang meminta bantuan polisi untuk melacak nomor ponsel si peneror itu dia tak ingin Morgan mengetahui ini, dia tak ingin merepotkan sahabat sahabat nya itu cukup Feni saja yang jadi korban akibat urusan pribadi nya, dia tak ingin yang lain terlibat.
Reva tidak sanggup menyewa mata mata seperti kebanyakan orang, bagaimana pun dia berasal dari keluarga sederhana dan penghasilan nya pun tidak seberapa, dan pilihan satu satu nya pun jatuh ke pada polisi.
Drrrt
Mendengar notifikasi masuk ke dalam ponsel miliknya dia segera mengambil ponsel nya dan mengambil posisi duduk di ranjang nya karena sebelum nya dia posisi tertidur.
Feni
Reva kemari!! Sekarang!!
Melihat pesan itu, jantung Reva seakan berdetak kencang, dia takut terjadi apa apa pada Feni, karena bagaimana pun ini semua terjadi karena Feni adalah sahabatnya. Tanpa pikir panjang dia pun menganti pakaian nya lalu meraih tas sling bag nya lalu berlari keluar rumah meninggalkan rumah.