I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
episode 21



Setelah pemeriksaan lanjut akhirnya dokter memperbolehkan Ajeng beserta bayi mungilnya pulang. Ajeng merasa lega karena akhirnya bisa kembali ke rumah dengan tenang. Tak henti-hentinya William tersenyum sambil memandang Ajeng yang tengah memberikan asi kepada Zahra mungilnya.


"Kenapa senyum-senyum?" Ajeng melihat suaminya dengan heran.


"Aku sangat bahagia."


Singkat William masih fokus mengendarai mobilnya.


Sesampainya di apartemen, Ajeng menidurkan putrinya di tempat tidur bayi yang sudah dipersiapkannya jauh-jauh hari.


Ajeng memandangi putrinya, begitu lekat mirip dengan Ferland, Ajeng bernafas lega mengingat Ferland tidak mencurigai kemiripan putrinya dengan Ferland.


William memeluk Ajeng dari belakang, mencium rambut Ajeng.


"Lihat mungil sekali dia." Bisik William.


Ajeng berbalik, menatap lekat-lekat suaminya. Hatinya begitu takut jika suatu saat Ferland mengetahui dan mengambil bayinya.


"Wil, gimana kalo nanti Ferland tau, dan dia ngambil Zahra,"


William tak menjawab, ia mencium bibir Ajeng lembut, Ajeng membalas ciuman suaminya, menikmati ciuman William.


Setelah puas berciuman, William melepaskannya, memandang Ajeng dengan sendu.


"Jangan khawatirkan apapun, aku ada disini, akan selalu menjagamu."


Ajeng mengangguk dan memeluk hangat William.


********


********


Tak terasa sudah empat bulan usia Zahra, ia mulai bisa tengkurap dan bercanda, tertawa dengan lucunya.


Perkembangan Zahra begitu cepat.


"Aku akan pulang malam, bersiaplah, malam ini aku inginkan kau." Ucap William mencolek dagu Ajeng sambil mengerlingkan mata nakalnya.


"Jangan nakal Wil," Ajeng tersipu malu, tak biasanya suaminya bersikap genit seperti itu.


"Ayolaaaahhh, oke, oke,"


"Udah sana berangkat,"


"Oke, papah berangkat dulu sayang," Cuppp... William mengecup Zahra kecilnya, dan mengecup kitati bibir Ajeng.


William berangkat ke kantornya, rona bahagia terus terpancar dari wajahnya.


****


Ponsel William berdering terus, mau tidak mau dia mengalihkan pekerjaanya dan mengangkat telepon dari istrinya.


"Ada apa sayang? Sudah gak sabar ya." Goda William.


"Apaan si, ini ada Ferland ke rumah." Bisik Ajeng.


"Ferland? Sama siapa? Mau apa dia?"


"Dia sendiri, jadi aku telepon bik Mirnah, Ferland lagi ngegendong Zahra, aku takut Wil, cepat pulang."


"Sepertinya ikatan batin Ferland sangat kuat, tak apa jangan khawatir dan bersikaplah setenang mungkin agar Ferland tidak curiga. Setelah semua selesai aku langsung pulang, dan ingat, jatahku malam ini."


"Berhenti menjadi sableng." Ketus Ajeng mematikan teleponnya.


William hanya tertawa menanggapi sikap istrinya.


***


Ajeng menatap Ferland yang menggendong Zahra mungilnya dengan hangat.


-Sepertinya ikatan batin Ferland sangat kuat- ucap Ajeng dalam hati.


Ferland memberikan Zahra pada Ajeng yang masih melamun.


"Jeng,"


"Eh, iya, apa kenapa?" Ucap Ajeng tersadar dari lamunannya sambil mundur beberapa langkah karena terkejut Ferland sudah berada di depannya.


Ferland menyerahkan Zahra untuk digendong Ajeng.


"Aku harus pergi, ada meeting siang ini."


"I-iya," Ajeng menunduk tak berani menatap Ferland.


Ajeng melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB.


"Bik, menginap lah, saya harus pergi, titip Zahra ku ya bik, ingat jangan biarkan siapapun datang, jika ada sesuatu hubungi saya segera ya."


"Baik, non,"


"Susunya sudah saya siapkan di kulkas ya bik, pakai yang deretan utama dulu."


"Siap, non."


Ajeng melangkahkan kakinya menuju salon favoritnya. Ia bisa lega karena ada bik Mirnah yang sudah lama bekerja padanya pulang pergi.


Ajeng mempersiapkan dirinya sebaik mungkin, menyiapkan dirinya agar menjadi special untuk suaminya.


****


Malam yang panjang bagi Ajeng dan William, bagaikan bulan madu sepasang pengantin baru keduanya menjalani malam yang penuh dengan kenikmatan yang hakiki.


Mengulangi dan mengulanginya sampai pagi.


"Terimakasih baby, kau sungguh membuatku melayang." Bisik William.


"Terimakasih juga untuk bulan madu yang indah ini, kau benar-benar membuatku lelah sayang." Balas Ajeng sambil mengusap dada William.


Ajeng tertidur memeluk William dengan mesra, lelah yang teramat sangat membuat Ajeng dan William tertidur dengan nyenyak.


