
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ajeng menyiapkan sarapan untuk Ferland.
"Harum sekali." Ucap Ferland sudah dengan pakaian rapinya, menarik kursi, mulai menyendokkan suapan nasi goreng buatan Ajeng.
"Kau, mau ke kantor dengan pakaian seperti ini?"
"Hmm, apa yang salah?"
"Kau ingin menggoda wanita-wanita di kantormu?"
"Aku tidak pernah menggoda siapapun, tanpa aku goda mereka sudah mendekat sendiri."
"Cih, pede sekali." Gumam Ajeng.
"Bukankah ini stylemu, kau yang mengajariku seperti ini, dan kau berhasil, dengan gaya rambutku yang baru, wanita-wanita itu tambah menggodaku," Ucap Ferland tersenyum.
"Terserah kau saja, oiya, aku akan pergi dengan teman-temanku,"
"Tidak boleh,"
"Hanya reuni sayang.... " Ucap Ajeng melingkarkan tangannya pada leher Ferland dari belakang.
"Tidak, tetaplah dirumah, atau ikutlah ke kantor."
"Ayolaaahhh, hanya makan diluar dan shoping, aku rindu Sofia." Ucap Ajeng mencium pipi Ferland.
"Sofia?"
"Iya teman kuliahku dulu,"
"Perempuan?"
"Kau tampan tapi b*doh, Mana ada laki-laki namanya Sofia." Gerutu Ajeng, Ferland tersenyum mencium pipi Ajeng yang masih menempelkan pipinya pada pipi Ferland.
"Baiklah, jangan pulang malam, atau susulah ke kantor."
"Aaa,,, Terimakasih sayang." Ucap Ajeng girang mencium pipi Ferland dan berlari ke kamar menyiapkan dirinya.
Ferland tersenyum masih dengan menghabiskan sarapannya, ia bahagia melihat Ajeng sudah bisa menerimanya dan tak canggung lagi jika bersamanya.
Lima menit bersiap, Ajeng keluar menggunakan blouse dan celana pendeknya, juga sepatu casual, rambut dikuncir buntut kuda, dengan make up flawless.
"Ayo, aku ikut sampai di mall."
"Baiklah,"
Ajeng melingkarkan tangannya pada tangan Ferland. Dimobil Ferland sibuk dengan ponselnya, sementara Ajeng duduk bersandar memperhatikan suaminya.
Ajeng merebut ponsel Ferland dan membuka chat pada aplikasi hijau milik Ferland.
"Sibuk sekali, chating dengan siapa?"
"Bukalah sendiri, kau yang pegang."
Ajeng membuka chat dengan nama Melinda, dengan foto profil seorang perempuan yang menggunakan pakaian sedikit memperlihatkan belahan dadanya. Ajeng membuka chatnya, memeriksa percakapan mereka dari atas, hanya seputar kejaan dengan balasan Ferland yang singkat, chat-chat sepele atau pertanyaan Melinda tidak pernah Ferland balas jika bukan seputar kerjaan.
"Oooo... Perempuan..." Gumam Ajeng, Ferland melirik.
"Cantik juga kau memilih sekretaris." Lanjut Ajeng.
"Tentu, sekretarisku harus cantik Dan sexy, agar sedap dipandang."
"Dasar kadal." Guman Ajeng melempar ponsel Ferland ke arah Ferland.
"Kau cemburu?"
"Tidak sama sekali."
"Kau bohong."
"Tidak, kadal, mana mungkin aku cemburu."
Ferland merengkuh Ajeng, memainkan rambut Ajeng.
"Ayolah, tidak perlu cemburu, aku hanya milikmu." Bisik Ferland.
"Jangan terlalu kepedean, aku tidak cemburu, sekalipun kau memacarinya, aku tidak peduli." Gerutu Ajeng.
"Kau tidak mencintaiku?"
"Kurasa tidak."
Ferland melepaskan rengkuhannya, mendorong Ajeng menjauh dari dirinya.
"Aduh, kasar sekali." Gumam Ajeng.
"Kau marah?" Tanya Ajeng mendekati Ferland. Ferland diam tak menjawab, pandangannya lurus kedepan.
"Sayang..." Goda Ajeng.
"Jangan mendekat." Ketus Ferland.
"Tatap aku,"
"Tidak mau."
"Ferland, tatap aku.... "
"Tidak, jangan sentuh aku," Ketus Ferland.
"Ya sudah, aku berhenti disini, pak berhenti."
Ucap Ajeg, supir memberhentikan mobilnya, Ajeng menatap Ferland sekilas, Ferland memalingkan wajahnya ke jendela, Ajeng turun dari mobil, dan mobilpun melaju menghiraukan Ajeng.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ajeng bertemu Sofia, keduanya berpelukkan sangat erat, mereka makan bersama, dan berjalan-jalan menikmati waktu kebersamaan mereka.
