I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
episode 14



Pagi yang cerah, tidur nyenyak membuat Ajeng bangun kesiangan.


Ia mengambil ponsel, berharap William memberinya pesan, senyumnya mengembang saat ia mendapat pesan dari William.


[Selamat pagi kesayangan, bangun dan jadilah istri terbaik]


Ahh andai saat ini suaminya adalah William, pasti ia sudah bangun dan menyiapkan segala keperluan William untuk berangkat ke kantor. Dan ia akan merasa menjadi seorang istri sungguhan dan paling bahagia.


Ajeng melirik jam, sudah jam 08.30 WIB.


Ajeng memutuskan untuk mandi, masih menguntungkan karena kamar mandi berada di dalam kamarnya, perut Ajeng mulai keroncongan, ia berinisiatif memesan gofut untuk sarapannya.


Mengingat kejadian semalam ia tak boleh menyentuh apapun dikulkas, membuatnya ingin sedikit mencubit ginjal Ferland.


Tak lama, abang gofut mengirimkan pesan, memberitahu kalau dia sudah menunggu didepan pagar, Ajeng bergegas turun ke bawah, didapatinya Stevy sedang bersantai membaca majalah sambil menyantap buah-buahan.


"Mau kemana adik madu?"


Ajeng hanya tersenyum jengah mendengar panggilan itu lagi.


Setelah membayar Ajeng kembali ke dalam rumah, mengambil peralatan makan dan membawanya ke kamarnya.


Stevy mengikutinya dari belakang.


Sampai ketika Ajeng hendak menutup kamarnya ia kaget melihat Stevy sudah diambang pintu.


"Buset, ni orang kenapa coba," Gumam Ajeng dalam hati.


"Ada apa?"


"Boleh aku lihat apa yang kau bawa?"


Ajeng melengos, mau tidak mau dia tetap harus sopan dengan tuan rumah.


"Ini makanan, sate padang, nasi padang, dan ayam panggang."


"Boleh aku...."


"Mari makan dibawah saja." Ucap Ajeng malas, Ajeng sangat tidak suka jika ada orang lain masuk ke kamarnya.


"Biar aku yang siapkan." Ucap Stevy, Ajeng hanya menurut dan mengambil posisi duduk di meja makan berhadapan dengan Stevy.


"Boleh aku makan?"


"Makanlah," Singkat Ajeng,


Ajeng terkejut melihat Stevy yang begitu sangat lahap menikmati makanannya.


"Hey, apa suamimu tidak memberimu makan?" Bisik Ajeng sambil mengamati sekitar, takut jika Ferland tiba-tiba mendengar.


"Aku tidak boleh makan makanan seperti ini, dia takut aku gendut, banyak lemak, kolesterol dan apalah apalah,"


Ajeng melotot, nafsu makannya tiba-tiba hilang menjadi sebuah kekepoan yang hakiki.


"Lalu apa makananmu?"


"Ya, kau taulah, hanya salad, sedikit daging, sushi dan sejenisnya yang tidak memakai minyak berlebih,"


"Kasihan, miris sekali jadi istrinya," Gumam Ajeng.


"Makannya dia tidak bernafsu denganmu, apalagi untuk menyentuhmu dia tak akan mau, karena penampilanmu dan tubuhmu, juga wajahmu,"


Seketika Ajeng meraba wajahnya, ada apa dengan wajahnya.


"Lihat, wajahmu ada jerawat," Ucapnya sambil menyodorkan kaca kecilnya yang selalu dia bawa.


"Kulitmu kusam, hitam, wajahmu tidak secantik aku, tubuhmu pendek dan kecil, kau terlihat seperti anak kecil."


Lanjutnya sambil terus melahap makanan Ajeng.


Ajeng gemas, nafsu makannya kini benar-benar hilang, Ajeng bangkit dari kursinya dan berlalu pergi ke luar rumah.


Senyuman sinis terlihat dari bibir sexy Stevy.


"Sial, udah ngabisin makanan gue, ngehina gue pula, dasar tiang listrik!" Sungut Ajeng.


Tiba-tiba sebuah motor berhenti di sampingnya, Ajeng menghentikan langkahnya.


Pengendara motor itu membuka kaca helemnya.


"Willi...." Seru Ajeng dengan mata berbinar.


"Naik!"


Tanpa babibu Ajeng langsung naik dan memeluk erat William. Hatinya sungguh sangat bahagia bisa bertemu dengan William.


William memberhentikan motornya di taman.


"Wil, kita makan yuk,"


William hanya mengangguk dan melakukan motornya ke sebuah rumah makan lesehan.


"Kenapa udah jam segini baru makan?"


"Eemmmm... Eeee.... " Ajeng gugup, entah apakah dia harus berbicara yang sebenarnya atau dia harus berbohong


"Apa dia gak kasih lo makan Jeng?"


"Emm bukan, gue, gu-gue bangun kesiangan,"


William menggenggam tangan Ajeng, ia menatap, menelisik penuh selidik.


"Lo gak bisa bohongin gue Jeng,"


"Wil, sebenarnya Ferland udah punya istri,"


"What?!"


"Terus lo? Jeng,"


"Gue gak tau juga Wil, makannya gue lagi nunggu bu Alina buat ngejelasin,"


Ajeng bercerita tentang kejadian yang membuatnya tidak berselera makan, William terbahak-bahak mendengar cerita Ajeng.


"Hahahaa, enggak bukan gitu Jeng, secantik apa sih dia sampe ngatain lo begitu."


"Ya kayak artis-artis di negaranya, kakinya panjang, putih bening, mukanya imut, pokoknya cantik banget deh kalo lo liat juga lo pasti bakal suka."