********


William bergegas membersihkan diri lalu keluar kamar mencari pujaan hatinya.


Ternyata Ajeng sedang bermain bersama Zahra di depan TV.


"Morning sayang" Ucap William mengecup kening Ajeng, "Ututuuuu anak papah, sudah wangi, sini sama papah sayang." Zahra tertawa dan meregangkan tangannya meminta digendong William.


"Sarapan dulu non, tuan, sudah saya siapkan" Ucap bik Mirnah mengambil alih Zahra dalam gendongannya.


___


"Sayang,"


"Ya?"


"Apa yang kau pakai semalam? Kenapa kau begitu sempit,"


Wajah Ajeng memerah menahan malu.


"Kau suka?"


William mengangguk dengan cepat.


"Apa rahasianya? Kau seperti..... "


"Seperti apa?"


"Sepertiii..... Perawan sayang."


Ajeng menghentikan makannya dan langsung menjewer kuping William.


"Aaaww... " Pekik William.


"Perawan? Sejak kapan kau tau rasa perawan? Sedangkan aku meninggal denganmu saat aku sudah melakukanya, lalu bagaimana kamu bisa menyimpulkan rasa perawan seperti itu hah? Kau celap celup ya." Gerutu Ajeng sambil menjewer kuping William hingga merah.


"No, no, sayang please, lepasin,"


Dengan kesal Ajeng melepaskan jewerannya.


"Jelaskan!" Sungut Ajeng.


"Aku cuma mengira-ngira, gak pernah celap celup, serius,"


Ajeng menatap William dengan tatapan elang yang ingin menerkam mangsanya.


"Serius sayang, kaulah orang pertama yang mengambil kejantananku," Ucap William meyakinkan.


"Awas berani macam-macam." Ketus Ajeng sambil menunjukkan pisau makannya kepada William.


"Cantik sekali istriku kalau sedang marah." Goda Wisman menjawil dagu Ajeng.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Zahra berkembang dengan cepat, diusianya yang sudah menginjak 5 bulan Zahra sudah mampu merangkak dan berceloteh dengan lucu.


[Wil, bisa pulang sebentar? Bik Mirnah dia izin pulang kampung, Zahra rewel, aku tidak enak badan]


William membaca pesan dari Ajeng, ia bergegas pulang untuk merawat Ajeng.


"Apa yang dirasa sayang? Kau pucat sekali."


William mengelap keringat dingin di dahi Ajeng, ia menggendong Zahra yang sedari tadi menangis, sudah berbagai cara William lakukan namun Zahra tidak mau berhenti menangis.


"Honey, sepertinya kita perlu Ferland."


Ajeng terbelalak menggeleng mendengar pernyataan William.


"Enggak Wil, biar aku saja." Ajeng meraih Zahra dan menggendongnya, mencoba menenangkan Zahra yang masih rewel.


Diam-diam William menghubungi Ferland, yang ternyata Ferland sedang sakit di rumah bu Alina.


Apa benar ikatan batin Ferland dengan Zahra begitu kuat, Ya Tuhan tolong aku, jangan jauhkan aku dari anakku.


Ucap Ajeng dalam hati, William mecoba menenangkan Ajeng, dengan pengertian William, akhirnya Ajeng mau membawa Zahra untuk menemui Ferland.


********


"Kami, ingin menjenguk Ferland, kami dapat kabar kalau Ferland sakit." Ucap William berbohong, wajah Ajeng terlihat masih pucat walaupun sudah bermake up tipis.


Ferland yang mendengar celoteh Zahra menemuinya diruang keluarga, hatinya begitu bahagia melihat Zahra mungilnya.


Zahra yang sedari tadi rewel kini diam bermain bersama Ferland, tawa dan celoteh Zahra mulai terdengar sangat lucu.


Ajeng menatap William penuh dengan kekhawatiran. Keringat dinginnya kembali bercucuran.


"Ndhuk, kamu sakit nak? Wajahmu pucat sayang."


"Ndak bu, Ajeng...."


"Sudah-sudah, kamu istirahat dikamar tamu saja, gak papa malam ini kalian menginap disini saja, biar ibu panggilkan dokter buatmu."


"Ndak usah bu,"


"Sayang, benar kata bu Alina, kita disini dulu ya."


Ucap lembut William, yang membuat Ajeng mengangguk namun sesungguhnya begitu membakar hati Ferland.


"Iya, kalian istirahatlah, biar Zahra tidur denganku."


"Jangan!" bentak Ajeng reflek, semua menatap heran ke arah Ajeng.


"m-mak-maksudku jangan, kau sedang sakit, nanti Zahra menangis malam-malam minta dibuatkan susu, nanti kau malah terganggu." Jelas Ajeng kikuk.


"Tak perlu khawatir, kau istirahat saja jaga dirimu, biarkan aku bersenang-senang dengan putrimu, oke Yaya?" Ucap Ferland sambil bermain bersama Zahra.


William mengelus punggung Ajeng, membawa Ajeng ke kamar tamu, ia meyakinkan Ajeng, bahwa Ferland tidak akan menyakiti Zahra, dan semua akan baik-baik saja.


Sambil menunggu dokter keluarga Ferland datang, Ajeng rebahan dengan William memijit kaki Ajeng.