
Setelah selesai Ajeng kembali ke atas, ia melihat bu Alina sedang menggeret-geret koper dengan kedua babysitternya.
"Bu, mau kemana?"
"Ibu mau liburan ndhuk, bareng Zahra sama Devian, ya sayang ya."
"Iya mam, libulan ke lumah eyang, yeaaayyy." Celetuk Zahra.
"Ajeng gimana?"
"Ah kamu gak usah ikut ya, suamimu juga ndak ikut soalnya. Tenang, ibuk bawa mbak Nita sama mbak Mia kok."
"Kok mendadak banget bu,"
"Cuma sebentar ya sayang ya,"
"Iya udah deh, hati-hati, Zahra sama Devian gak boleh nakal yaa... "
"Ciap mam..."
Ajeng mengantar sampai ke pintu gerbang, melambaikan tangan sampai mobil bu Alina tidak terlihat, Ajeng beranjak masuk, dilihatnya Ferland sudah rapi hendak masuk mobil.
"Eh, mau berangkat?"
Ucap Ajeng, Ferland hanya menaikkan satu alinya.
"Ikut"
Ferland memandang Ajeng.
"Asal kau ganti pakaianmu layaknya istri seorang bos."
"Tidak, kau saja yang ganti baju."
"Ikut atau tinggal."
"Ayolaaah suamiku yang tampan, jangan sia-siakan ketampananmu, tidakkah kau cemburu kalau aku dilirik karyawanmu yang muda-muda itu." Ucap Ajeng lembut menggoda Ferland, dan menarik Ferland masuk rumah menuju kamar.
Ajeng memilihkan pakaian untuk Ferland, dan menata rambut Ferland.
Ajengpun sudah rapi dengan setelan dressnya dan mengikat tinggi (kuncir kuda) rambutnya.
Ajeng tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Ferland hanya cemberut tak bisa menolak permintaan Ajeng.
Sesampainya di kantor semua karyawan menunduk dan saling melirik satu sama lain, karwayatipun melirik mengulum senyum dan terpesona melihat penampilan Ferland yang berubah lebih muda. Ketampanannya sungguh terpancar sehingga siapapun yang memandang Ferland akan terpesona.
Ajeng duduk di hadapan meja Ferland, Ferland mulai sibuk memeriksa setumpuk berkas yang sudah menunggunya.
"Aku bilang juga apa, semua wanita memandangmu takjub kan."
"Lalu? Kau senang?"
Ajeng mengangguk sambil memakan apel yang sudah disiapkan setiap hari dimeja Ferland.
"Dasar bocah!"
"Dengan begitu aku masih terlihat cantik dan muda." Gumam Ajeng terkekeh, Ferland melirik Ajeng.
"Ingat anakmu sudah dua."
"Biar saja, tak ada yang mengira, sekalipun mereka melihat anak-anakku, mereka akan takjub dan berkata, Wahh awet muda, pintar merawat diri, cantik sekali." Ucap Ajeng bangga.
"Lalu? Bagaimana kalau mereka melihatku berjalan bersamamu?"
"Mereka akan mengira kau pamanku."
"Dasar sableng!" Ketus Ferland.
"Hey, itu kata-kataku, jangan copy paste, kau kena denda, serahkan ATMmu."
"Hah?"
"Sudah jangan melotot, kau tak pandai melotot, sini serahkan ATMmu."
"Kau,"
"Cepat, cepat, mana."
Ajeng menadahkan tangannya, mau tidak mau Ferland mengambil ATM dari dompetnya dan menyerahkan kepada Ajeng degan geram.
"Pinnya, berapa pinnya?"
"Tanggal lahirku."
"Hey, mana ku tahu tanggal lahirmu, memangnya manusia salju sepertimu dilahirkan hah?"
"Dasar payah, b*doh." Gumam Ajeng pergi.
"Mau kemana?"
"Buat apa aku minta ATM kalau tak digunakan," Ketus Ajeng pergi dari ruangan Ferland.
"Apa yang bisa membuatmu bertahan dengan wanita seperti itu Wil." Gumam Ferland tersenyum-senyum sendiri.
Ajeng melajukan mobil Ferland yang kuncinya sudah dia ambil diam-diam saat dimeja Ferland.
***
Ajeng bersimpuh sambil menyekar bunga di gundukan tanah yang sangat ia rindukan, Ajeng menyeka air matanya, sebuah kerinduan yang sangat dalam, cinta yang masih sangat utuh kepada mendiang suaminya.
"Wil, semua permintaanmu udah aku turutin, semoga bahagia disana, Wil, kau pantas dapat surga Wil." Gumam Ajeng dalam isak tangis rindunya.