"Hah? Serius, coba yuk liat."


"Williiiiiii....!!!! Ah nyebelin deh."


"Hahaha, bercanda sayangku." Ucap William menjadi hidung Ajeng.


"Udah makannya?"


"Udah,"


"Yaudah yuk pulang, nanti orang rumah nyariin elo."


"Males ah, lagian si manusia salju juga gak dirumah, cuma ada tu cewek doang."


"Ajeng, inget gue akan terus jagain lo, tapi sekarang lo harus tau posisi lo, oke."


"Will, gue masih pengen sama lo... "


"Gue gak kemana-mana, gue bakal terus dihati lo, pulang ya, gue juga masih ada kerjaan."


Mau tidak mau Ajeng menuruti William, meski hatinya benar-benar sedih akan berpisah lagi dengan William.


William mengantar Ajeng sampai depan gerbang, setelah Ajeng masuk, lalu William melaju pergi.


Ajeng tersentak dengan Ferland yang tiba-tiba ada di rumah dan menarik kasar tangannya, mendorongnya hingga terjatuh ke sofa.


"Dari mana?"


"Apaan sih lo, sakit tau!"


"Kau tuli? Aku bilang dari mana?!"


"Abis makan."


Sungut Ajeng sambil memegang pergelangan tangannya yang merah akibat cengkraman Ferland.


"Jangan lagi keluar rumah tanpa ijinku!"


"Heh, gue gak bakal pergi kalo lo nyediain keperluan dan kebutuhan gue, cowok pelit bin medit kayak lo gak berhak ngatur gue, paham?!" Ucap Ajeng geram berlalu ke kamarnya meninggalkan Ferland.


"Dasar sableng, kok ada manusia kayak begitu, tadi istrinya, sekarang suaminya yang setres, dasar manusia-manusia aneh." Gerutu Ajeng.


Sungguh bosan rasanya Ajeng seharian di kamar, sedang Stevy sudah keluar rumah sejak pekerjaannya selesai dan baru kembali setelah sore atau bahkan malam hari.


Dan Ferland sudah berangkat ke kantor dan pulang ketika malam.


-


-


Jam 17.50 Suara mobil Stevy terdengar, Ajeng masih sibuk dengan TVnya, Stevy masuk dengan membawa banyak totebag.


Tak lama terdengar deru mobil Ferland, Ajeng terperanjat, tidak biasanya Ferland pulang secepat ini, Ajeng hendak menaiki tangga untuk ke kamarnya, ia berpapasan dengan Stevy yang sudah rapi.


"Adik madu, bukankah kita harus menyambut suami kita." Ucapnya manis.


"Sambutlah sendiri suamimu, kalau aku, akan menyebutnya dengan sambitan parang." Ketus Ajeng.


Tanpa mereka sadari, Ferland telah memasuki rumah.


"Ekhemmm... " Ferland berdehem, Ajeng dan Stevy terkejut, Stevy menyambutnya dengan ciuman di pipi dan bibir Ferland, lalu membawakan tas kerja Ferland, sedang Ajeng hanya melirik dan melanjutkan perjalanan ke kamarnya dengan terburu-buru.


Ajeng mengunci pintu kamar, ia merebahkan diri di ranjang, sungguh memuakkan melihat sepasang kekasih itu yang selalu membuatnya merindukan William dan perlakuan lembut William.


Ponselnya berbunyi, sebuah pesan dari Ferland.


[Turun, dan makanlah.]


Ajeng tak menggubris pesan Ferland, Ajeng hanya membacanya dan kembali mendengarkan musik.


*Klekk* pintu kamar tiba-tiba terbuka, Ferland sudah berdiri di samping ranjang mengamati Ajeng yang terpejam menikmati earphonenya.


Ferland menarik tangan Ajeng, hingga terlepas earphone Ajeng dan ponsel Ajeng terjatuh. Ajeng terkejut, bukankah ia telah mengunci pintu kamarnya.


"Hei, selain jadi manusia salju apa kau jadi manusia semut hah? Masuk kamar orang seenak jidatmu!"


"Apakah selain pembangkang kau juga buta huruf?" Ketus Ferland tanpa menanggapi perkataan Ajeng.


"Dari mana kau masuk? Dari lubang kunci atau dari ventilasi?" Sinis Ajeng sambil memungut ponselnya.


"Kau lupa, aku tuan rumah disini," Ucap Ferland sambil menunjukkan kunci duplikat kamar Ajeng.


"Pergilah, aku tidak ingin berdebat."


"Tidak ada yang bisa mengusir ku dari rumahku sendiri."


"Tapi ini kamarku!"


Bentak Ajeng geram.


"Ini rumahku, kau hanya menumpang disini, jadi turuti perintahku!"


Ketus Ferland menarik tangan Ajeng dengan kasar, membawanya menuruni tangga. Ajeng yang tak siap tergopoh-gopoh mengikuti langkah Ferland yang menyeretnya hingga Ajeng terjatuh karena kakinya sendiri.


"Awwww.... "


Ferland menghentikan langkahnya.


"Dasar siput, lelet sekali kau, ceroboh!"


Ajeng bangkit sambil meringis, kakinya terkilir, namun ia sudah sangat geram degan Ferland.


*Plakk* *Bukk*


Ajeng menampar dan menonjok pipi Ferland.


"Jika membenciku setidaknya jangan bertindak kasar, atau ku patahkan lehermu." Geram Ajeng, tertatih ia berjalan sambil memegangi kakinya yang terkilir menuju kamarnya.