"Eh, gimana lo sama Wisnu?"ucap Ajeng antusias.
"Gue udah tunangan sama Wisnu."
"Waahhh selamat baby...."
"Eh Jeng, lo yang semangat ya, gue baru tau kalo Willi..."
"Gak papa Sof, semua yang hidup akan mati, kita ini milik Allah, jadi siap gak siap ya harus siap kalo saatnya dipanggil," Ucap Ajeng lesu.
"Yang kuat ya,"
Ajeng mengangguk.
"Eh, kita shopping yuk, gue bayarin." Ucap Ajeng mengalihkan pembicaraan.
"Asikkk cussss saay... "
🌺🌺🌺🌺
"Eh, udah malem, tuh Wisnu."
"Hai, Jeng, apa kabar?"
"Baik, Nu,"
"Oiya, kenalin ini Rey adek gue."
"Reyhan."
"Ajeng."
"Oiya Jeng, lo dianter pulang ya sama Rey, soalnya gue bawa motor." Ucap Wisnu.
"Eh, gak usah gue dijemput kok."
Ajeng menghubungi Ferland berkali-kali namun tak ada jawaban, sepertinya Ferland benar-benar marah kepadanya. Ia menelpon supir pun tak ada jawaban.
"Gimana Jeng?" Tanya Sofia.
"E... Gak diangkat."
"Yaudah biar gue antar aja ya." Ucap Reyhan.
"Udah ada suami, jangan macem-macem." Goda Wisnu menyikut tangan Reyhan.
"Apaan si lo." Ketus Reyhan.
"Dia anak baik-baik kok, Jeng" Ucap Wisnu
Mau tidak mau Ajeng mengangguk, Ajeng masih trauma jika harus pulang malam sendirian akibat kejadian malam lalu.
Ajeng membonceng motor Reyhan, di lampu merah Ajeng melihat mobil Ferland.
"Rey, coba diam-diam ikutin mobil itu ya."
Reyhan mengangguk dan mengikuti mobil Ferland, lumayan lama sampai mobil berhenti di rumah mewah, dari dalam mobil keluar perempuan yang tidak asing bagi Ajeng, perempuan yang ada di aplikasi hijau milik Ferland.
Setelah wanita itu masuk ke dalam rumah, mobil Ferland melaju lagi.
Ponsel Ajeng berbunyi, pesan masuk pada aplikasi hijaunya.
[Aku baru selesai meeting, kau dimana, biar ku jemput.]
Isi pesan dari Ferland.
"Cih, kadal sableng, abis mojok bilangnya meeting." Gumam Ajeng.
"Udah yok puter balik Rey,"
"Oke."
Dijalan Reyhan menyalip mobil Ferland atas perintah Ajeng, Ferland melihat seperti Ajeng sedang berboncengan motor, ia melakukan mobilnya mengejar motor yang Ajeng tumpangi untuk memastikan apa benar itu Ajeng.
Ferland menyerempet motor yang Ajeng tumpangi, Ajeng dan Reyhan terguling, Reyhan bangkit menolong Ajeng, Ferland keluar dari mobil dan langsung menghajar Reyhan membabi buta sampai mengeluarkan dara.
"Stop!!! Stop! Fer.!" Ucap Ajeng histeris menarik lengan Ferland untuk menjauhi Reyhan, Ajeng menyeret Ferland sampai ke mobilnya.
"Tunggu sini." Ketus Ajeng. Ajeng berlari menolong Reyhan. Membantu Reyhan berdiri.
"Han, gu-gue... "
*BUKKKK* Ferland kembali memukul Reyhan.
"Stop! Ferland!" Bentak Ajeng, Ferland menyeret Ajeng sampai ke mobil, Ajeng memandang Reyhan dengan sorot mata penuh penyesalan, Reyhan hanya mengangguk kecil.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ajeng terisak, ia mengompres lututnya buang terluka akibat terguling dari motor bersama Reyhan. Ia memikirkan bagaimana nasib adik Wisnu tersebut, ia sungguh benar-benar merasa bersalah.
Ajeng mengirim pesan kepada Sofia teruntuk permintaan maafnya kepada Reyhan.
Tak habis fikir kenapa Ferland bisa setega itu menyerempet sampai melukai orang yang tidak dia kenal.
Ferland keluar dari kamar mandi, Ajeng menundukkan pandangannya, menyembunyikan air matanya.
Ferland merebut kain dari tangan Ajeng dan mengompres luka Ajeng, Ajeng mendorong Ferland hingga terjatuh, ia lalu menarik selimut dan berbaring memunggungi Ferland.
Ferland mengusap wajahnya kasar, ia membanting kain yang tadi direbutnya dan melangkahkan kaki ke luar kamar sambil membanting pintu dengan keras.