I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
Bertemu Ardo



Selepas berbincang bincang dengan Cantika tadi. Reva memilih


berjalan mencari keberadaan Wiliam yang juga tak kunjung kembali. Mungkin saja


lelaki itu tersesat mengingat kalau dia tidak pernah datang ke sekolah ini. Berbeda


dengan Aurora yang masih hapal dengan lorong lorong yang ada di sekolah ini,


walaupun ada beberapa hal yang dirombak oleh pihak sekolah, tidak membuat Reva


buta akan denah sekolah yang pernah mengukir kisah bahagia nya selama satu


tahun.


Hanya satu tahun saja Reva merasakan masa SMA di Indonesia sebelum


akhirnya dia harus melanjutkan study nya ke jepang karena satu alasan. Hati. Percayalah!


Segala yang berurusan dengan hati itu rumit!!


Dan lebih parahnya lagi. Manusia sudah tau hal itu rumit. Tapi


masih aja tetap di lanjutkan. Dasar aku.


Bruk!


“Maaf!”


“Reva?” panggil seorang lelaki yang suara nya tidak


terdengar asing di telinga Reva. Wanita itu mendongkak dan mendapati seorang


lelaki jangkung yang berdiri di hadapan nya.


“Ardo?” Tatapan Reva berubah menjadi berbinar ketika melihat


sosok yang ada di depannya. Sepertinya reunian kali ini mempertemukan dia


dengan orang orang yang ikut serta menjadi pemanis di kisah cinta nya yang


begitu manis sekaligus tragis.


Ardo mengulas senyum manis nya. “Lo makin cantik aja. Gue sampai


pangling sendiri.” puji Ardo menatap penampilan Reva dari atas sampai bawah.


Reva terkekeh geli mendengar pujian Ardo. “Lo bisa aja! Gue gini


gini aja kok.”


“Terserah lo deh kalau ngak mau percaya. Tapi btw dimana


Rey? Lo masih hubungan kan sama dia?” Tanya Ardo menatap ke sekeliling nya


mencari sosok yang dia Tanya barusan.


Wajah Reva berubah menjadi muram. Selalu pertanyaan itu yang


telontar dari orang orang yang dia kenal. Tidak bisa kah mereka tidak


mengatakan nama itu lagi. Jika boleh jujur ingin sekali Reva berteriak dan


mengatakan kepada mereka kalau mereka sudah tidak ada hubungan lagi dan dia


akan memulai hubungan dengan lelaki yang lebih baik lagi dari Rey dan


sebaliknya dengan lelaki itu.


“Gue sama dia udah ngak bersama lagi.” Balas Reva berusaha


mengulas senyum nya.


Ardo mengernyitkan dahi bingung. “Loh kenapa? Sejak kapan?”


nafas.


“Reva? Kenapa kau disini? Aku mencarimu sedari tadi.” Suara baritton


milik Wiliam membuat Ardo dan Reva saling menoleh dan mendapati sosok lelaki


tampan berdiri di belakang Reva.


Wanita itu menghela nafas lega. Dia bisa selamat kali ini


karena Wiliam. “Ardo perkenalkan ini Wiliam, tunangan gue.”ujar Reva


memperkenalkan Wiliam.


“Ardo, teman SMA Reva dulu. “UJar Ardo mengulurkan jabatan


tangan nya.


“Wiliam. Tunangan Reva.” Balas Wiliam membalas jabatan


tangan Ardo.


Ardo menatap bingung Reva. “Bukan—


“Kalau gitu kami pergi dulu ya. Bye Ardo!” Reva memotong


ucapan Ardo kemudian menarik Wiliam untuk pergi dari tempat itu. dia tidak


ingin Wiliam bertanya lebih dan malah membuat lelaki itu sakit hati nantinya


ataupun merasa kecewa.


Ardo menatap punggung Reva dan Wiliam yang menjauh. Kini tatapan


bingung nya berubah menjadi tatapan sendu.


“Jadi ini maksud lo Rey. Gue udah tau sekarang.” Ujar Ardo


tak berniat menoleh ke belakang nya.


Sosok lelaki keluar dari balik tembok yang ada di daerah itu


sembari tersenyum kecut menatap punggung Reva dan Wiliam yang menghilang. “Lo


udah tau sendiri bukan. Jadi lo pikir gue masih harus bertahan. Lagian tidak


apa. gue jusa sebentar lagi akan pergi. Dan biarkan Reva untuk bahagia. Setidaknya


itu untuk penebusan ku dulu yang membuat hati wanita itu begitu hancur. “


Buliran air mata menetes dari mata Rey.


Kalian tentu tau kan. jika lelaki sudah menangis, maka hal


yang ditangiskan nya itu tidaklah hal yang spele bukan?


Ardo menoleh kebelakang dan mendapati wajah sendu Rey. “Lo


pasti bisa Rey! Jangan menyerah sama takdir! Selama ini gue udah nemenin lo!


dan akan begitu sampai gue nebus kesalahan gue di masa lalu!!” balas Ardo


menatap pasti kearah Rey.


Rey menatap Ardo sembari menggeleng pelan. “Lo jaga dia


nanti ya. Jangan biarkan satu bulir pun air mata nya menetes ketika gue sudah


pergi nanti.”