
Suara sepatu menyentuh lantai bergema di sepanjang lorong gedung itu.
Reva memasuki apartemen milik Dodi sebelum dia menekan sandi apartemen nya.
Dodi sengaja memberi tau Reva kode apartemen nya dikarenakan Feni kemungkinan sedang tertidur lelap di apartemen milik nya mengingat tak mungkin Dodi akan membawa Feni ke rumah orang tua Feni karena jika itu terjadi bisa dipastikan Dodi akan dilontarkan beribu pertanyaan akhirnya Dodi memutuskan untuk membawa Feni ke apartemen milik nya.
Reva memasuki apartemen milik Dodi apartemen ini didominasi dengan warna abu abu menambah kesan macho pemilik nya, apartemen ini tidak terlalu luas namun sangat nyaman dilihat dari penempatan barang yang sangat apik dan rapi.
Reva memasuki sebuah kamar yang dia yakini adalah kamar milik Dodi yang sekarang sedang digunakan oleh Feni, bagaimana dia tidak tau, dia melihat apartemen itu hanya memiliki dua kamar jika kamar satu kosong maka dimana Feni selain kamar yang satu lagi bukan?
Ceklek
Reva membuka knop pintu berwarna abu abu itu dan langsung masuk ke kamar dominasi abu abu itu, dia melihat seorang wanita sedang tertidur pulas di King size di dalam kamar itu, Reva menghampiri wanita itu yang tak lain adalah Feni dilihat nya lekat lekat wajah Feni, dia merasa bersalah karena dia Feni hampir terkena musibah, dia berjanji akan menangkap medusa itu julukan yang diberikan nya kepada seseorang yang sering meneror nya selama ini, dia yakin sekali bahwa itu adalah seorang wanita mengingat dia hanya memiliki beberapa teman pria di Indonesia sisa nya hanya ada di jepang.
Reva keluar ke balkon mencari udara segar meratapi kehidupan nya yang penuh kejutan itu, dia terus memandangi langit yang indah itu entah mengapa akhir akhir ini dia sangat suka melihat langit, sangat menenangkan.
Reva mengingat sesuatu lalu dia masuk kedalam mengambil ponsel yang berada di tas sling bag nya yang dicampakan nya ke sofa di ruangan itu kemudian mendial nomor seseorang.
*Hallo Reva*
Ucap orang di seberang sana menanggapi panggilan milik Reva.
"William aku rindu " balas Reva lalu mematikan sambungan telfon nya sepihak.
Entah kenapa ada perasaan berasalah di hati nya, mengingat bahwa hati nya melukai hati William yang tulus mencintai nya , jujur saja jika disuruh memilih antara Rey dan haruka dia masih sangat bimbang memilih mengikuti hati atau ego nya, itu semua sangat sulit percaya lah.
Haruka itu adalah nama Jepang dari William tetapi mengingat dia juga seorang yang bukan berasal dari negeri sakura itu melainkan dari benua Eropa tepatnya dari Inggris sehingga nama asli nya menjadi nama orang barat, tapi aku lebih nyaman memanggil nya William dan dia dengan senang hati menerima nya.
Reva masih bergumul dengan pikiran nya dia merasa gelisah tapi tak tau apa penyebabnya sendiri setelah dua menit yang lalu mematikan sambungan telfon sepihak hingga notifikasi masuk ke dalam ponsel nya.
Drrt
William
Reva are you okay?
Aku yakin William sangat menghakawatirkan ku, mungkin saja dia baru pulang bekerja mengingat Indonesia dan Jepang terpaut dua jam dan sekarang memang sudah menjelang sore.
Reva
I'm okay, kau tak perlu khawatir
Setelah membalas itu Reva beranjak ke tidur ke samping Feni yang masih tertidur pulas mungkin karena efek obat tidur yang diberikan Dodi agar Feni lebih me rilekskan pikiran nya, karena lelah baik fisik, fikiran dan terutama hati akhirnya tak butuh waktu lama Reva ikut terlelap menyusul Feni ke alam mimpi.
✴️✴️✴️✴️
Di tempat lain dan di waktu yang sama seorang pria yang masih mengunakan kemeja putih terlihat sedikit kusut terutama di bagian dada bagian kanan pria itu, dia terus mencengkram dada nya merasakan sakit yang luar biasa, sakit yang selalu menghampiri nya lima tahun belakang ini dia tidak tau bahwa dia memiliki riwayat penyakit berat sejak kecil dan tanpa diundang penyakit itu timbul dan menciptakan rasa sakit yang luar biasa.
"Dimana obat lo, bo*oh!" umpat seorang pria yang tiba tiba masuk ke mobil yang masih terparkir rapi di basecamp apartemen milik pria itu.
"Gak perlu, gue masih bisa tahan!" balas pria itu memegangi dada nya itu dan meringis.
"Jangan keras kepala Rey! Sepertinya keputusan gue emang tepat selalu nguntit tin lo karena gue tau lo bakalan bodoh begini! Katakan dimana obat mu!"
"Di-di- belakang!"
"B*doh!" pria itu mengambil obat nya lalu memberikan nya kepada Rey setelah meminum obat itu akhirnya Rey pun sedikit tenang dia menyandarkan duduk nya ke kursi nya lalu menutup mata nya mengunakan tangan nya.
"Waktu gue ngak lama lagi"