
Selepas berbincang bincang dengan Cantika tadi. Reva memilih
berjalan mencari keberadaan Wiliam yang juga tak kunjung kembali. Mungkin saja
lelaki itu tersesat mengingat kalau dia tidak pernah datang ke sekolah ini. Berbeda
dengan Aurora yang masih hapal dengan lorong lorong yang ada di sekolah ini,
walaupun ada beberapa hal yang dirombak oleh pihak sekolah, tidak membuat Reva
buta akan denah sekolah yang pernah mengukir kisah bahagia nya selama satu
tahun.
Hanya satu tahun saja Reva merasakan masa SMA di Indonesia sebelum
akhirnya dia harus melanjutkan study nya ke jepang karena satu alasan. Hati. Percayalah!
Segala yang berurusan dengan hati itu rumit!!
Dan lebih parahnya lagi. Manusia sudah tau hal itu rumit. Tapi
masih aja tetap di lanjutkan. Dasar aku.
Bruk!
“Maaf!”
“Reva?” panggil seorang lelaki yang suara nya tidak
terdengar asing di telinga Reva. Wanita itu mendongkak dan mendapati seorang
lelaki jangkung yang berdiri di hadapan nya.
“Ardo?” Tatapan Reva berubah menjadi berbinar ketika melihat
sosok yang ada di depannya. Sepertinya reunian kali ini mempertemukan dia
dengan orang orang yang ikut serta menjadi pemanis di kisah cinta nya yang
begitu manis sekaligus tragis.
Ardo mengulas senyum manis nya. “Lo makin cantik aja. Gue sampai
pangling sendiri.” puji Ardo menatap penampilan Reva dari atas sampai bawah.
Reva terkekeh geli mendengar pujian Ardo. “Lo bisa aja! Gue gini
gini aja kok.”
“Terserah lo deh kalau ngak mau percaya. Tapi btw dimana
Rey? Lo masih hubungan kan sama dia?” Tanya Ardo menatap ke sekeliling nya
mencari sosok yang dia Tanya barusan.
Wajah Reva berubah menjadi muram. Selalu pertanyaan itu yang
telontar dari orang orang yang dia kenal. Tidak bisa kah mereka tidak
mengatakan nama itu lagi. Jika boleh jujur ingin sekali Reva berteriak dan
mengatakan kepada mereka kalau mereka sudah tidak ada hubungan lagi dan dia
akan memulai hubungan dengan lelaki yang lebih baik lagi dari Rey dan
sebaliknya dengan lelaki itu.
“Gue sama dia udah ngak bersama lagi.” Balas Reva berusaha
mengulas senyum nya.
Ardo mengernyitkan dahi bingung. “Loh kenapa? Sejak kapan?”
nafas.
“Reva? Kenapa kau disini? Aku mencarimu sedari tadi.” Suara baritton
milik Wiliam membuat Ardo dan Reva saling menoleh dan mendapati sosok lelaki
tampan berdiri di belakang Reva.
Wanita itu menghela nafas lega. Dia bisa selamat kali ini
karena Wiliam. “Ardo perkenalkan ini Wiliam, tunangan gue.”ujar Reva
memperkenalkan Wiliam.
“Ardo, teman SMA Reva dulu. “UJar Ardo mengulurkan jabatan
tangan nya.
“Wiliam. Tunangan Reva.” Balas Wiliam membalas jabatan
tangan Ardo.
Ardo menatap bingung Reva. “Bukan—
“Kalau gitu kami pergi dulu ya. Bye Ardo!” Reva memotong
ucapan Ardo kemudian menarik Wiliam untuk pergi dari tempat itu. dia tidak
ingin Wiliam bertanya lebih dan malah membuat lelaki itu sakit hati nantinya
ataupun merasa kecewa.
Ardo menatap punggung Reva dan Wiliam yang menjauh. Kini tatapan
bingung nya berubah menjadi tatapan sendu.
“Jadi ini maksud lo Rey. Gue udah tau sekarang.” Ujar Ardo
tak berniat menoleh ke belakang nya.
Sosok lelaki keluar dari balik tembok yang ada di daerah itu
sembari tersenyum kecut menatap punggung Reva dan Wiliam yang menghilang. “Lo
udah tau sendiri bukan. Jadi lo pikir gue masih harus bertahan. Lagian tidak
apa. gue jusa sebentar lagi akan pergi. Dan biarkan Reva untuk bahagia. Setidaknya
itu untuk penebusan ku dulu yang membuat hati wanita itu begitu hancur. “
Buliran air mata menetes dari mata Rey.
Kalian tentu tau kan. jika lelaki sudah menangis, maka hal
yang ditangiskan nya itu tidaklah hal yang spele bukan?
Ardo menoleh kebelakang dan mendapati wajah sendu Rey. “Lo
pasti bisa Rey! Jangan menyerah sama takdir! Selama ini gue udah nemenin lo!
dan akan begitu sampai gue nebus kesalahan gue di masa lalu!!” balas Ardo
menatap pasti kearah Rey.
Rey menatap Ardo sembari menggeleng pelan. “Lo jaga dia
nanti ya. Jangan biarkan satu bulir pun air mata nya menetes ketika gue sudah
pergi nanti.”