
Desiran halus di dada Ferland ketika menyuapi Ajeng dengan tangannya, baru kali ini ia menggunakan tangan tanpa alat sendok untuk makan.
Ajeng terlihat santai sambil sibuk dengan ponselnya memandang artis-artis favoritnya, Hrithik Roshan. Ferland merebut ponsel Ajeng, dan melihat gallery ponsel Ajeng yang penuh dengan foto-foto artis India tersebut dengan berbagai pose.
"Siapa dia?"
"Dia?" Ajeng mengerenyitkan alisnya, Ferland menunjukkan foto artis India tersebut.
Tawa Ajeng pecah, melihat muka Ferland yang tegang.
"Kau tak mengenalnya?"
Ferland menggeleng.
"Sini biar gue kasih tau."
"Gue?" Ketus Ferland yang sangat tidak suka dengan bahasa tersebut.
"Maksudnya aku, iya biar aku kasih tau, dia itu artis India, ganteng ya, cool, macho, berotot, sispek."
"Kau suka? Dengan brewok seperti ini?"
"Iya, macho banget kan, andai suami.... Eh, makan lagi dong... Aaaa.... "
Ucap Ajeng mengalihkan perhatian Ferland, ia tak mau menyinggung Ferland soal lelaki, foto di rumah sakit sudah menunjukkan siapa Ferland yang mampu menjelma menjadi psikopat jika dirinya merasa tidak suka. Setelah selesai menyuapi Ajeng, Ferland makan sambil mengamati Ajeng.
"Lukamu cukup parah, maafkan aku."
"Sudahlah, ini hanya apes, maaf mobilmu rusak."
"Aku bisa membelinya lagi, tapi tanganmu akan cacat."
"Ca-cacat? Maksudmu?"
"Jahitan itu akan berbekas, kau tidak bisa lagi memakai dress tanpa lenganmu itu."
"Biarlah, hanya bekas jahitan."
"Kita operasi."
"Tidak, apa-apaan kau, ini bagus, bisa untuk kenang-kenangan,"
"Dasar aneh!"
"Kalau kau malu, carilah wanita lain yang mulus, aku tidak apa dimadu."
Ferland hanya menggeleng, Ajeng bangkit menuju kamar, Ferland mengekor dari belakang menyalakan TV, sedang Ajeng masuk ke kamar mandi.
"Mau apa?"
"Mandi" Teriak Ajeng,
Ferland membuka kamar mandi yang belum Ajeng kunci.
"Heh, mau apa kau?"
"Membantumu, memandikanmu."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Kalau bisa coba buka bajumu sendiri."
Ajeng berusaha membuka bajunya, namun ia kesulitan karna lengan atasnya masih terasa ngilu dan kaku.
Ferland mendekat, membantu melepaskan baju Ajeng, satu persatu kancing kemeja Ajeng terbuka. Ajeng gugup, dadanya berdetak begitu cepat, Ajeng hanya bisa menunduk menahan malu.
Pakaiannya sudah terlepas, meninggalkan gundukan indah yang masih tertutup b*a.
"Su-sudah, keluarlah, panggilkan perawat saja." Ucap Ajeng gugup.
Ferland mengacuhkan ucapan Ajeng, ia menarik pengait b*a dan membukanya, sontak Ajeng menutupi gundukan indahnya dengan satu tangannya, muka Ajeng terasa panas. Ia berlari ke belakang tubuh Ferland.
"Selanjutnya biar aku saja, terimakasih."
"Kau akan berendam dengan celana seperti itu hah?"
"Ti-tidak, aku akan melepasnya sendiri."
Ferland berbalik, menatap Ajeng yang memunggunginya sedang menyiapkan air.
"Biar aku saja."
Ferland menyiapkan air hangat di bathub, buka-bukaan mulai memenuhi bathup.
Ferland menunduk, ingin membuka celana Ajeng, namun Ajeng mundur beberapa langkah masih dengan menutupi gundukan indahnya.
"A-a-apa yang kau lakukan."
"Hey, aku ingin membantumu, aku suamimu, jangan malu, mendekatlah." Goda Ferland melihat Ajeng yang gugup dan memerah.
"Kau malu? Baiklah." Ucap Ferland melangkah pergi, Ajeng menghela nafas, namun tiba-tiba Ferland, menarik Ajeng dan mencium bibir Ajeng, mel*matnya dengan lembut. Dengan cepat Ferland membuka celana Ajeng dengan posisi masih mencium lembut bibir Ajeng.
Ferland membohongi Ajeng yang sudah b*gil dan memasukkannya ke dalam bathub, Ajeng tersadar ia sudah tidak mengenakan sehelai benangpun. Ajeng tertunduk malu, dan wajahnya terasa sangat panas, Ferland tersenyum penuh kemenangan.
"Sudah, pergilah."
"Kau berhutang banyak padaku, cepat sembuh dan bayar hutangmu."
"Hey, aku tidak memintamu membantuku."
"Di dunia ini tidak ada yang geratis sayang." Goda Ferland meninggalkan Ajeng yang membenamkan dirinya di bathub.
