
Reva memutuskan untuk pergi menenangkan diri di kafe pelangi, dia memesan minuman kesukaan nya. Reva memilih duduk di dekat kaca besar yang mengarah langsung kepada sisi jalan.
Dia duduk sambil mengaduk aduk minuman nya tak berniat untuk meminum nya, dengan pandangan yang tak lepas dari kaca besar itu.
Reva masih berusaha mencerna masalah yang datang kali ini, bahkan pelaku kejadian ini juga tidak ditemukan, seolah olah hilang di telan bumi.
Drttt
Ponsel Reva yang berbunyi membuyarkan dia dari lamunan nya, dia melirik ke arah ponsel yang berada di depan nya dengan tak minat, mood nya sedang tidak baik sekarang mengingat ibu nya masih koma, sedangkan Ayahnya menjaga ibu nya, awalnya Reva meminta izin untuk mengambil beberapa pakaian yang akan dipakai ibu nya selama di rumah sakit, namun di perjalanan dia merasa butuh menenangkan diri nya.
"Hallo ada apa will?"tanya Reva tak berminat, jujur saja kalau saja si penelpon tidak penting dia tak akan mengangkat telfon tersebut, namun jika dia tidak mengangkat telfon William dia takut pria itu akan khawatir padanya.
"Hai Reva, kamu baik baik aja kan di sana" balas William dari sebrang sana dengan nada bicara yang terlihat senang.
"Hmmm" balas Reva hanya bergumam, kemudian dia mengambil minuman nya dan menyesap nya.
"Aku bawa kabar baik untukmu, aku sekarang sudah di bandara Seokarno - Hatta, kau bisa menjemput ku"
Byurrrr
Reva menyemburkan minuman yang diminum nya tadi, dia masih syok, kenapa William tiba tiba sudah ada di bandara.
"A-a-apa kamu sekarang di Indonesia?" tanya Reva masih syok.
"Iya, kenapa, kamu tidak senang ya?" tanya wiliman dari sebrang sana, tersirat nada kecewa di kalimat terakhir nya.
"B-b-bukan begitu, hanya saja kenapa kau tak memberi tahu ku agar aku bisa menjemput mu lebih awal." alibi Reva, bukan itu yang di khawatir kan nya, namun dia khawatir akan hati nya. Dia tau dia bo*oh tidak bisa memiliki pendirian yang tetap, dia tidak bisa melukai salah satu dari hati mereka, terlalu berat bagi nya.
"Tidak papa, jika kau tak bisa menjemput ku, bisakah kau mengirim alamat rumah mu, aku akan kesana" balas William.
"Tidak, aku akan menjemput mu" ucap Reva.
"Kau yakin, apa aku tidak mengangu pekerjaan mu?"tanya wiliman dengan nada khawatir.
"Aku tidak bekerja hari ini" balas Reva mendengar penuturan William.
"Kenapa---
"Sudahlah, kenapa kau bawel sekali, sekarang" sergah Reva, memotong pembicaraan William, sambil berusaha mengulum senyuman nya.
Terdengar William yang berdecak kesal di sebrang sana membuat Reva tak bisa menahan senyuman nya. William bagaikan orang yang penting di hidup nya, namun bagaimana pun tidak ada yang bisa menggantikan posisi Rey di hati nya, dia hanya menganggap William... Sahabat mungkin?
"Benarkah, lanjutkan saja, jika aku sampai ke sana, aku akan membawa mu ke dokter mata, dan mengatakan kepada dokter nya bahwa mata mu sudah terlalu banyak debu, dan perlu dibersihkan dengan detergent" balas Reva tertawa pongah.
"Ck, kau itu memang tidak bisa dilawan ya"ucap William berdecak sebal.
Reva terkekeh pelan, karena berhasil membuat William kesal. "Baiklah, aku akan ke sana bye" ucap Reva lalu mematikan panggilan nya.
Senyum Reva tak kalah luntur ketika mengingat William yang kesal karena nya, serta bayangan William dengan wajah di tekuk membuat senyuman Reva kian mengembang.
Namun itu tak bertahan lama ketika mata nya melihat dua orang berada di luar kafe sedang tertawa bahagia, bahkan mereka terlihat sangat dekat.
"Bodoh, ngapain juga aku harus cemburu, bukanya aku yang memilih pergi dari kehidupan nya " batin Reva tertawa hambar melihat pemandangan di depan nya.
" Seperti nya melepaskan nya adalah pilihan terbaik, untuk ku maupun dia" batin Reva, dia merasa sakit sangat sakit tapi bagaimana pun Rey berhak bahagia dan dia tidak bisa memaksakan kehendak nya, lagi pun dia juga sudah memiliki tunangan bukan? Akan lebih baik jika dia berjalan di tempat seharusnya, bukan malah berusaha melawan arus dan berakhir dengan tanpa ada hasil apapun.
Reva pun memilih beranjak dari sana, berusaha tidak melihat pemandangan yang menyakitkan kan hatinya.Dia memilih masuk ke sebuah taksi yang diberhentikan nya, lalu memasang heeandset di telinga nya dan menyalakan sebuah musik penyanyi fiersa besari yang berjudul "Waktu yang salah".
✴️✴️✴️✴️✴️
Reva sampai di Airport Seokarno-Hatta dia celingak celinguk mencari keberadaan wiliman, lalu tak lama kemudian seorang pria melambaikan tangan kepada nya. Ya! Itu William, William menghampiri Reva lalu memeluk erat Reva membuat yang dipeluk pun merasa sesak.
"Hei, sudah lepas kan, kau mau membunuh ku ya" ucap Reva berusaha melepaskan pelukan wiliman.
"Sorry, aku kangen banget sama kamu soalnya" balas wiliman bersamaan dengan pelukan nya yang sudah di lepas nya.
Reva hanya tersenyum mendengar penuturan William lalu mengajak William untuk pergi.
"Ah, aku lupa aku tidak membawa mobil, bagaimana ini"ucap Reva setelah menyadari bahwa dia tidak membawa kendaraan.
"Aku tau kau akan ceroboh seperti ini, aku sudah menyiapkan mobil nya, kamu tenang saja" balas wiliman sambil mengacak rambut Reva gemas.
"Kalau begitu, kenapa harus menyuruh ku menjemput mu, kan uang taksi aku terbuang percuma jadinya " ucap Reva kesal sambil mencebikan bibir nya.
"Biarin, biar bisa romantisan sama kamu di mobil" Goda William sambil terkekeh geli.
Reva pun memutar bola mata nya malas, lalu pergi dari bandara itu mengunakan mobil William. Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan William yang berbicara keseharian nya di jepang tanpa Reva, sementara Reva memilih menjadi pendengar dan sesekali menyahuti ucapan William. Ketika mobil mereka berhenti karena lampu merah, Reva mengalihkan pandangan nya ke luar jendela dan melihat pemandangan yang menyakitkan hatinya.
"Sekarang keputusan aku sudah bulat, pergi meninggalkan dia! Gue benci, sangat benci sama lo Rey!!" batin Reva sambil berusaha menahan air matanya melihat pemandangan yang ada di depan nya.