******
Ponsel Ajeng berdering, ia menghentikan makan dan mengangkat telpon dari Ferland.
"Kau bawa mobilku?" Ucap Ferland.
"Iya,"
"Kenapa, gak bilang?"
"Apa ada aturannya?" Ketus Ajeng.
"Aku butuh mobil itu, ada meeting diluar."
"Kau pakai taxi online saja, atau pinjam mobil rekanmu, atau kau pakai mobil yang satunya, atau..... "
"Ajeng!" Ketus Ferland.
"Kau berbohong, kau bilang akan melakukan apapun untuk membahagiakanku," Ucap Ajeng lesu, "baik, aku ke kantormu sekarang."
"Ti-tidak jadi, tidak usah, bersenang-senanglah, habiskan uangku, kalau perlu belilah mobil baru, kirim tagihan ke kantor, have fun sayang," Ucap Ferland mematikan telponnya. Sejujurnya Ferland geram dan gemas dengan tingkah Ajeng yang seenaknya.
Namun hatinya tak mampu untuk melihat Ajeng bersedih apalagi sampai terputuk lagi seperti sebelumnya, Ferland mengalah dan menghubungi supirnya untuk menjemputnya.
****
Mobil Ferland mogok saat Ajeng melaju pulang, hari yang sudah larut membuat jalan itu mulai sepi.
"Yah, gimana nih, masa harus telpon Ferland, Ferland juga gak nyariin apa dia masih sibuk ya."
Saat Ajeng masih di dalam mobil, terlihat ada pemuda bermotor melintas ke arahnya, ingin Ajeng meminta bantuan namun ia urungkan saat semakin dekat Ajeng melihat 4 pemuda yang berboncengan dengan dua motor membawa parang-parang panjang dan terlihat begitu tajam.
Ajeng menelan ludahnya, ia mencoba menghubungi Ferland namun tak ada jawaban, Ajeng mengirim lokasi saat ini dia berada, berharap Ferland membuka ponselnya dan menyusulnya.
[Tolong aku] isi pesan singkat Ajeng disertai lokasi kini ia berada.
Pemuda-pemuda itu mengetuk kaca mobil, Ajeng bergeming sambil memegang ponsel.
"Ayo dong Ferland, buka hapemu, masa iya gue harus lawan mereka, gak lucu pake rok begini." Gumam Ajeng.
Tiba-tiba... *PRAAAANKKK* pemuda itu memecahkan kaca mobil Ajeng.
"Keluar!" Bentaknya.
Ajeng memfoto kaca mobil yang pecah dan mengirimkan kepada Ferland.
Ajeng dengan ragu keluar, empat pemuda itu langsung membuat lingkaran menghubungi Ajeng.
"Duh, masih kebal gak ya gue, tu golok tajem bener romannya." Ucap Ajeng dalam hati.
"Mau apa lo," Ucap Ajeng gugup.
"Cantik-cantik kok sendirian, kita temenin ya." Ucap salah satu pemuda mencoba menyentuh dagu Ajeng, tapi Ajeng berhasil menghindar.
"Lo mau duit? Berapa? Mau mobil? Ambil gih."
"Wah wahhh, orang kaya emang suka buang duit ya, tapi kita juga mau kamu cantik."
Ajeng menelan ludah, salah satu pria memegang tangannya, mau tidak mau Ajeng melawan, mengeluarkan jurus-jurus sabuk hitam yang pernah ia pelajari, pemuda-pemuda itu mundur beberapa langkah terkejut dengan perlawanan Ajeng yang sudah mumpuni, merasa terancam pemuda-pemuda itu tak mau kalah dan terus menyerang Ajeng, sampai salah satu pemuda menyakitkan parangnya mengenai lengan atas Ajeng.
"Aarrghh." Ajeng mundur beberapa langkah, memegang lengannya yang bercucuran darah. Ingin ia teriak namun percuma, jalan itu begitu sepi. Ajeng mencoba berlari, tak ia pedulikan rasa ngilu di lengannya, namun pemuda-pemuda itu masih terus mengejarnya sambil tertawa-tawa, sampai salah satu pemuda itu berhasil mencengkram tangannya.
"Aaaaaaaa.... lepasiiinnn " Teriak Ajeng.
"mau kemana cantikk, tuh kan jadi merah tubuh putihmu." gada salah satu pemuda sambil menyilet lengan Ajeng, Ajeng meringis menahan sakit, siletan itu mengalirkan darah lagi, dibawah luka Ajeng yang baru terkena parang.
Ajeng menangis, tiba-tiba bayangan kedua buah hatinya memutar di otaknya, ia belum siap jika harus meninggalkan kedua buah hatinya dengan cara seperti ini.