"Oh Tuhan aku ingin hilang sekarang juga." Gerutu Ajeng.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ajeng selesai dan mengenakan piyama handuknya, terlihat Ferland sedang berbaring menonton TV, melihat Ajeng keluar dari kamar mandi Ferland bangkit dan menghampiri Ajeng.
"Kenapa lama sekali? Dua jam kau berendam,"
"Sudahlah aku ngantuk, aku ingin tidur."
"Kau bisa masuk angin kalau tidur seperti ini."
"Ta-tapiii.... "
"Diam."
Ferland dengan telaten mengeringkan rambut Ajeng sampai benar-benar kering, ia mengambil piama Ajeng dan membuka baju handuk Ajeng. Ajeng bergeming melihat perlakuan Ferland yang begitu lembut.Ferland menatap dua gundukan indah milik Ajeng, Ferland menelan ludahnya, dan mencoba mengendalikan dirinya.
Ferland memakaikan piama daster pada Ajeng, ia tidak bisa menahan hasratnya, ia memegang kedua gundukan indah milik Ajeng, dada Ajeng berdesir sontak Ajeng mencubit pinggang Ferland.
Ferland tersenyum melihat wajah Ajeng memerah.
"Anggap itu sebagai cicilan dari hutangmu." Ucap Ferland menggoda.
"Setelah sembuh, aku patahkan tulangmu." Ketus Ajeng, setelah selesai Ajeng beranjak ke atas ranjang.
Begitu rindunya ia kepada kedua buah hatinya, Ajeng-pun melakukan video call bersama buah hatinya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Setelah berhari-hari Ajeng merasa lukanya sudah sembuh, dengan Ferland yang telaten merawatnya dan direpotkan nya.
Ajeng melihat dirinya dicermin, benar apa yang Ferland katakan jauh hari, bahwa jahitan nya akan berbekas di lengan Ajeng.
"Tak apalah, gak patah aja udah bersyukur." Gumam Ajeng.
Dilihatnya Ferland sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Sepertinya sudah sembuh."
"Sudah," Ucap Ajeng bersemangat.
"Baguslah, kau bisa mulai mencicil hutangmu."
*glekkk* Ajeng menelan ludah.
"Kau serius dengan hutang-hutang halumu itu?"
"Sudah ku bilang, di dunia ini tidak ada yang geratis, segera bersiap, nanti malam ku tagih hutangmu dengan beserta bunganya."
"Sebutkan berapa yang harus ku bayar, aku akan minta pada bapak."
"Jangan bercanda, atmku sudah habis atau belum?"
"Tak tau,"
Ferland sibuk dengan ponselnya, lalu menunjukan bukti transfer ke Ajeng.
"Sudah ku transfer, pergilah ke salon, belilah baju baju, terserah kau,"
"Aku pergi sendiri?"
"Sudah ku sewa orang untuk menjagamu, aku akan pulang malam."
🌺🌺🌺🌺🌺
Ajeng bersiap, ketika menunggu di lobby mobilnya datang, Ajeng masuk, ia terkejut dengan dua orang berbadan besar dan muka yang sangar duduk di depan.
"Maaf apa saya salah mobil?"
"Tidak nona, tuan Ferland yang menyuruh kami."
"Oh, baiklah, antar aku ke salon Rose."
Entah apa yang Ajeng fikirkan, mengapa ia mau menuruti perintah Ferland.
***
Empat jam berlalu, Ajeng sudah selesai dengan perawatan tubuhnya juga wajahnya,
Juga gaun malam yang ia pilih.
"Ahh.... Seperti wanita dewasa.." Gumam Ajeng. "Gue harap, gue bisa merubah Ferland dari darah dinginnya, setidaknya Ferland masih punya kelembutan buat keluarga, tapi gak lucu juga kalo gue punya suami psikopat kayak die, hiiiiiyyy ngeri.... " Ucap Ajeng.
Perjalanan panjang, cukup melelahkan.
Sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, Ajeng masih sibuk memainkan ponselnya menghubungi buah hatinya.
"Nona, kita sampai."
Ajeng mematikan ponselnya dan berjalan keluar, Ajeng menginjakkan kakinya di pasir yang halus, Ajeng mencangking hils.nya menyusuri bibir pantai yang indah dengan langit malam yang bertabur bintang.
"Mari nona, tuan sudah menunggu."
Ajeng mengekori pria bertubuh besar itu.
Ajeng terpana, melihat keindahan yang telah Ferland berikan padanya. Ajeng berjalan mendekati meja makan yang sudah tertata dengan nuansa klasik yang indah.
Ferland menatap kehadiran Ajeng, ia begitu terpana melihat Ajeng dengan gaun hitam yang membuatnya semakin terlihat dewasa dan anggun juga sexy.
Ferland menelan ludah memandangi Ajeng yang begitu mempesona.
"Kau yang menyiapkan semua ini?" Ucap Ajeng sambil mendudukkan dirinya di hadapan Ferland.
"Kau suka?"
Ajeng mengangguk tersenyum memandangi sekitar.
"Tak ku sangga manusia salju sepertimu bisa seromantis ini."
"Kau ingin yang lebih romantis?"
Ajeng menatap Ferland ragu,
"Lanjutkan makanmu, nanti ku beri tau."
Ajeng menurut, ia melanjutkan makan malamnya bersama Ferland dengan suasana yang begitu indah.